Warning!
Part ini mengandung banyak sekali typo!
Happy Reading!
°°°°°
Burung-burung beterbangan bebas di langit biru yang cerah, sang surya menyinari sebagian bumi dengan begitu terik. Kendaraan di jalan raya sangat padat mencemari udara dengan asap kenalpot, jarum jam menunjukkan pukul setengah satu siang.
Cuaca sedang panas-panasnya begini sepertinya enak kalau meminum yang dingin dan segar. Di sebuah apartemen tepatnya di ruang tengah, terlihat dua orang remaja sedang duduk di sofa saling berhadapan.
Seharian ini Jay bolos sekolah, bahkan tubuhnya sudah berganti pakaian menjadi pakaian santai, sementara celananya masih menggunakan celana sekolah. Kedua manik elang itu memandang teliti tangannya yang bergerak pelan di atas kulit tangan Ravin yang melepuh.
Dia sedang mengoleskan salep resep Dokter pada luka tersebut yang di berikan tiga kali dalam sehari, rintisan kecil yang sedari tadi dia tahan akhirnya terdengar membuat pergerakan Jay terhenti saat itu juga.
"Perih, sakit," gumam lelaki manis itu.
Jay mendengus pelan, "Sorry. Gue akan lebih hati-hati," imbuhnya kemudian melanjutkan pekerjaan nya yang belum sepenuhnya selesai.
Dia kembali menggerakkan tangannya di atas luka itu, meratakan salep dengan penuh ke hati-hatian seolah takut terjadi sesuatu yang lebih parah lagi setelah ia tak sengaja menekan sedikit lukanya. Mendengar itu Ravin terdiam, ini pertama kalinya dia mendengar kata maaf dari mulut Jay, entah dia sadar atau tidak saat mengatakannya--- yang pasti membuat Ravin merasa aneh.
"Gue gak akan pernah minta maaf sama lo sampai kapan pun, karena semua yang gue lakuin itu udah bener."
Kalimat tersebut tersimpan rapi di otak kecilnya. Tidak ada yang harus di benar kan dengan perlakuan Jay selama ini, semuanya salah, Jay salah, tetapi dia tidak ingin mengakuinya dan selalu menganggap benar apa yang dia lakukan.
"Jay, sadar gak lo ngomong gitu?" tanya Ravin, dia mendongak menatap wajah blasteran lelaki jangkung itu.
"Sadar, kenapa? Lo ngerasa aneh sama permintaan maaf gue?" Jay menebak tanpa menatap Ravin, dia masih fokus mengobati luka fisik yang dia berikan. "Wajar, sih, lo ngerasa aneh, karena gue sering bilang kalau gue gak akan pernah minta maaf sama lo sampai kapan pun," lanjutnya.
"Gak usah di maafin, gue gak butuh."
Jay menarik tangannya agar tak menyentuh luka Ravin lagi, dia mengambil salep baru yang ada di atas meja kemudian membukanya. Dia turun dari sofa dan mendudukkan bokongnya di atas karpet bulu, tangannya beralih mengobati luka bagian kaki.
Lelaki manis itu termenung dengan kedua mata yang memandang tangan Jay, ia tidak terlalu memikirkan tentang permintaan maaf Jay barusan. Ravin masih bingung alasan di balik ini semua, dia bingung dengan sikap Jay padanya.
"Lo pemberi luka tapi lo juga yang mengobati luka itu, Jay," batin Ravin berbicara mengatakan kalimat yang sama, yang sering dia katakan setelah Jay memberikannya luka. "Jay, gue pernah dapet pesan dari seseorang tentang alrsan lo jadiin gue pacar."
"Gue salah apa sama lo dulu? Gue kenal sama lo juga waktu SMA, gue ngerasa gue gak pernah lakuin sesuatu yang menimbulkan dendam di hati lo. Kenapa gue percaya gitu aja sama pesan itu?"
"Di liat dari perlakuan lo ke gue selama ini, itu udah sangat jelas. Tapi Jay ..., kenapa lo tega ngelakuin itu? Dendam lo udah keterlaluan, lo nyakitin fisik dan mental gue sekaligus!!"
Tanpa sadar Ravin meremat celana yang dia gunakan. Lagi, pekerjaan Jay harus tertunda begitu sudut matanya tak sengaja melihat objek itu. Kepalanya mendongak menatap sang kekasih yang melamun, Jay diam dengan salah satu alis yang terangkat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unhealthy Relationship ✓
Teen Fiction[ Baru direvisi sebagian! ] [ BxB, Toxic Relationship, 17+ ] Sebelumnya, Ravin tidak pernah menduga jika ia akan terjebak dalam hubungan tidak sehat, serta obsesi gila sang pujaan hati. Niat awal Jay menjadikan Ravin kekasihnya adalah karena dia yan...
