SR/15

181 32 37
                                        

Ragas masuk ke kamar Gina tanpa mengetuk, langkahnya berisik dan terkesan asal. Gina yang sedang sibuk dengan skincare di depan cermin, langsung memalingkan wajah, kaget melihat kakaknya sudah rebahan nyaman di ranjang.

"Kak, lo ngapain sih? Seenaknya aja tidur di sini?" Gina mendengus dengan tatapan kesal, tapi Ragas cuma nyengir. Dia melipat kedua tangannya di belakang kepala, bergaya santai seolah itu kamarnya sendiri.

"Yeu, santai aja kali. Kasur lo kok empuk banget sih? Punya gue keras kayak papan keyboard."

Gina hanya merotasikan mata sambil melanjutkan acara skincare-annya setengah hati sambil mengawasi Ragas. "Bukannya cepet siap-siap, katanya tadi kita mau ke rumah Kak Diyaz?"

Ragas tetap nyaman tiduran sambil nyengir lebar, "Ya ini juga udah siap, tinggal nunggu lo sama satu orang lagi."

"Satu orang lagi? Siapa dah?"

"Ayang gue lah. Mia. Mia yang paling imut, paling gemoy."

What!?

Gina langsung berhenti mengoleskan skincare di wajahnya, "Kak Mia mau dateng ke sini? Serius lo, Kak?"

Ragas mengangguk dengan bangga. "Iya, gue ngajak dia juga, keren gak tuh dia berhasil lolos? Padahal biasanya kan doi dijaga ketat banget sama bokap nyokapnya. Strict banget, penjagaan 24 jam."

"Hmm, jangan-jangan Kak Mia yang nekat ngelawan aturan. Fix deh, lo punya efek buruk buat dia."

Ragas mencebik sambil tetap berpose santai di ranjang. "Sembarangan! Ya gak dong, dia izin baik-baik. Makanya itu dia bilang ke gue, katanya gak bisa lama-lama." ucapnya kemudian bangkit dari kasur dan mendekat ke arah Gina.

"Lo pake apa sih?" tanyanya.

"Sunscreen." jawab Gina singkat sambil menepuk-nepuk wajah. "Tapi lo kok aneh banget sih? Setelah gue pikir-pikir, kita kan mau ke rumah Kak Diyaz, lo ngapain ajak Kak Mia? Kalau mau pacaran mah di oyo aja di oyo, pacaran di oyo juga enak."

pletak!

"Aw... gblk! Sakit, bege!"

"Hehe, ini apa?" tanya Ragas sambil nyengir.

"Maskara!" jawab Gina ketus, barusan Ragas menggunakan maskara itu untuk untuk mementung puncak kepalanya.

"Gue juga bakal liat situasi kali, lagian nanti Mia kesininya sama Windy juga, itupun kalo jadi."

"Ini apa?" tanyanya, mengambil salah satu alat makeup lagi yang menyerupai pena.

"Eyeliner. Kak Windy bukannya masih pacaran sama Kak Julio?"

"Udah mantan jir, lo ketinggalan jaman dih." Ragas membuka tutup yang katanya eyeliner itu kemudian mengaplikasikan ke telapak tangannya.

"Lah buset, sejak kapan? Eh! Jangan di buat maenan anjr, eyeliner gue!" Gina merampasnya dengan tak santai.

Sedangkan Ragas sendiri, cuma acuh menunjukkan tampang bodo amat.

"Terus kalo nanti mereka ketemu di rumah Kak Diyaz? bakal ce elbeka gak tuh."

Ragas mengangkat bahu, "Entah. Ngapain juga lo mikirin urusan orang? Mau ce elbeka kek."

"Oh iya, ngomong-ngomong soal Kak Diyaz. Jujur gue masih gak percaya jir kalo dia sakit kanker, paru-paru loh. Serem banget."

Helaan nafas keluar dari bilah bibir Ragas, "Diyaz emang gak banyak omong anaknya, agak susah kalo disuruh terbuka. Kalau bukan di pojok-pojokin sama Javier, mungkin sampai sekarang gue juga gak bakalan tau."

"Nah, ini lagi soal Kak Javier," ujar Gina seraya menjentikkan jari. "Gue tiba-tiba kepikiran kabar Om Dion, gimana ya?"

"Udah pasti di tahan lah," ucap Ragas, tangannya kembali mencari-cari sesuatu yang menarik di rak makeup Gina. "Gue denger-denger malah bukan karena kasus Javier doang. Ini apa? Kayak koas buat ngecat tembok."

Siblings Runner - [BaeSure] On Going (Revisi)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang