SR/06

296 47 35
                                        


"Gue udah ekspek kalian bakal dateng sepagi ini, pasti mau sekalian sarapan di rumah gue 'kan?" celetukan Ragas mengisi atmosfer ruang makan pagi ini.

Julio dan Javier sebagai oknum yang di maksud Ragas hanya tertawa dengan tampang tak berdosa, sementara Diyaz ikut terkekeh.

Keempat bujang ini mengisi ruang makan yang semula sepi, sedangkan adik-adik mereka memilih berkumpul di ruang keluarga.

"Tau aja lo Gas, untung Om Dimas sama Tante Widya udah berangkat kerja."

Javier mengangguk setuju pada ucapan Julio.

"Apaan maksudnya? Malu gitu kalau ada orang tua gue?"

"Gak juga sih," jawab Javier dengan santai, tangannya yang sudah dari tadi menggenggam centong mulai memindahkan nasi ke atas piring, bergantian dengan Julio yang tampak menunggu giliran.

Perhatian Ragas tertuju pada Diyaz, "Lo gak makan Yaz?" tanyanya.

Diyaz menggeleng sambil tersenyum canggung. "Gue gak biasa sarapan pake nasi."

Julio tersenyum kecut teringat akan sesuatu, "Gue juga pas dulu gak bisa sarapan pake nasi. Semenjak tinggal di kontrakan, terus harus kerja juga jadinya gue biasain, biar kerjanya gak lemes. Ya meskipun pas awal-awal perut gue kaget, mau gimana lagi."

"Kalau gue sih, biasanya emang sarapan pake nasi. Nasi goreng buatan Mama selalu jadi yang favorit." ucap Javier kemudian terdiam setelahnya.

Ragas, Julio, dan Diyaz saling pandang sejenak menyadari perubahan raut wajah Javier, keheningan sesaat menggantung di antara mereka.

Mereka tahu apa yang menyebabkan perubahan raut wajah Javier. Suasana yang semula hangat dan penuh tawa kini sedikit sendu.

"Anj- gue kangen Mama," ucap Javier lirih. Matanya menatap kosong ke arah nasi di piring, seakan menemukan kenangan disana.

Julio menepuk bahu Javier dengan pelan, tak perlu kata-kata untuk memahami perasaan temannya. Sementara Diyaz, hanya bisa menghela napas panjang, merasakan berat yang sama.

"Wah... parah sih lo, Yaz," teriak Ragas tiba-tiba, niatnya ingin mengubah suasana yang mendadak hening.

Semua menoleh, dan Diyaz menatap Ragas bingung. "Apaan?"

"Nyokap gue udah repot-repot bangun subuh bikin ayam skripsi, rebus daun syndrome, belum lagi masak makanan yang lain juga. Apa lo tega mengabaikan hasil kerja keras nyokap gue? Hah? Apa lo tega?" Ragas bersikap dramatis, tangannya mengusap wajah seolah sangat-sangat frustasi.

Diyaz mengangkat alisnya berusaha menahan tawa, sementara Julio menyeringai melihat aksi Ragas yang berlebihan. Yang di rasakan Diyaz dan Julio lebih ke geli sebetulnya.

"Ya udah, gue makan nih, ya. Demi Tante Widya!"

"Oh. Jadi cuma demi Mami? Gue? Bukan demi gue juga?" Ragas semakin menunjukkan sisi dramatisnya ala-ala aktor koreasiar, membuat Diyaz maupun Julio bahkan Javier mendadak mual melihatnya.

Javier yang semula muram, kini menahan tawa, bibirnya bergetar menahan gelak. Aksi drama Ragas sukses merubah suasana.

🍂

"Sumpah demi apapun, gue haus banget!" erang Javier sambil menggibas-gibaskan kaus, wajahnya memelas karena tak hanya haus, dia juga merasa kepanasan.

"Gas, di kulkas lo ada minuman dingin gak?" tanyanya sambil beranjak menuju dapur, tanpa menunggu jawaban Ragas.

"Anjir! Gue shock culture, masa cuma ada botol sirup abese isi air putih doang? Mana tinggal setengah lagi!" Javier kembali sambil menggerutu, ekspresinya sebal.

Siblings Runner - [BaeSure] On Going (Revisi)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang