Ragas menghela napas panjang, rasa lega langsung menguasai hati. Dia merasakan tepukan tak ramah di punggungnya, itu tangan Julio, dia tersenyum lebar penuh arti.
"Lo udah bebas, Gas..." suara Julio parau, matanya sedikit berkaca-kaca.
"Gue beBASS!" seru Ragas tiba-tiba, melompat tinggi dengan kepalan tangan di udara penuh semangat, seperti anak kecil yang baru saja mendapat mainan baru.
Julio dan yang lainnya terkekeh, wajah mereka jelas terpancar rasa lega.
"Akhirnya gue bisa keluar dari sini!" Ragas memekik lagi, kali ini sambil memeluk Gina yang berdiri di sebelahnya. Gina terkekeh kecil, meskipun pelukan itu sedikit membuatnya kehilangan keseimbangan.
"Wah, kita harus rayain ini," imbuh Dimas sambil tersenyum lebar.
Dan di antara yang lain, Julio menjadi yang paling bersemangat mengangguk. "Bener tuh, rayain kemenangan Ragas hari ini!" ujarnya.
Ragas menggeleng cepat. "Gak, gue gak mau ngerayain apa-apa dulu. Gue harus ke rumah sakit, Diyaz sama Javier pasti nungguin kabar ini! Gue udah gak sabar buat ngasih tau mereka!"
"Bener juga," kata Widya yang dari tadi hanya diam memperhatikan. Di sampingnya, Chaerin juga tampak mengangguk, "Mereka pasti bakal seneng banget denger kabar ini."
"Makanya, ayo sekarang! Jangan buang-buang waktu lagi," seru Ragas sambil menggandeng tangan Widya dan Dimas, menyeret mereka ke luar ruang sidang dengan langkah cepat.
Mobil mulai melaju cepat menuju rumah sakit. Di sepanjang perjalanan, Ragas terus bercerita tentang rencananya kedepan untuk merealisasikan acara-acara yang belum sempat terlaksanakan.
"Gue kayak terlahir kembali!" ucap Ragas sambil memandangi jalanan, Julio di sebelahnya yang tengah menyetir hanya bisa menggelengkan kepala.
"Lebay lo!" ketus Gina seperti biasa.
Julio dan Dita terkekeh kecil. Mereka semua tak tahu bahwa kebahagiaan itu sebentar lagi akan berubah menjadi duka yang dalam.
🍂
Saat mobil berhenti di depan rumah sakit, Ragas langsung membuka pintu dan keluar dengan tergesa-gesa, bahkan sebelum mesin mobil benar-benar dimatikan.
Begitu sampai di meja resepsionis, dia langsung bertanya dengan penuh semangat.
"Permisi, pasien bernama Diyaz sama Javier dirawat di ruangan mana, ya? Kita temennya."
Petugas resepsionis memandang Ragas dengan ragu sejenak sebelum mulai mengetik sesuatu di komputernya. Tapi ekspresi petugas itu berubah muram setelah membaca data di layar.
"Mereka ada di lantai tiga, ruang ICU," ucapnya pelan, lalu tak sempat melanjutkan kalimatnya karena Ragas lebih dulu menyela.
"ICU? Oke, kita langsung ke sana. Makasih, sus," katanya sebelum mereka berlari menuju lift.
Mereka begitu bersemangat sampai tak ingat kepada para orangtua mereka masing-masing yang mungkin baru saja sampai. Tak ambil pusing tentang apa yang akan dilihat mereka di depan, fokus mereka hanya tertuju pada bagaimana mereka berekspresi nanti.
Sesampainya di lantai tiga, mereka langsung berlari ke arah ruang ICU. Tapi langkah mereka mendadak terhenti ketika melihat Nadine, Sandara, Kanaya, Amara dan Dani berdiri di depan pintu.
Kanaya tengah menangis tersedu-sedu, sementara Amara memeluknya erat, begitupun Nadine yang menangis dalam pelukan Sandara.
Dani yang menyadari kehadiran para remaja itu menoleh lebih dulu. Ragas dan Julio menghampirinya dengan raut wajah kebingungan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Siblings Runner - [BaeSure] On Going (Revisi)
Roman pour AdolescentsTreasure hyung line ft. Pharita Rora Ruka Asa Just for fun 乁| ・ 〰 ・ |ㄏ
![Siblings Runner - [BaeSure] On Going (Revisi)](https://img.wattpad.com/cover/369957523-64-k594118.jpg)