Warning!
Part ini mengandung banyak sekali typo!
Happy Reading!
°°°°°
Di sebuah rumah berlantai dua tepatnya di ruang tengah, terlihat seorang wanita paruh baya terus berjalan mondar-mandir di depan televisi. Wanita itu tampak begitu cemas, sudah hampir seminggu Jay tidak pulang ke rumah bahkan ia sudah menanyakan tentang keberadaannya kepada teman-teman Jay.
Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang mengetahuinya. Ponselnya pun tidak bisa dihubungi bahkan sudah dilacak akan tetapi, titik terakhir lokasinya itu berada di apartemen yang ditinggali oleh Harland. Ponselnya terjatuh sedangkan si pemiliknya entah berada di mana.
Ia juga sudah melapor kepada polisi tentang menghilangnya seorang anak, sampai sekarang pun belum ada pemberitahuan lebih lanjut dari pihak berwenang. Belum lagi perusahaan yang tengah dipimpin oleh suaminya sedang terjang badai yang membuat keuangan mereka tidak stabil.
Tidak lama kemudian terdengar suara bel berbunyi, Mami Jay yang mendengar itu berhenti sejenak sebelum beranjak pergi dari ruang tengah untuk melihat siapa yang datang. Kerutan di dahi Mami Jay terlihat jelas ketika melihat keberadaan polisi di depannya, apa mereka telah menemukan keberadaan putranya?
"Selamat siang, Pak. Apa kedatangan Anda kemari sudah menemukan keberadaan putra saya?" tanya Mami Jay, kedua matanya memancarkan sebuah harapan.
Polisi itu menggeleng, harapan yang Mami Jay taruh beberapa saat lalu seketika pupus. "Tidak Nyonya, putra Anda masih dalam pencarian tim kami. Kami datang ke sini hanya untuk meminta Nyonya dan Tuan datang ke kantor polisi karena kalian tidak bisa dihubungi," jawabnya.
"Tujuan kalian meminta kami ke sana untuk apa, Pak?" imbuh Mami Jay. "Untuk membahas tentang tindakan kriminal yang telah anak Anda lakukan. Saya mendapat laporan dari seorang pria tentang hal itu disertai bukti yang dibawanya."
Sedangkan dilain tempat, lelaki bermata indah juga bulu matanya yang lentik tengah merenung seorang diri di tepi danau. Tangan mungilnya terus bergerak melempari kerikil ke arah danau tersebut, jarum jam menunjukkan pukul setengah 3 sore.
Semilir anginnya menghembus kencang menciptakan rasa sejuk, ia berada di sini sejak setengah jam yang lalu. Suasananya pun terasa sangat menenangkan namun tidak bisa membuat pikirannya diam meski hanya sedetik. Memikirkan seseorang yang seharusnya tidak perlu dia pikirkan.
Ravin menghela napas pelan, semenjak obrolannya semalam dengan Hazel yang membicarakan soal Jay yang menghilang, entah mengapa membuat perasaannya tidak tenang. Seharusnya Ravin tidak boleh seperti ini, seharusnya ia tidak peduli dengan menghilangnya lelaki itu.
Flashback on.
Notifikasi telepon dari Hazel muncul di atas layar ponselnya, Ravin yang tengah menonton kartun Moomin— dengan terpaksa menghentikan kegiatannya sejenak, meluangkan sedikit waktu untuk Hazel yang tiba-tiba saja menghubunginya.
Jari jempolnya menggeser ikon hijau menandakan jika ia menerima. Sambungan telepon terhubung, baru juga Ravin mendekatkan ponselnya ke telinga namun oknum di seberang sana langsung nyerocos seperti bebek. "Vin! Tahu gak, sih? Gue——"
"Gak tahu!" Perkataan Hazel yang belum selesai diucapkan, dipotong begitu saja oleh Ravin. Mungkin anak itu merasa kesal karena Hazel menghubunginya tanpa memberitahu. Ia sedang tidak ingin diganggu. Ia ingin menikmati waktu luangnya dengan menonton Moomin tanpa ada gangguan dari siapapun.
Keluarganya saja sudah dia wanti-wanti agar tidak datang ke kamarnya. Hazel mendengus samar. "Gue sebelum selesai ngomong, Vin! Udah lo potong aja!" protes Hazel.
"Dengerin dulu makanya jangan main potong gitu aja," sambungnya. "Ya, maaf, lagian lo ngapain, sih, telepon tanpa bilang dulu? Gue lagi gak mau diganggu.," sanggah Ravin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unhealthy Relationship ✓
Teen Fiction[ Baru direvisi sebagian! ] [ BxB, Toxic Relationship, 17+ ] Sebelumnya, Ravin tidak pernah menduga jika ia akan terjebak dalam hubungan tidak sehat, serta obsesi gila sang pujaan hati. Niat awal Jay menjadikan Ravin kekasihnya adalah karena dia yan...
