Brankar didorong keluar dari ruang operasi. Javier terbaring di atasnya, wajahnya tampak pucat. Lelaki itu terhubung pada peralatan medis. Alat bantu pernapasan berdengung lembut, menandakan bahwa ia masih bertahan di antara hidup dan mati.
Sandara merasakan dadanya sesak saat melihat putranya terbaring tak berdaya. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata.
Nadine menggenggam erta tangan Sandara, dia berusaha untuk tidak terisak.
"Jav..." bisik Sandara, suaranya hampir tak terdengar.
Brankar yang membawa Javier digerakkan pelan menuju ruang ICCU. Di setiap langkah, Nadine merasa jantungnya berdebar semakin cepat.
Saat tiba di ruangan ICCU, perawat mengizinkan dua orang untuk masuk sebentar.
Sandara berusaha tampak lebih tegar, menatap penuh harap ke arah putranya. "Mama di sini, Jav. Mama sama Nadine disini, cepat pulih, ya, Sayang."
Sandara tak bisa berlama-lama, dia langsung keluar setelah menyampaikan beberapa kalimat pada Javier yang mungkin tak mendengar suaranya.
Dia mempersilahkan Diyaz atau Kanaya untuk masuk.
"Lo duluan, temenin Nadine, ya?"
Kanaya mengangguk, kemudian melenggang masuk dan menghampiri Nadine.
Sementara Diyaz, dia berpamitan pada Sandara untuk pergi ke toilet sebentar.
Diyaz sudah menahannya sejak tadi, rasa gatal di tenggorokan sejak kali pertama menginjakkan kaki di depan ruang ICCU.
Diyaz terbatuk cukup keras beberapa kali, beruntung toilet sedang sepi. Jika saja ada orang lain disini, mungkin orang itu akan terganggu karena suara batuknya.
"Hhh... gue gak sempat minum obat."
Diyaz menetralkan pernapasan, berusaha menahan batuk yang semakin menjadi. Dia mengingat kembali apa yang Dokter katakan tentang kondisi kesehatannya.
Stres dan kelelahan bisa memperparah gejala, dan saat ini, pikirannya penuh dengan kekhawatiran akan Javier.
Setelah beberapa menit terlewatkan, Diyaz merasa sedikit lebih baik. Dia menatap cermin di atas wastafel dan melihat bayangan dirinya.
Wajahnya terlihat lelah, Diyaz mengambil napas dalam-dalam, berusaha mengalihkan pikiran dari masalah yang menantinya.
Setelah dirasa cukup, Diyaz cepat-cepat membasuh wajah, berusaha menyingkirkan jejak kelelahan.
Diyaz kembali pada Sandara yang masih duduk di kursi tunggu, dia mengabari yang lain soal kejadian ini.
Tak butuh waktu lama untuk mereka datang. Empat orang itu langsung saja menghampiri Diyaz dan Sandara dengan tergesa, raut wajah shock dan khawatir mengiringi perjalanan mereka.
Tapi ada satu hal yang membuat Diyaz terkejut.
Ragas datang dengan tanpa menggunakan kursi roda, Ragas sudah bisa berjalan. Ini kabar baik, tapi justru Ragas sendiri mengabaikan itu, kabar buruk yang menimpa Javier membuatnya menenggelamkan kabar baik ini.
"Gimana Javier?" tanya Julio begitu sampai.
"Dia koma, luka tusuknya sampai paru-paru." jawab Diyaz.
Mereka mendesah berat, kabar ini begitu mengejutkan dan mengguncang mereka sebagai teman yang terhubung erat seperti keluarga.
Pintu terbuka, Nadine dan Kanaya keluar. Isak tangis kembali pecah saat mereka bersitatap. Dita dan Gina memberi mereka pelukan. Sebagai teman, tentu mereka juga ikut merasakan kesedihan yang menimpa Nadine.
KAMU SEDANG MEMBACA
Siblings Runner - [BaeSure] On Going (Revisi)
FanfictionTreasure hyung line ft. Pharita Rora Ruka Asa Just for fun 乁| ・ 〰 ・ |ㄏ
![Siblings Runner - [BaeSure] On Going (Revisi)](https://img.wattpad.com/cover/369957523-64-k594118.jpg)