Warning!
Part ini mengandung banyak sekali typo!
Happy Reading!
°°°°°
Dua minggu telah berlalu setelah insiden itu, kini kondisi Ravin sudah mulai membaik. Lukanya sudah hampir sembuh dan tersisa bekasnya saja yang bisa ditutupi oleh kosmetik. Selama dua minggu itu pula, hubungannya dengan Jay damai tanpa pertengkaran seperti sebelumnya yang kerap kali terjadi.
Entah, sudah ke berapa kalinya dalam dua minggu itu Ravin mendapatkan pesan dari seseorang tentang kesibukan Jay di luar sana. Yang pasti kesibukan yang Jay lakukan bukan menjerumus ke hal positif melainkan negatif, dan Ravin diam tidak mencoba untuk mengungkit hal tersebut.
Ravin menunduk, sudah dua minggu pula ia tidak berangkat sekolah karena kondisinya. Tangan Ravin terangkat melepaskan sebuah benda yang selama ini sering dia pakai, kedua matanya memandang selama beberapa saat ke kalung pemberian Jay kemudian beralih melepaskan cincin yang melingkar cantik di jari manisnya.
"Ini udah waktunya Jay, setiap manusia pasti ada batas sabarnya. Tolong, jangan coba cari keberadaan gue kemanapun. Gue pengen hidup tenang tanpa siksaan, pengkhianatan, dan kebohongan yang lo berikan ...," lirihnya.
Lelaki manis itu berdiri dari duduknya, ia berjalan beberapa langkah ke depan agar lebih dekat dengan posisi nakas. Ravin menyimpan cincin serta kalung itu ke atas nakas, "Cukup sampai di sini. Gue udah kenyang sama ini semua, jangan di tambahin lagi," lanjutnya.
Hari ini adalah hari di mana Ravin akan segera melaksanakan rencananya untuk pergi dari kehidupan Jay. Ia sudah siap dengan pakaian santainya dan sebuah rompi berwarna cream, Ravin sudah memikirkan ini matang-matang dari jauh hari.
Ia sengaja melarikan diri pada siang hari, Ravin tidak akan membawa apa pun yang membuat keberadaannya gampang terlacak. Ponsel akan dia tinggalkan di apartemen, ia akan menaiki kendaraan umum dan sudah memegang uang cash yang sekiranya akan dia butuhkan selama beberapa hari ke depan.
Ketika dia membutuhkannya lagi, Ravin akan mengambilnya lagi ke bank. ATM yang dia pegang adalah milik bundanya, bukan ATM yang biasa digunakan, benda itu dapat di akses di ponsel Jay juga.
Sementara milik bundanya tidak. Setelahnya, Ravin mengambil sebuah ransel yang berisikan dua setel pakaian baru. Ia benar-benar menyiapkan semuanya dengan matang, "Selamat tinggal, Jay." Tanpa berlama-lama lagi, ia beranjak pergi keluar kamar meninggalkan tempat yang memiliki banyak sekali kenangan menyakitkan.
Tempat yang seharusnya menjadi tempat tinggal yang nyaman justru bagaikan sebuah neraka dunia yang diciptakan seseorang. Seseorang yang selama ini dia anggap baik ternyata hanyalah sebuah topeng, konon, jangan mudah terpengaruhi oleh cover yang terlihat bagus.
Anggap saja seperti sebuah rumah yang tampak biasa saja kalau dilihat dari segala sisi namun indah bagaikan sebuah istana jika dilihat dari dalam atau justru sebaliknya. Pilihlah pasangan yang tepat, kenali luar dalam gebetan kamu, jangan mudah terpengaruh hanya karena imagenya yang bagus seperti yang dia tunjukkan di banyak orang.
°°°°°
"Jay, si Ravin masih belum sembuh juga? Ini udah dua minggu dia gak masuk," tanya Hazel.
Saat ini, anak-anak kelas 12 sedang melaksanakan ujian praktek. Setiap harinya pasti ada saja tugas yang harus diselesaikan tepat waktu dan tidak boleh nunggak, jika nunggak nilainya akan dikurangi 20 poin. Dan, ujian praktik ini baru dimulai sekitar 3 harian.
Sang empu menolehkan kepalanya ke sumber suara. "Udah mulai mendingan tapi masih harus banyak-banyak istirahat," jawab Jay beralasan tanpa ingin memberitahu yang sebenarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unhealthy Relationship ✓
Novela Juvenil[ Baru direvisi sebagian! ] [ BxB, Toxic Relationship, 17+ ] Sebelumnya, Ravin tidak pernah menduga jika ia akan terjebak dalam hubungan tidak sehat, serta obsesi gila sang pujaan hati. Niat awal Jay menjadikan Ravin kekasihnya adalah karena dia yan...
