00/02

341 53 30
                                        

Setengah jam berlalu setelah Audita pergi, tugas kelompok mereka belum juga rampung

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Setengah jam berlalu setelah Audita pergi, tugas kelompok mereka belum juga rampung. Karena hari mulai petang, Nadine juga Kanaya akhirnya memutuskan untuk pulang. Kini hanya tinggal tersisa Regina sendiri.

Kedua orangtuanya belum pulang begitu pun dengan sang kakak, Ragas.

Gina bosan. Tapi tidak ada satu hal pun yang bisa mengusir kebosanannya. Gadis itu kemudian mengambil ponselnya yang sejak tadi masih tergeletak, mendial kontak seseorang.

gRagas🐼

Telepon tersambung, kemudian diangkat beberapa detik setelahnya.

"Apaan?"

"Kelas lo masih belum kelar?
Lama banget anjim."

"Ini gue lagi nongkrong bentar."

"Nongkrong? Berak lo?"

"Ish tolil banget ini bocah satu."

"Gue bosen nih di rumah sendirian,
temen-temen gue udah pada balik."

"Ya udah cari kegiatan kek,"

Regina mencebik, "Kegiatan apaan? gak ada yang bisa di kerjain."

"Umm,, coba bikin pudding. Biar gue pas udah nyampe rumah nanti langsung bisa makan."


"Yeu,, enak di lo gak enak di gue!"

"Terserah. Katanya tadi bosen, di kasih kerjaan malah ogah-ogahan. Mending lo cosplay jadi water dog."

"Water dog apaan anjim?"

"Anjing laut wkwkwk"

"Tolil. Ya udah gue buatin nih,
tapi nanti di makan ya!"


"Gampang itu mah, kalo enak gue makan kalo gak enak tinggal buang. That's simple."

"Bobby syndrome..."

"Ibu kota Jawa barat?"

Regina mencebik lagi, memutar bola mata malas. "Stop deh, udah basi tau gak?"

Di seberang telepon Ragas terkikik, "Sekarang apa yang lagi rame? Ressa, ya?"

"Eh, iya! Lo udah liat podcast-nya? Gila aja, gue sampe nangis liatnya..."

"Iya, kan? Gue juga kalau lagi gak rame orang udah pasti nangis bawang juga."

"Parah sih emaknya."

"Hooh. Dan parahnya juga, dia kayak gak ngerasa bersalah sama sekali, parah bet."

"Asli. Ya minimal dia nyesel kek, gedek banget gue liatnya."

Ragas mengangguk setuju, dia juga tak kalah gedek, membayangkan bagaimana sakitnya perasaan Ressa. Sudah bisa dipastikan, jika saja mereka bertetangga dengan Denada, pasti setiap hari kakak beradik itu tak akan berhenti mencibir, memberi sindiran-sindiran halus karena saking geramnya.

"Wey, terus gimana ini? Pudding? Gue mau-mau aja sih, tapi gak bisa buatnya..."

"Ya elah, gampang ege. Lo tinggal campur bahan-bahannya, siapin panci, didihin bentar terus masukin ke cetakan. Abis itu diemin selama beberapa tahun."

"Koplokk. Udah ah, nanti gue
liat tutorial di YouTube."

"Yaudah, gue juga udah mau pulang nih, bikin pudding nya yang enak!"

"Iya... bawel amat, gue tutup nih ya, bye!"

Setelah sambungan telepon terputus, Regina langsung melancarkan aksinya. Agenda sore hari ini di isi dengan acara membuat pudding.

Selama melakukan aktivitasnya, sesekali Regina bergumam, ternyata membuat pudding tak serumit yang di bayangkan. Tapi sempat terpikir juga olehnya, alih-alih merasa bosan, ini kali pertama Regina dengan senang hati mengikuti saran Ragas.

Beberapa menit proses berjalan, kini Regina tinggal hanya menuangkan pudding yang masih cair itu ke dalam cetakan lalu memasukkannya ke dalam kulkas.

"Ih seneng banget, gak ekspek ternyata segampang ini." ucapnya sambil memasukkan pudding ke dalam kulkas. "Pasti rasanya enak, awas aja kalo si water dog itu gak makan pudding buatan gue, gue jejelin!" ucapnya lagi dengan penuh keyakinan dan bangga.

Saat Regina hendak akan memulai kegiatannya lagi berupa merapihkan dapur yang sedikit berantakan, handphonenya berdenting pertanda ada pesan yang masuk.

"Papi? Shareloc? Ngapain?" gumam Regina.

Havana ooh na-na.. Half of my hearts is in
Havana ooh na-na..

Ponselnya kemudian berdering, tanpa menunggu lama, Regina mengangkat panggilan dari ayahnya.

"Dek, ke rumah sakit sekarang, kakak kecelakaan."

Siblings Runner - [BaeSure] On Going (Revisi)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang