Javier duduk termenung di kursi rodanya, menatap langit mendung yang tak kunjung menumpahkan air.
Tak pernah terpikirkan olehnya, alur yang mereka hadapi akan berada di fase seperti ini.
Javier salah karena telah mengira kejadian yang menimpa keluarganya hingga membuat nyawanya nyaris melayang merupakan satu-satunya masalah terbesar.
Ragas ditahan dan harus merasakan dinginnya ubin sel. Lalu Diyaz, ini kali pertamanya Javier melihat kondisi Diyaz sampai seburuk itu. Javier meringis tiap kali terbayang wajah Diyaz dengan ventilator yang terpasang untuk membantunya bernafas. Sudah separah itu ternyata. Pikir Javier.
Sentuhan di pundak membuat Javier tersadar dari lamunan, dia menoleh dan mendapati Nadine sudah berdiri di sebelahnya.
"Kak, gue tau lo sedih, tapi inget kesehatan lo, jangan sampe ikutan drop." katanya dengan lembut. "Lo harus lebih kuat, Kak. Kalo lo ikutan drop, siapa yang bakal nemenin Kak Diyaz nanti? Dia butuh lo buat semangatin dia!"
Javier menggeleng pelan, "Gue... gak tau, apa yang harus gue lakuin. Ngeliat keadaan kita yang kaya gini, apa gak wajar kalau gue ngerasa sedih?"
"Gue gak bisa bantu Ragas ataupun Diyaz, gue gak bisa ngapa-ngapain."
Nadine menghela nafas, dia mengerti akan keresahan yang di rasakan Javier. "Kak, gak ada yang salah sama perasaan lo. Lo sedih, lo ngerasa gak berdaya, itu wajar."
"Tapi justru karena semua ini berat, lo gak boleh nyerah. Kita gak bisa bantu Kak Ragas sekarang, tapi kita masih punya waktu buat Kak Diyaz. Dia butuh lo, Kak."
Javier menunduk, mengusap wajahnya yang lelah.
"Dengan kesadarannya yang tersisa, gue tau Kak Diyaz nyesel banget karena udah bikin kita khawatir. Tapi justru dengan keadaan begini, lo harus lebih semangat lagi buat pulih, lo bisa bisikin kata-kata penyemangat buat Kak Diyaz."
Javier memejamkan mata, mencoba menenangkan hatinya yang kacau. Dia tahu Nadine benar. Akhirnya Javier mengangguk pelan, hanya bersedih dengan tanpa berbuat apapun adalah satu hal yang sia-sia.
Disisi lain, Kanaya tak pernah bosan menemani Diyaz, membisikkan kata-kata penyemangat, sekadar menjadi pelipur lara dan mengusir sedikit kesunyian yang menyelimuti ruangan itu.
Kanaya juga selalu membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an untuk Diyaz, berharap suara lembutnya bisa menjadi doa sekaligus wasilah untuk kesembuhan sang kakak.
Bahkan di rumah mereka, Amara dan Dani juga mengundang Pak Ustadz beserta anak-anak yatim, orang-orang faqir, orang-orang yang tidak mampu, untuk bersama-sama berdoa akan kesembuhan Diyaz.
Amara dan Dani bersedekah, dengan harapan kalimat doa dari orang-orang itu bisa menembus langit.
Keluarga dan para sahabat tak pernah berhenti mendoakan Diyaz. Dan Kanaya, tak pernah sedikitpun berkeinginan untuk pergi dari sisi kakaknya.
Dihadapannya kini, tubuh kakaknya tampak rapuh. Mata yang biasanya tajam, kini hanya mampu terbuka sesekali, itupun dengan usaha yang terlihat begitu melelahkan.
Sejak malam itu, Diyaz hanya mampu mengucapkan beberapa kata sebelum kehabisan energi, suaranya pelan dan bergetar.
Setelah berbicara, Diyaz sering kali kembali terdiam, tampak terlelap meskipun Kanaya tahu itu lebih karena kelelahan daripada benar-benar tidur.
Kanaya mencoba tetap terlihat kuat, meski hatinya tak kalah rapuh setiap kali melihat kakaknya yang terkurung dalam kondisi seperti ini.
Ditengah kegiatannya membacakan ayat-ayat suci, kadang kala Kanaya berhenti, untuk memastikan Diyaz masih mendengarnya. Sorot mata Diyaz yang sayu dan lelah menjadi satu-satunya respons, tetapi itu cukup untuk Kanaya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Siblings Runner - [BaeSure] On Going (Revisi)
Teen FictionTreasure hyung line ft. Pharita Rora Ruka Asa Just for fun 乁| ・ 〰 ・ |ㄏ
![Siblings Runner - [BaeSure] On Going (Revisi)](https://img.wattpad.com/cover/369957523-64-k594118.jpg)