Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
My Bro🖤 |just go home right now |tapi hati-hati, gak usah ngebut
Setelah membaca pesan itu, Dita langsung membereskan barang-barangnya dan berpamitan pada Nadine, Kanaya dan Regina. Kebetulan keempat gadis ini tengah mengerjakan tugas kelompok, karena terlalu fokus pada tugas, Dita tidak menyadari ada 5 panggilan tak terjawab dari Julio. Alhasil, Julio mengiriminya pesan.
"Hati-hati di jalan, Ta." ucap Regina, setelah memastikan mobil Dita menghilang dari pandangan, Regina kembali masuk menghampiri Nadine dan Kanaya.
Sementara Dita sendiri, dirinya membagi fokus antara mengemudi dan juga memikirkan alasan kenapa Julio menghubunginya bahkan sampai menyuruhnya pulang. Biasanya, Dita akan pulang sesuka hati, karena memang pada dasarnya Dita tidak pernah pulang melewati batas waktu wajar.
Dita mendesah pelan, semoga tidak ada hal-hal yang tak di inginkan.
Setelah perjalanan singkat, Lexus yang dikendarainya mulai memasuki pekarangan rumah. Begitu sampai, Dita langsung di suguhkan pemandangan yang membuat alisnya mengerut.
Ada beberapa mobil asing yang terparkir di halaman rumah, dia juga melihat beberapa orang berbadan tegap dengan setelan jas, kemeja hitam lengan panjang juga ada disana. Siapa mereka?
Dita melewati orang-orang asing itu dan langsung memasuki ruang utama rumahnya. Disana sudah ada Julio dan juga kedua orangtuanya. Tak hanya tiga orang itu, beberapa orang dengan pakaian yang serupa juga hadir dalam ruangan utama.
Menyadari akan presensi sang adik, Julio lantas menghampiri Dita.
"Kak, ini ada apa? Kenapa ada banyak orang disini?"
Cukup lama Julio menggantung pertanyaan Dita, tak ada jawaban yang Dita dapat selain tatapan sedih dari kakaknya.
"Kak? Kenapa?"
Atensi Dita kemudian teralihkan pada kedua orangtuanya, dua orang berpakaian hitam itu menggiring ayahnya.
"Daddy!" panggil Dita.
"Kalian mau bawa Daddy kemana?"
Dita sudah mendekat, menghadang dua orang yang sudah bersiap membawa ayahnya pergi. Namun sebelum mendapatkan jawaban, tubuh Dita sudah di tarik paksa oleh Julio, seolah Julio dengan ikhlas membiarkan dua orang asing itu membawa sang ayah.
Bahkan sang ibu juga membuntuti kemana ayahnya dibawa.
"Mommy! Daddy! Kalian mau kemana?" teriak Dita lagi, "Hey! Let go of my Daddy!"
"AUDITA!" sentak julio.
"KAK!? Mereka siapa? Kenapa mereka bawa Mommy sama Daddy? Dan kenapa lo diem aja? Sebenarnya ini ada apa?"
Sebelum menjawab, Julio merengkuh tubuh sang adik yang gemetar. Dia merasa bersalah karena tidak lebih dulu memberitahu Dita akan apa yang terjadi.
"Kenapa kak? Daddy kenapa?" lirih Dita.
"Maaf karena kakak nggak kasih tau kamu sebelumnya. Ternyata selama ini Daddy korupsi, dan orang-orang tadi... mereka anggota KPK."
"Rumah ini disita, semua barang-barang kita disita KPK."
Dita tertegun, "Impossible! Daddy gak mungkin kaya gitu."
"Daddy terbukti bersalah dengan jumlah korupsi yang gak sedikit. Mau gak mau, kita harus pergi dari rumah ini."
Dita sungguh tidak bisa mempercayai ini, bagaimana selama ini dirinya dihidupkan dengan uang yang tak sepatutnya dia makan. Semua harta benda dan fasilitas yang ada seumur hidup Dita, tidak pernah terpikirkannya sama sekali bahwa itu semua berasal dari jalan yang salah.
Ternyata selama ini keluarganya hidup dengan gelimang harta yang seharusnya dinikmati oleh orang lain.
"Kak," suara Dita terdengar lebih lirih dari sebelumnya, mana mungkin bisa dia menerima fakta mencengangkan ini begitu saja. Ini sangat tiba-tiba, semuanya hilang dalam sekejap, hilang dalam hitungan kedipan mata.
Bukan hanya soal harta, tapi Dita juga memikirkan nasib kedua orangtuanya. Dita berharap tuduhan itu tidaklah benar.
Sambil di temani Julio, Dita membereskan barang-barangnya. Mereka di haruskan pergi hari ini juga.
"Jangan khawatir, Mommy sama Daddy orang baik. Tuduhan dan bukti-bukti itu pasti palsu."
"Jangan pikirin apa-apa, masih ada gue. Semua pasti bakal baik-baik aja."
Manik Dita semakin berembun, tak pernah terbayangkan sebelumnya hidup seorang Audita akan berbalik 180 derajat seperti ini. Kemana mereka akan tinggal? Bagaimana hidup mereka sehari-harinya nanti? Uh, Dita tidak bisa membayangkan.