[ Baru direvisi sebagian! ]
[ BxB, Toxic Relationship, 17+ ]
Sebelumnya, Ravin tidak pernah menduga jika ia akan terjebak dalam hubungan tidak sehat, serta obsesi gila sang pujaan hati. Niat awal Jay menjadikan Ravin kekasihnya adalah karena dia yan...
Warning! Part ini mengandung banyak sekali typo! Happy Reading! °°°°°
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Atmosfer di sebuah kamar apartemen terasa begitu panas dan sesak, jari jemari yang memegang benda pintar itu bergetar hebat tak bisa di kontrol oleh si pemiliknya. Dadanya naik turun dengan napas yang memburu, seragam sekolah yang masih terpasang apik di tubuhnya terlihat basah serta kulit putih bersih itu nampak memerah.
Setelah berbelanja bulanan di mall, Ravin tidak jadi pulang dengan Hazel karena tiba-tiba saja kekasihnya itu berada di lobby seorang diri. Hazel meninggalkan nya karena dia mengira kalau Jay menjemputnya untuk pulang.
Lelaki blasteran itu langsung saja menarik Ravin ke mobil yang dia bawa. Penyebab kulit Ravin memerah itu, saat tak lama mereka sampai di apartemennya tiba-tiba saja Jay menyiramnya dengan air panas membuat semua kulitnya bukan hanya sekedar memerah tetapi juga melepuh.
Ravin tidak tahu pasti kapan di apartemennya ini terdapat air panas? Seingatnya, ia tidak pernah menyimpan air panas di mana pun. Jika membutuhkannya ia akan membuatnya mendadak.
Flashback on.
Kedua mata itu terpejam diselingi kepulan asap terlihat yang berasal dari tubuhnya. Sial! Ini sangat panas, seperti air mendidih yang baru saja di matikan apinya. Kedua tangannya mengepal, Ravin berniat beranjak. Ia buruh air dingin kalau perlu dia butuh berendam di tumpukan batu es yang sangat banyak agar rasa panas yang mejalar di seluruh tubuhnya hilang.
Perih, rasa itu mulai Ravin rasakan setelah beberapa detik Jay menyiramnya bagaikan sebuah tanaman. Lelaki manis si penggemar moomin itu tidak berani membuka kedua matanya yang terpejam walau hanya satu detik saja.
"Mau kemana, sayang? Ini baru awal," Suara yang sangat dia benci mengalun bebas di kedua telinganya, mungkin selama ini Ravin masih bisa menahan kebenciannya agar tak terlalu dalam meskipun sudah banyak sekali luka yang di torehkan oleh pria itu.
Namun, tidak dengan sekarang. Ini sudah sangat keterlaluan, lelaki itu adalah iblis. Iblis berkedok manusia! Jay tersenyum smirk saat mendapati kekasih manisnya tak merespon apa pun dari pertanyaannya.
"Kenapa diam? Gue nanya, loh?" Jay melangkahkan kedua kakinya berjalan mendekati Ravin, "Lo mau lagi? Kebetulan, masih ada tersisa setengah ember kecil lagi." Dia melanjutkan perkataan nya.
"Pergi!" pekik Ravin menyentak, sembari menahan rasa perih di sekujur tubuhnya. "PERGI DARI HADAPAN GUE ANJING! ARGH!" Emosi yang Ravin tahan terlepas begitu saja, dia mengambil benda apa pun yang berada di sekitarnya kemudian melemparkan nya pada Jay.
Sang empu mengangkat sebelah alisnya, seringai lebar semakin nampak di wajah tampannya. Dia mencoba menghindari lemparan acak yang di lakukan Ravin untuknya, Jay berhasil meraih tangan lelaki manis itu dan menghentikan aksinya.
"Lepas." Ravin memberontak, kedua mata yang semula terpejam kini terbuka menampilkan warna mata yang putih itu kini memerah.
"LEPAS JAY!" teriak Ravin di hadapan wajah empunya, sekuat tenaga dia berusaha mencoba melepaskan cekalan Jay dari tangannya dan---- gotcha! Dia berhasil.