"Kakak sakit apa?"
Pertanyaan itu akhirnya keluar setelah Kanaya tahan sejak semalam, sejak Kakaknya datang dengan mengekor di belakang Dani- Sang Ayah. Diyaz tampak pucat, juga tak banyak menjawab saat Amara dan Kanaya menyambutnya.
"Kayaknya kecapean, sama sisa demam juga kan. Namanya lagi jadi relawan, badan harus fit, kalau di paksain takutnya makin tumbang." tutur Amara.
Kanaya, meski kepalanya mengangguk dengan mulut 'oh' tanpa suara, dia merasa itu jawaban yang kurang meyakinkan. Yaa syukur-syukur kalau hanya kecapean dan demam. Jujur saja, Kanaya skeptis.
"Bun, Kakak mau ke RS."
Bola mata Kanaya bergulir pada Si Kakak yang baru saja nyeletuk. Diyaz lewat begitu saja ke arah dapur, dengan pakaian yang sudah rapi, lelaki itu membawa piring kotor bekas sarapan yang dibawakan Amara tadi pagi.
Amara menoleh pada putranya yg sudah menghilang di balik tembok, begitupun Kanaya dengan tanda tanya di balik kerutan samar di dahi.
"Mau check up?" tanya Amara setelah Diyaz keluar dari dapur.
"Bukan, jenguk Ragas." kata Diyaz, dia menyambar kunci motor miliknya yang tersimpan di dalam lemari hias.
Jawaban singkat itu lantas membuat Kanaya menggerutu dalam hati. Lihat kan? Diyaz bahkan tak berniat mengajaknya sama sekali. Sejak mendapat kabar soal Ragas, Kanaya bingung harus pergi dengan siapa.
"Eh. Nanti nanti!"
Pekikan Amara sambil beranjak itu lantas membuat Diyaz berhenti melangkah. "Coba, bunda cek dulu."
Amara mengecek suhu tubuh Diyaz dengan punggung tangan, lalu mengecek denyut nadi. Amara bahkan sampai menempelkan telinganya ke dada Diyaz, "Coba tarik nafas... buang."
Sekedar info saja, Amara pernah menjadi seorang perawat sebelum akhirnya menikah dengan Wardani yang berprofesi sebagai Dokter Bedah Umum.
"Hm, aman. Tapi kalau udah kerasa cape langsung pulang, oke?"
"Hm." jawab Diyaz singkat. Dia langsung pamit, mencium punggung tangan Amara.
"Nay, nggak ikut?" Amara menoleh pada putrinya. "Nay bukannya pengen jenguk Kak Ragas juga?"
Kanaya reflek berdiri dengan senyum mengembang, "Boleh?"
"Nggak!"
Kata penolakan itu terlontar begitu saja, melunturkan mata menyipit Kanaya. Sialan.
Diyaz bahkan tak menoleh sama sekali saat Amara memanggilnya.
Tapi, ini Kanaya New Version, bukan Kanaya yang dulu yang hanya tinggal diam. Bukan Kanaya namanya kalau nggak maksa. "Kanaya pamit, Bun." gadis itu mencium punggung tangan Bundanya juga.
Diyaz sudah ada di garasi, dan tanpa persetujuan, Kanaya langsung menaiki jok belakang. Diyaz kemudian mendecak pelan sambil membuka kaca helm. "Siapa yang ngebolehin lo ikut? Turun gak?!"
Kanaya merengut, "Gue kan pengen jenguk juga..."
"Pesen taksi kan bisa, ngapain ikut gue?"
"Emangnya kenapa, Kak? Segitu malesnya lo sama gue? Salah banget kalau gue ikut sama lo? Gue adek lo sendiri bukan orang lain. Giliran anak orang lo boncengin, gak peduli sejauh apapun itu, gak peduli lo cape atau-"
"Haaaaahh.. iya iya. Pegangan."
Malas mendengar ocehan, Diyaz akhirnya pasrah.
Di balik punggung Diyaz, Kanaya tersenyum kemenangan. Meski dengan paksaan, nyatanya Kanaya berhasil. Ini kali pertama Kanaya duduk sebagai penumpang di motor Kakaknya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Siblings Runner - [BaeSure] On Going (Revisi)
FanfictionTreasure hyung line ft. Pharita Rora Ruka Asa Just for fun 乁| ・ 〰 ・ |ㄏ
![Siblings Runner - [BaeSure] On Going (Revisi)](https://img.wattpad.com/cover/369957523-64-k594118.jpg)