Nadine berdiri di samping ranjang Javier, mengusap lembut bagian-bagian tubuh yang mudah di jangkaunya dengan kain basah.
Hatinya sesak melihat kakaknya yang masih terbaring tak sadarkan diri, napasnya diatur oleh mesin, wajahnya pucat, dan tubuhnya tampak lebih kurus.
"Udah seminggu, Kak." bisik Nadine, "Lo masih belum mau bangun? Ada apa sih disana? Betah banget." dia tertawa kecil, peralihan semata dari isakan yang nyaris keluar.
"Kak Diyaz juga lagi sakit, Kak. Dia juga dirawat di rumah sakit ini." ucap Nadine lagi setengah berbisik. "Ayo bangun, Kak, Kak Diyaz pasti butuh lo buat semangatin dia."
Nadine menggigit bibirnya, berusaha menahan air mata yang sudah membendung. Dia ingin tetap kuat, meskipun setiap hari rasanya semakin berat melihat Javier dalam kondisi seperti ini.
"Gue kangen banget, Kak," lirih Nadine, suaranya hampir tak terdengar. "Gue kangen momen-momen kita kalau lagi berdua, atau lagi kumpul bareng. Udah gak ada lagi yang bisa bikin gue ketawa, gak ada lagi yang bisa kasih perhatian kayak lo."
Nadine menghela napas panjang, menghentikan kegiatannya. Pandangannya tidak pernah lepas dari wajah Javier yang diam membisu.
Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan, banyak hal yang selama ini hanya bisa ia simpan sendiri. Dia menggenggam tangan Javier yang terasa dingin, menyalurkan sedikit kehangatan.
"Kak," Nadine berhenti sejenak, menahan perasaan yang menggumpal di dada. "Gue udah tau semuanya." sejenak Nadine terdiam karena ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
Mata Nadine mulai berair, tapi lagi-lagi ia mencoba menahan tangisnya.
"Kenapa selama ini lo diem aja? Lo udah tau dari dulu, kan? Gue yakin itu." nada suaranya berubah jadi tuntutan, rasa kecewa dan sakit hati bercampur jadi satu. "Mama yang kasih tau, ternyata selama ini kita gak sedarah."
"Kenapa lo gak pernah bilang apa-apa ke gue?" lanjutnya, suaranya bergetar. "Kenapa lo selama ini memperlakukan gue layaknya adik kandung lo sendiri? Itu semakin bikin gue sakit, bikin gue kecewa, setelah semua perlakuan lo selama ini yang begitu tulus."
"Tapi sekarang lo bahkan gak denger apa yang gue omongin." Nadine merasa hampa, seperti ada jarak yang tidak bisa ia jangkau di antara mereka.
"Kenapa lo sebaik ini? Coba jawab gue, Kak." Nadine menggenggam tangan Javier lebih erat, seakan berharap genggaman itu bisa membawa Javier kembali.
"Gue sangat sangat berterimakasih untuk itu, di kehidupan berikutnya, gue pengen jadi adik lo lagi, tapi versi sedarah, masih dengan orang tua yang sama, tapi versi damai."
Nadine tersenyum kecil di antara air matanya yang masih terus menetes, membayangkan dunia lain di mana tidak ada rahasia, tidak ada kebohongan, dan hanya ada mereka berdua yang saling melindungi.
Nadine mengusap jemari Javier dengan lembut. "Kak, kalau lo bisa denger gue sekarang, gue mohon, jangan tinggalin gue lama-lama. Gue di sini, nungguin lo bangun."
Sesaat kemudian Nadine teringat ada janji temu dengan seseorang. Di usapnya sisa-sisa air mata yang masih terlihat di pipi.
"Kak, gue tinggal bentar ya. Naya ngajak gue ketemu, gak jauh kok, cuma di taman." bisik Nadine seraya tersenyum, dia kemudian memberi kecupan singkat di pipi kakaknya lalu pergi dengan langkah sedikit enggan.
🍂
Dua gadis cantik tengah menatap langit sore yang berubah warna menjadi jingga, angin sepoi mengelus rambut mereka yang terurai.
Sesaat mereka hanyut dalam suasana, "Lo kuat, Nad. Lo hebat." puji Kanaya saat Nadine usai dengan kalimatnya.
Meski sesekali tersendat karena isakan, nyatanya Nadine mampu menceritakan semua skenario pahit yang menimpanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Siblings Runner - [BaeSure] On Going (Revisi)
FanfictionTreasure hyung line ft. Pharita Rora Ruka Asa Just for fun 乁| ・ 〰 ・ |ㄏ
![Siblings Runner - [BaeSure] On Going (Revisi)](https://img.wattpad.com/cover/369957523-64-k594118.jpg)