[ Baru direvisi sebagian! ]
[ BxB, Toxic Relationship, 17+ ]
Sebelumnya, Ravin tidak pernah menduga jika ia akan terjebak dalam hubungan tidak sehat, serta obsesi gila sang pujaan hati. Niat awal Jay menjadikan Ravin kekasihnya adalah karena dia yan...
Warning! Part ini mengandung banyak sekali typo! Happy Reading! °°°°°
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jay memandang mawar hitam itu tanpa berkedip sedetik pun, netranya menunjukkan tatapan yang sulit di artikan. Perasaan tak nyaman akan terjadi sesuatu besar padanya, sudah dia rasakan sebelum kepergian Ravin. Jay mengusap bunga itu dengan perlahan, kedua matanya sedikit memerah serta sebuah lingkaran hitam di bawah matanya terlihat samar.
Dia kurang tidur, setiap kali ia memejamkan mata, mimpi itu selalu datang silih bergantian. Rasa bersalah semakin lebar membuat keteguhannya untuk terus mencari keberadaan Ravin semakin besar. Sudah hampir sebulan pencarian tanpa henti terus Jay lakukan bersama Harland, lelaki manis itu benar-benar pandai bersembunyi sampai tak meninggalkan jejak sedikit pun.
"Lo kayak laut ya, Jay? Indah, mempesona, disukain banyak orang tapi nyakitin."
Kalimat yang dilontarkan Ravin untuknya dalam mimpi tadi malam mulai terdengar, Jay tersenyum tipis menanggapi. "Gue gak peduli lo mau bilang gue kayak apa, yang pasti ... Gue cuman mau minta maaf sama semua perlakuan gue, gue mau ketemu lo ... Menebus semua kesalahan gue tanpa terkecuali sekalipun lo minta gue buat sujud di bawah kaki lo, bakal gue lakuin kalau emang itu bisa bikin lo maafin gue."
Atmosfer di kamar Jay terasa semakin sejuk seusai ia mengatakan kalimat panjang itu. Jarum jam berdenting mengisi keheningan, tiba-tiba saja Jay berdiri dari duduknya. Ia menyimpan setangkai mawar hitam itu di atas nakas kemudian mengambil kunci motor. Di luar sana angkasa masih menunjukkan berwarna jingga, burung-burung beterbangan bebas diselingi suara kicauannya yang merdu.
Jay berniat kembali mencari keberadaan Ravin dengan mengelilingi kota, siapa tahu ia bertemu kekasihnya itu di jalan karena Jay yakin, kalau lelaki manis itu masih berada di kota yang sama dengannya. Namun, saat akan menuruni anak tangga, suara sang Papi menginstruksi membuat langkahnya seketika berhenti.
"Mau kemana?" Pertanyaan dilontarkan dengan suara yang terdengar seperti sedang menahan amarah itu menyapa indra pendengaran Jay.
Sang empu memutar bola matanya malas, dia sedang malas bertengkar dengan pria paruh baya itu. "Ke luar, cari angin," jawabnya.
"Gak usah keluyuran gak jelas kamu! Lebih baik kamu bantuin Papi urusin masalah kantor!" seru Papi Jay sedikit sarkas.
"Gak mau. Itu urusan Papi, bukan Jay. Lagi pun Jay gak tahu apa-apa soal masalah kantor dan gak ada urusannya sama aku!" Dengan tegas remaja itu menolak.
Jawaban yang diberikan Jay barusan berhasil membangkitkan amarah yang sedari tadi beliau tahan. Sudah semingguan ini memang perusahaan yang ia pimpin tengah mendapatkan masalah, masalah tentang perusahaan-perusahaan besar yang memutuskan kontrak kerjasama mereka begitu saja tanpa ada persetujuan darinya.
Padahal ia sudah bersusah payah mengambil hati mereka agar mau bekerjasama namun, perjuangannya hanya dapat ia nikmati sementara. Apalagi, ia tengah menyiapkan proyek yang besar dan membutuhkan dana yang tak sedikit.