🍃
Suara dentingan sendok yang beradu dengan piring mengurangi keheningan di dapur siang itu.
Julio tampak menikmati menu makan siang sambil sesekali melirik ke arah seorang wanita yang membelakanginya, berdiri di depan wastafel sibuk membersihkan piring.
Sambil mengunyah, Julio memandangi punggung perempuan itu dengan alis bertaut seolah akan menanyakan sesuatu.
"Kamu... pekerja baru di rumah ini?" tanyanya, membuat perempuan itu akhirnya menoleh.
"Ya?"
"Pekerja baru?" tanya Julio lagi.
Gerakan tangan perempuan itu melambat, lalu sudut bibirnya sedikit tertarik menampakkan senyum samar.
Mata Julio menyipit kala perempuan itu tak lagi memusatkan atensi padanya, kembali pada cucian piring. Mungkin malu? pikir Julio.
Beberapa detik berselang, perempuan itu bergeser sedikit, mulai mengelap beberapa piring yang sudah ia cuci. Di posisi seperti ini, Julio baru menyadari kalau perempuan itu tampaknya tengah mengandung, tapi kenapa masih bekerja? pikir Julio lagi.
"Maaf, kayaknya kamu lagi hamil? Kenapa masih kerja?"
Perempuan itu menoleh, dengan senyum samar, lagi. "Nggak apa-apa, memang udah tugas aku," jawabnya pelan.
Julio menggelang pelan, alisnya bertaut lagi, jawaban seperti itu agak mengganggu pikirannya. Perempuan yang tengah hamil harusnya beristirahat, tidak boleh bekerja. Apa lagi sebagai tukang bersih-bersih di rumah orang lain.
"Maaf kalau lancang, emangnya suami mu kemana? Apa dia nggak kerja?" tanya Julio lagi, dengan nada suara sesopan mungkin agar lawan bicaranya tak merasa tersinggung.
Perempuan itu urung menjawab, dia menata piring pada tempatnya, kemudian berjalan pelan ke arah Julio. Masih mempertahankan senyum samar, namun dari sorot matanya, Julio jelas tahu ada sedikit kesedihan di sana.
"Suami aku ada, dan dia kerja."
"Terus kenapa kamu masih kerja? Apa gaji suami mu nggak cukup?"
Julio sama sekali tak bermaksud untuk mencampuri urusan orang lain, dia hanya ingin ada pendekatan dengan seseorang yang bekerja di rumahnya.
"Karena aku mau, lagi pula kerjaan kaya tadi nggak memberatkan aku kok. Aku malah bosan kalau cuma diem,"
"Dokter bilang, aktifitas ringan kaya tadi bagus buat kehamilan."
Julio mengamati wajah perempuan itu beberapa detik tanpa berkata apa-apa. Lalu ia mengangguk, seolah mencoba menerima logika di balik jawaban perempuan itu.
"Ya... masuk akal juga sih," gumamnya sambil menyandarkan punggung ke kursi.
"Tapi kalau kamu capek, istirahat aja. Jangan dipaksain," ujar Julio kembali, tak lebih dari bentuk kepedulian sederhana yang dia sendiri tak sadar kenapa muncul begitu saja.
Perempuan itu menatap Julio beberapa detik, "Iya, terima kasih, ya."
Julio hanya mengangguk lagi, lalu kembali menunduk menatap piring makannya yang sudah kosong. Tapi pikirannya tetap terarah pada sosok perempuan itu. Ada yang membuatnya ingin tahu lebih banyak.
"Sayang," panggil seseorang di ambang pintu dapur. Julio dan perempuan itu menoleh bersamaan.
Laki-laki dengan setelan kemeja. Berdiri mematung menatap perempuan yang berdiri di depan Julio. "Masih belum siap?" tanyanya.
Perempuan itu lagi-lagi tersenyum sebelum menjawab, "Udah, tadi aku cuci piring dulu sebentar."
Julio yang menjadi pengamat, menatap dua orang itu bergantian. Matanya sedikit melebar kala menyadari sesuatu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Siblings Runner - [BaeSure] On Going (Revisi)
FanfictionTreasure hyung line ft. Pharita Rora Ruka Asa Just for fun 乁| ・ 〰 ・ |ㄏ
![Siblings Runner - [BaeSure] On Going (Revisi)](https://img.wattpad.com/cover/369957523-64-k594118.jpg)