Unhealthy Relationship || Twentieth

7.8K 467 42
                                        

Warning!
Part ini mengandung banyak sekali typo!
Happy Reading!
°°°°°

















Isak tangis terdengar sangat pilu, tiba-tiba saja Ravin berjongkok, dia menyembunyikan wajahnya di atas lipatan tangan. Dia segan, melihat reaksi yang ditunjukkan kekasihnya membuat hatinya tertusuk oleh ribuan jarum. Begitu sakit.

"Kenapa lo kayak kaget gitu? Ini ulah lo, Jay ... Ulah lo! Seharusnya reaksi lo biasa saat liat kondisi gue, seharusnya lo ngancam gue--- bukan kayak gitu! Gara-gara lo, Jay! Ini semua gara-gara lo!"

Suaranya terdengar lirih, angin sepoi-sepoi menerpa surai yang terlihat lepek. Mendengar setiap tutur kata yang Ravin katakan beberapa saat lalu berhasil membuat hati Jay mencelos seperti ditusuk oleh ribuan jarum, suara derasnya aliran air sungai mengisi keheningan di atas jembatan.

Hatinya berkata meminta jay untuk segera mendekati Ravin dan membawa tubuh lelaki manis itu ke dalam rengkuhan hangatnya namun, egonya berkata lain memintanya untuk tetap diam di tempat. Tunggu, Jay tersadar oleh sesuatu, ia merasakan sesuatu mengganjal. Jay tidak bisa menggerakkan tubuhnya barang sedikitpun, bibirnya pun terasa kelu seolah terkunci tidak bisa digerakkan apalagi mengeluarkan sepatah kata.

Dahinya mengernyit bingung, apa yang terjadi pada tubuhnya? Mengapa tidak bisa digerakkan sedikitpun? Lelaki si penggemar Moomin itu mendongak memandang Jay yang kebingungan. Napasnya terdengar memburu terbukti dengan dadanya yang naik turun, "Lo harus terima akibat dari semua perbuatan lo!" desis Ravin tajam.

"Jeruji besi aja rasanya gak akan cukup buat gue, Jay!" Ia berdiri dari posisinya. Rasa dingin serta nyeri akibat angin melewatinya terasa begitu kentara menyebabkan rintisan sakit ke luar dari belah bibirnya di iringi setiap kencangnya embusan anila. "Lo harus rasain apa yang gue rasain, lo harus mati malam ini juga supaya populasi cowok berengsek di dunia ini berkurang!"

Kebingungan yang dirasakan Jay akibat tubuhnya yang tidak bisa bergerak teralihkan oleh perkataan Ravin, dia mengalihkan pandangannya dari bawah ke arah Ravin. Apa maksudnya? Entah mengapa Jay tersinggung dengan ucapan Ravin yang mengatainya 'cowok berengsek' padahal ia sudah sering mendengar kata itu dari mulutnya dan juga Harland.

Seluruh tubuhnya terasa lemas serta kedua kakinya yang sudah seperti jelly, tatapan mata Ravin tidak teralihkan sedetikpun dari wajah Jay. Ia membawa kakinya untuk bergerak mendekati lelaki itu, cara jalannya tampak seperti zombie karena setiap detiknya--- tenaga yang dia miliki berkurang.

Jay ingin berbicara membalas setiap ucapan Ravin, sekuat tenaga ia lakukan agar bisa mengeluarkan sepatah kata pun namun hasilnya nihil. Ia merasa seperti ada sesuatu yang mengontrol pergerakannya, semuanya terasa berat sebab ia tidak bisa melakukan apa pun.

Jarak antara Jay dan Ravin semakin dekat, melihat kondisi Ravin yang seperti itu benar-benar sama persis seperti zombie. Jay bergidik ngeri melihatnya akan tetapi, tak menutup kemungkinan jika ia merasa bersalah melihat bagaimana kondisi tubuh kekasihnya sekarang, apalagi ketika suara desisan sakit terdengar.

Atmosfer di atas jembatan terasa dingin juga panas dalam bersamaan, Jay melihat sesuatu yang berbeda di kedua mata Ravin. Lelaki manis itu berhenti melangkah setelah dirasa jarak mereka cukup dekat, tiba-tiba saja sudut bibir Ravin tertarik membentuk senyum simpul. "Hi, Jay ... Lo udah puas?"

Sapaan serta wajah sumringah yang tiba-tiba muncul diwajah Ravin mengundang tatapan heran dalam diri Jay. Ada apa dengan Ravin? Apa kekasihnya ini sudah gila? Wajah menyedihkan yang dia tunjukkan beberapa saat lalu hilang dalam sekejap digantikan dengan ekspresi seperti itu.

"Puas kasih gue penderitaan yang gak ada ujungnya? Apa dendam lo udah sama gue udah berakhir? Dendam yang sama sekali gak gue tahu alasannya apa---" Ravin tertawa kecil. "Hehe, gue harap udah, ya? Sekarang giliran gue yang balas dendam."

Unhealthy Relationship ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang