"Klien saya, Priska. Telah mengajukan tuntutan terhadap anda. Selain mengklaim bahwa anda adalah ayah dari anak yang sedang dikandungnya, dia juga melaporkan bahwa anda melakukan kekerasan fisik kepadanya."
Ragas merasa darahnya mendidih seketika, mendapat tuduhan yang begitu mengejutkan. "Hah? Anak? Di kandung? Kekerasan? What the hell, anj-!"
Sementara itu, Widya dan Dimas yang sudah lebih tahu soal tuntutan itu hanya diam membisu.
"Heh! Lo siapa? Kenapa tiba-tiba nuduh gue sembarangan? Gue gak pernah ngelakuin itu! Kenal lo aja kagak!" Ragas berteriak, emosinya mulai meluap.
Perempuan yang bernama Priska dengan tampang menjengkelkan di mata Ragas itu menunjukkan sebuah foto di ponselnya yang memperlihatkan luka memar di lengan dan wajah.
"Ini buktinya. Kamu pikir aku bakal diem aja setelah apa yang kamu lakuin? Kamu menyerang aku ketika aku mencoba menghubungi kamu soal tanggung jawab atas kehamilan ini!"
Ragas kaget bukan main, dia tahu itu tidak mungkin benar. "Ini bohong! Gue nggak pernah ketemu sama lo!"
Ragas menoleh pada Widya dengan cepat, "Aku gak pernah ngelakuin itu, Mami. Aku berani sumpah, aku rela kesamber gledek, asalkan gak kena."
Widya menghela nafas lelah dan Dimas memijat pangkal hidungnya. "Coba yang serius dikit, Gas."
Tak lama kemudian, Gina masuk, raut wajahnya tak jauh berbeda dengan Ragas saat pertama kali datang.
"Ada apaan nih?" tanyanya dan langsung mengambil tempat di kursi single.
"Masa gue dituduh ngelakuin kekerasan. Mana dia ngaku-ngaku di iclik sama gue lagi."
Gina tercengang atas pengaduan itu, diliriknya si perempuan asing, Gina menelisik penampilannya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Muka bulan," gumam Gina. "Maaf ya mbak, kakak saya gak mungkin ngelakuin itu. Bapak-bapak jangan pada percaya, ini pasti cuma jebakan."
"Bener tuh! Lo pasti suruhan orang kan? Ngaku lo disuruh siapa? Hah?"
Priska mendengus sambil melipat tangan di dada
"Yang namanya keluarga pasti bakal membela. Tapi fakta gak bisa di sangkal."
Priska mengeluarkan foto-foto yang berada di dalam map. "Liat ini! Apa bukti foto-foto ini kurang jelas!?"
Gina meraih salah satu foto dan menatapnya lekat. "Ini... ini bisa aja rekayasa! Jaman sekarang edit foto itu gampang, Mbak! Ada yang namanya e ay!"
"Rekayasa?" Priska terkekeh sinis. "Mungkin kamu juga harus lihat ini." Dia memutar arah laptop dan video mulai diputar di layar.
Video rekaman CCTV menunjukkan seseorang yang sangat mirip dengan Ragas memasuki hotel bersama Priska.
"Ini adalah rekaman dari hotel tempat anda dan klien saya bertemu beberapa bulan lalu. Selain itu, ada juga saksi yang mengonfirmasi melihat anda bersama dengan klien saya di lokasi tersebut sebelum insiden kekerasan terjadi."
"Itu bukan gue! Demi apa pun, itu bukan gue!"
"Bukti-bukti yang ada cukup kuat atas tindakan kekerasan dan pemerkaosan yang anda perbuat."
"Pe mer ko sa an, Pak! Yaelah, pulici macem apa lo? Typo begitu." cibir Gina.
Semoga mental Pak Isilop tak menciut karenanya, di tambah ekspresi Gina yang julid abis.
"Ragas, kamu udah gak bisa mengelak lagi. Semua bukti-bukti kejahatan kamu ada di aku, sekarang kamu harus ikut buat membayar apa yang sudah kamu lakukan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Siblings Runner - [BaeSure] On Going (Revisi)
FanfictionTreasure hyung line ft. Pharita Rora Ruka Asa Just for fun 乁| ・ 〰 ・ |ㄏ
![Siblings Runner - [BaeSure] On Going (Revisi)](https://img.wattpad.com/cover/369957523-64-k594118.jpg)