The Sibling💫 [Intro 04]

508 59 21
                                        

Happy Reading ^^

Kanaya dengan rambut sedikit berantakan khasnya orang baru bangun tidur, tengah anteng mengoleskan selai pada sepotong roti, dengan kaki kanan yang terangkat ikut naik pada kursi.

Ketenangan itu tak berlangsung lama akibat kedatangan seseorang yang dengan tiba-tiba datang merampas roti di tangannya.

"Kaki turunin!"

Selain rotinya di rampas, lututnya juga di tepuk cukup keras oleh pelaku yang sama a. k. a. Diyaz.

"Anak perempuan kok kakinya ikut naek, kayak bujang nongkrong di warkop aja."

"Terserah," jawabnya dengan acuh kemudian mengambil sepotong roti yang lain.

"Nay, denger. Anak perempuan itu bangun pagi, bantuin Bunda beres-beres rumah. Jangan keseringan begadang, kalau ada tugas langsung kerjain jangan di tunda-tunda," imbuh Diyaz.

"Jadi anak perempuan itu harus rajin, karena suatu saat lo bakal jadi seorang istri yang harus pinter layanin suami, jadi seorang ibu yang jadi contoh buat anak-anaknya."

"Duh, bacot banget sih. Bisa diem dulu nggak?"

"Gue ngomong begini karena gue peduli."

"Iya gue tau. Bisa 'kan ngomongnya nanti kalo gue selesai sarapan??"

"Kanaya..."

"Lo tuh gak bisa liat kondisi? Gak liat situasi? Gue jadi nggak mood sarapan karena harus denger nasihat lo pagi-pagi buta begini!"

Srett..

Roti yang belum di makan barang secuil pun itu di lemparkannya ke sembarang arah.

"Nay, gue nggak bermaksud—"

"Apa!? Iya gue tau lo peduli. Tapi kenapa baru sekarang? Bisa nggak jangan ganggu gue sebentar aja. Jangan ganggu gue sehari aja, please!"

"Jangan marah dulu. Oke, gue tau gue salah karena jarang ada waktu buat lo, mangkanya—"

"Iya! Lo jarang ada waktu buat gue! Lo selalu sibuk sama dunia lo sendiri, tapi sekalinya muncul, lo selalu ngerusak mood gue!"

Diyaz hanya diam tak berbuat apapun.

"Pergi! Jangan muncul lagi di depan muka gue!"

"Nay, gue minta maaf."

"Gue bilang pergi!"

"Kanaya jangan marah dulu, gue minta maaf."

"PERGI!!"

Pranngg..

Gelas keramik itu pecah berkeping-keping menghantam tembok.

Sang ibu yang mendengar ada keributan langsung datang menghampiri.

"Nay, ada apa?"

"Bunda, Kakak gangguin Nay..."

"Nay..."

"Tadi Naya lagi sarapan, Bunda. Kakaknya ganggu terus."

"Nay, sadar. Kakak udah nggak ada."

Kanaya terdiam sesaat, matanya berkedip polos kala menyadari akan apa yang terjadi pada dirinya, Kanaya merenungkan sesuatu yang membuatnya mulai terisak.

"Bunda..."

Di malam itu... Kanaya begadang karena harus menyelesaikan tugas-tugas sekolah. Dia memilih mengerjakan di ruang keluarga, lantaran AC di kamarnya rusak dan belum sempat di perbaiki.

Siblings Runner - [BaeSure] On Going (Revisi)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang