SR/19

217 36 16
                                        

"Dari mana?"

"Dipanggil dokter," jawab Nadine sambil duduk di kursi samping ranjang Javier. "Katanya, besok lo harus mulai latihan jalan biar otot-otot kaki lo gak kaget."

"Latihan jalan?" kening Javier mengerut. "Emangnya gue lumpuh? Latihan jalan segala."

"Pengen gue pukul rasanya," Nadine melotot gemas. "Kak, satu bulan loh lo gak bangun-bangun, apa bedanya sama orang lumpuh, coba?"

Javier mendesis, "Iya lagi, duh, kebayang gue pegang walker sambil gemeter kayak kakek-kakek terus tiba-tiba gedebrug! Nyungsep."

"No matter nyungsep dikit. Yang penting lo gigih, makin cepet lo sehat, makin cepet juga pulang dari sini."

Helaan nafas Javier terdengar, "Iya juga sih, tapi kalau gue nyungsep beneran, lo jangan ketawain gue ya!"

"Iya," jawab Nadine dengan senyum lebar, "Tapi kalo nyungsepnya lucu, gue ketawa dikit bolehlah ya?" lanjutnya sambil ketawa jahil.

"Yeuu... bener-bener," Javier mencebik sambil memutar bola mata malas, "Tapi omong-omong, besok jangan cuma lo yang nemenin gue. Kasih tau Ragas, Diyaz, sama Julio juga. Gue pengen mereka ada di sini, biar semangat gue naik."

"Iya, nanti gue kabarin mereka. Tapi Kak Diyaz? Lo mau nyuruh dia juga buat dateng kesini?"

"Lah iya juga, Diyaz gak usah deh takut kecapean. Tapi kabarin aja dulu, sukur-sukur kalau dia udah beneran fit terus bisa kesini."

Nadine memberi persetujuan dengan mengangguk, "Bakalan rame sih kalo mereka beneran kesini, Kak Julio bakal jadi yang paling heboh, Kak Diyaz ngasih ceramah panjang, terus Kak Ragas, dia pasti bakal ngeluarin jokesnya yang nyerempet asbun."

"Iya, mereka yang kaya gitu itu kadang bikin gue kesel, tapi di balik rasa kesel itu ada rasa semangat dalam diri gue yang ikut tumbuh."

"Gue bersyukur banget punya mereka, punya lo juga, adek yang paling pengertian meskipun banyak ngeselinnya juga."

Nadine tertawa kecil mendengar ucapan Javier. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, matanya menerawang sejenak sebelum kembali menatap Javier.

"Lo juga sebenernya ngeselin tau? Tapi gue tetep betah di sini nemenin lo. Heran deh, kenapa ya?"

Javier menyeringai tengil. "Karena ngeselinnya gue itu gak seimbang sama rasa sayang lo yang lebih gede ke gue."

"Rasa sayang gue lebih gede ke lo? Pede amat," cibir Nadine dengan melipat tangan di dada.

"Gak usah denial, gak cocok. Gue tau lo sayang sama gue melebihi apapun, iya 'kan?"

Nadine terkekeh samar sambil menggenggam tangan Javier, "Iyaa gue sayang sama lo, Kak." ucapnya dengan tulus.

Javier tersenyum simpul mendengarnya. Dia tahu Nadine amat sangat menyayangi dirinya.

Tapi Javier, lebih dari itu.

Hubungan mereka memang tak dimulai dari ikatan darah, tapi rasa saling melengkapi di antara mereka sudah cukup untuk menjadi pengikat yang lebih kuat.

Di tengah keheningan ini, Javier menatap Nadine seraya tersenyum penuh makna, "Rasanya gue jadi pengen cepet sembuh. Bukan cuma buat diri gue, tapi buat mereka dan lo juga, Mama juga, semuanya."

Nadine menepuk pelan lengan Javier, menatapnya dengan tatapan penuh dukungan. "Lo pasti bisa, Kak. Semua orang juga doain yang terbaik buat lo."

Kepala Javier terangguk, "Iya gue tau. Dah, buru kasih tau mereka soal agenda besok." titah Javier dan langsung dilaksanakan oleh Nadine detik itu juga.

Siblings Runner - [BaeSure] On Going (Revisi)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang