Unhealthy Relationship || Nineteenth

6.7K 403 3
                                        

Warning!
Part ini mengandung banyak sekali typo!
Happy Reading!
°°°°°


Sore telah tiba, murid-murid SMA 2 Neo telah membubarkan diri setelah bel berbunyi menandakan jam belajar mereka sudah berakhir dan akan disambung di kemudian hari. Seorang remaja lelaki menginjakkan kedua kakinya di bangunan yang selama ini menjadi saksi dirinya tumbuh dari bayi hingga remaja.

Tempat berteduh yang sangat nyaman dikelilingi oleh orang-orang baik serta orang tua yang menyayangi anaknya tanpa tuntutan apa pun. Hazel menginjakkan kaki yang masih memakai sepatu itu ke dalam rumah. Wajah remaja itu terlihat tegang sejak insiden beberapa jam lalu terjadi, keringat dingin terus bercucuran tanpa henti serta tubuhnya yang sedikit gemetar jika dilihat lebih teliti.

Rasa bersalah menyeruak memenuhi dadanya, sekelebat kalimat terus berucap di kepalanya tanpa Hazel inginkan. Kondisi rumah tampak sepi, orang tuanya pasti belum pulang bekerja sementara pekerja rumah lainnya sedang melakukan tugas mereka.

"Bodoh, kamu bodoh, Hazel. Temanmu tersiksa, dia kesakitan, dia butuh pertolongan sementara kamu hanya diam dengan tawa lebar tanpa berniat untuk menolongnya. Kamu bahagia di atas penderitaan temanmu yang terus merintih kesakitan!"

Segera Hazel menggelengkan kepalanya ribut ketika kalimat yang seolah menyudutkan dirinya itu terdengar, dia mempercepat langkahnya agar segera sampai ke kamarnya yang terletak di lantai 2. Tidak! Dia tidak bermaksud berlaku demikian, dia sangat ingin menolong dan melaporkan tindakan kekerasan itu, namun ...

Namun Hazel tidak bisa melakukannya. Lelaki berkulit tan itu membuka pintu kamar serta menutupnya tak santai. Dia memegang kedua sisi kepalanya dengan badan yang perlahan luruh ke bawah, punggungnya menempel pada pintu. Jari jemarinya meremet rambutnya sendiri untuk menyalurkan kegelisahan yang muncul sedari tadi.

Napasnya terdengar tak normal serta kedua matanya yang bergerak ke sana kemari. Sekelebat isak tangis mulai terdengar dikepalanya, siapa? Siapa itu? Hazel tidak menangis namun kenapa suara isakan tersebut terdengar memenuhi indra pendengarannya, tangisan lirih itu berhasil menyayat hatinya.

"Jahat, lo jahat ... Gue sakit, Zel ... Seluruh tubuh gue sakit! Gue kesakitan ... Hazel, bantu gue, Zel, jangan diam aja! Gue mohon ..."

Ravin? Satu nama yang berhasil Hazel tangkap setelah suara itu tidak terdengar lagi. Tak lama dari itu, tarikan pada rambutnya terganti menjadi pukulan. "Pergi, Ravin! Pergi! Pergi dari kepala gue sekarang juga! Gue bakal bantu lo tapi gak sekarang, gue gak berani, Vin, enggak ... Gue butuh waktu, g-gue---" Dia berhenti berbicara.

Tarikan pada rambutnya perlahan lepas, tubuhnya semakin luruh sampai ia merasakan dingin pada kulitnya yang terbalut celana seragam sekolah. Kepalanya lunglai ke bawah, Hazel menunduk memandang sepatu hitamnya dengan tatapan kosong.

"G-gue di ancam." Tepat setelah Hazel mengatakan tiga kata itu secara lirih, getaran pada ponselnya terasa. Hazel mengambil gadget yang selama ini menjadi alat elektronik untuk berkomunikasi yang tersimpan dibalik saku celana.

Bibirnya bergetar, giginya bergemelutuk, serta tangannya terus bergerak tanpa bisa dikontrol olehnya. Pesan yang dikirim nomor asing itu terpampang jelas di layar lockscreen nya, entah sudah yang ke berapa kali Hazel memblokir nomor asing berisikan ancaman.

Pada hari itu, semenjak dirinya memergoki sikap kasar Jay kepada temannya, ia sering mendapatkan pesan dari nomor asing yang berisikan ancaman. Entah dari angka-angka seperti itu atau langsung ke intinya, itulah alasan yang membuat Hazel memilih untuk diam dibandingkan buka suara.

Hazel tidak tahu pasti alasan seperti apa yang membuat Jay harus bersikap sekasar itu pada Ravin, ia memergoki kedua di gudang belakang setelah jam olahraga berakhir. Saat itu, Hazel berpisah diri dengan Ravin karena temannya itu yang tiba-tiba saja ditarik oleh Jay pergi dari lapangan meninggalkan ia dan Marva yang masih meluruskan kaki ditepi lapang.

Unhealthy Relationship ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang