Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kanaya baru saja pulang ke rumah setelah hampir seharian penuh mendekam di rumah Gina dengan embel-embel mengerjakan tugas kelompok. Tanpa pikir panjang, dia langsung merebahkan tubuhnya di kasur yang terasa begitu nyaman.
Dia merasa lega bisa kembali ke zona nyamannya, meski pikirannya masih terjebak di mimpi aneh yang menghantui semalam.
Bayangan mimpi itu begitu jelas, seolah-olah nyata di depan matanya. Saking terlarutnya, Kanaya jadi tidak bisa fokus saat mengerjakan tugas kelompok yang menumpuk. Untungnya baik Gina, Nadine maupun Dita tidak memprotes hal itu.
Kalau di ingat kembali, Kanaya bahkan menyadari saat terbangun masih ada jejak air mata di wajahnya. Jangan lupakan kerongkongannya juga yang sedikit terasa pegal seolah semalaman Kanaya benar-benar menangis meraung-raung.
Entah bagaiman Kanaya bisa sampai selarut itu dalam mimpinya, adegan tentang kematian sang kakak begitu jelas hingga membuatnya sesak. Apa yang menyebabkannya Kanaya memimpikan hal itu? Apakah itu suatu pertanda?
Orang bilang, jika kita bermimpi tentang kematian seseorang, itu artinya orang itu akan di beri umur panjang. Semoga. Tapi Kanaya sendiri tidak yakin.
Kanaya justru berfikir bahwa lewat mimpi itu, Tuhan memberinya isyarat agar dirinya bisa memperbaiki sikap sebelum penyesalan datang.
Perlu di ketahui, Kanaya memang tidak begitu dekat dengan Diyaz. Tanpa alasan yang jelas, Kanaya selalu merasa bahwa Diyaz itu jenis spesies yang tidak berguna.
Oke, anggaplah Kanaya berlebihan, tapi pada kenyataannya memang seperti itu. Diyaz bukan tipe kakak yang bisa memberi perhatian, apa lagi jika di bandingkan dengan Julio yang nyaris di sebut over care pada Audita.
Atau mungkin Ragas yang bisa menjadi kakak sekaligus partner menjulid, meroasting dan menggossip. Bahkan Javier? Yang dengan tingkat kemalasan paling tinggi, kakak dari Nadine itu seringkali memberi perhatian dalam bentuk apapun.
Ya, Kanaya tahu hal ini dari Nadine sendiri dan Regina ikut memvalidasi hal tersebut.
And then, how about Kanaya with Diyaz? Jangankan perhatian, atau jadi partner julid, jam makan mereka saja selalu berbeda. Memakan masakan hasil Bunda pun hanya bisa terhitung jari dalam sebulan. Diyaz jarang sekali ada di rumah.
Dan sekarang, lelaki itu tengah di luar kota, ya, seperti yang Bunda bilang, bakti sosial.
Sampai sekarang, Kanaya sendiri tidak tahu kenapa Tuhan menciptakan Diyaz di rumahnya. Apa alasan Tuhan menjadikan Diyaz sebagai kakaknya? Useless brother.
Untuk seukuran seorang 'kakak', Kanaya menganggap Diyaz tak berguna. Tapi bagi orang-orang, kakak laki-lakinya itu bisa saja disebut berjasa, buktinya, Diyaz dengan senang hati menjadi relawan. Seakan-akan, Diyaz hanya lunak di hadapan orang lain.
Ish, Kanaya benci. Haruskah Kanaya jadi orang lain dulu?
Tapi, kembali lagi pada point utama, jika saja mimpinya benar terjadi, apakah rasa sedih Kanaya akan sama? Apa Kanaya akan merasa hancur atau malah bahagia karena satu-satunya makhluk useless itu telah lenyap?
Dari pada memikirkan hal itu, justru kini Kanaya memikirkan cara agar dirinya bisa dekat dengan Diyaz layaknya kakak beradik. Kanaya juga ingin bermanja-manja pada kakak kandungnya sendiri, boleh 'kan?
Kanaya ingin tahu bagaimana rasanya di beri walau hanya sekedar perhatian kecil, bagaimana rasanya membicarakan sesuatu sampai tertawa ataupun menangis bersamaan. Sungguh Kanaya ingin tahu bagaimana rasanya.
Dia bangkit dari kasur, "Tapi, dia kapan pulangnya, ya?" jari telunjuk Kanaya di letakkan di dagu. "Chat aja kali, ya?"
Mungkin dengan memberi pesan singkat seperti 'Hai Kak, apa kabar?' atau 'Kakak, kapan pulang? Nay kangen.' atau... tunggu dulu, rasanya agak.... Eww, jujur ini terkesan aneh.
"No, no. Itu terlalu tiba-tiba, terlalu asing."
Ck ck! Sama Kakak sendiri padahal, Nay...
Oke, dan keputusan final Kanaya adalah... "Tunggu aja dulu, sampai dia pulang."