Unhealthy Relationship || Third

12.1K 650 6
                                        

Warning!
Part ini mengandung banyak sekali typo!
Happy Reading!
°°°°°

"Ngerjain tugas apa lo, Zel?" Ravin baru saja tiba di kelasnya seorang diri, dia langsung bertanya saat melihat Hazel yang berkutat dengan buku catatan. Ia tidak berangkat bersama Jau seperti biasa, pria itu tidak memberinya kabar sama sekali setelah kepergiannya semalam.

Ravin segera duduk di bangkunya yang kosong, gendongan tasnya dipunggung tidak dia lepaskan. "PR matematika—" Hazel menengok sejenak ke arah Ravin, keur mengalihkannya lagi sambil melanjutkan katanya. "Udah belum lo?"

Mendengar itu, seketika, dahi Ravin mengernyit. "Matematika? Emangnya ada PR ya, Zel? Seinget gue gak ada, deh," balas Ravin.

Kawan Ravin itu seketika berhenti menulis, ia menolehkan kepalanya lagi ke belakang— menatap temannya yang diam. "Ada. Coba lo cek lagi di buku, dikumpulin hari ini jam pertama," imbuh Hazel. Dia kembali melanjutkan kegiatannya.

Segera— Ravin lepaskan tasnya dari punggung. Ia mengobrak-abrik tasnya untuk mengambil buku pelajaran yang dimaksud. Tiba-tiba saja, kedua alisnya saling berpaut satu sama lain saat tak mendapati buku yang menjadi tujuan ia membuka tas. Ravin coba lagi, mencari dengan benar dan teliti. "Ketinggalan, kah?" terkanya dalam hati.

Setelah mengatakan itu, Ravin tak melanjutkannya, sebab, ia sangat yakin kalau tebakannya benar karena buku catatan itu tidak ada di tas. "Zel, soal sama jawabannya panjang-panjanh gak?" tanya Ravin, mendongak melihat punggung Hazel. "Kayaknya, buku matematika gue ketinggalan," sambungnya.

"Lah? Kok, bisa ketinggalan, sih, Vin?" Sang empu menggelengkan kepala pelan. "Soalnya dikit, tapi, jawabannya lumayan panjang. Kalau mau ngerjain, pake buku lain. Tapi, gue gak yakin bakal selesai cepet," lanjut Hazel.

"Gak tahu gue juga, perasaan semalem udah gue masukin ..." Akhirnya, Ravin memutuskan untuk mengambil buku lain serta bolpoin. Tak lupa juga dia mengambil ponselnya untuk memotret isi buku Hazel, tetapi ia urung saat mendapat notifikasi pesan dari Jay.

[Abaikan Jam]

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

[Abaikan Jam]

Sang empu terdian sejenak, sebelum menghela napas panjang dan menyembunyikan wajahnya di lipatan tangan di atas meja. Benda pipih itu ia simpan dengan posisi terbalik— haruskah, Ravin merelakan dirinya untuk menerima hukuman guru matematika yang terkenal galak itu.

Di detik berikutnya, pikirannya dibuat kosong saat ia teringat akan olimpade yang akan dilaksanakan delapan belas hari lagi. Olimpiade terakhir yang harus Ravin ikuti untuk mengharumkan nama sekolah karena ia yang sudah kelas dia belas— yang akan segera dihadapkan ujian sekolah. "Pak Jeje belum kasih gue materinya. Belum ada kabar juga dari beliau .. apa nanti istirahat gue ke ruang guru buat tanyain?" batin Ravin.

"Iya, gue harus tanyain. Delapan belas hari bukan waktu yang panjang buat persiapkan semuanya."

Selang beberapa menit kemudian, bel berbunyi begitu nyaring seantero sekolah. Murid-murid yang berada di luar kelas segera masuk ke dalam kelas masing-masing dan menunggu guru mata pelajaran datang untuk mengajar. Hazel merenggangkan tubuhnya yang terasa agak pegal, akhirnya, dia bisa bernapas juga usai menyelesaikan PR matematika yang belum dia selesaikan semuanya di rumah.

Unhealthy Relationship ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang