SR/22 [Extra Chapter ‼️]

198 34 20
                                        


"Bentar lagi ada yang mau sidang terakhir nih," ledek Satria seraya tersenyum miring.

"Wah wah, abis ini siapa ya yang mau kretek punggung gue tiap malem kalo lu udah gak ada disini." Saipul ikut menimpali.

Dari mulai sidang pertama, kedua, ketiga hingga menjelang sidang terakhir, pihak keluarga dan teman-teman tak hentinya memberikan dukungan kepada Ragas.

Termasuk Satria dan Saipul yang seolah ikut merasakan kebahagiaan.

Selama kurang lebih dua pekan ini, mereka menjadi cukup akrab. Satria usil, dan Saipul yang selalu menjadi penengah, tahanan tertua itu juga sering kali meminta Ragas agar memijatnya.

Dan, ya, sebagaimana yang di ucapkan Satria, persidangan terakhir Ragas akan segera di laksanakan, tinggal hanya menghitung jam.

Ragas semakin tidak sabar, sebentar lagi dia akan meninggalkan tempat pengap ini. "Gue bentar lagi bebas, tunggu gue Jav, Yaz." bisik Ragas pada dirinya sendiri.

"Lu kalau udah bebas, jangan bikin perkara lagi yang bikin lu balik kesini," imbuh Saipul. "Pokoknya jangan ada sesuatu yang bikin orang itu iri dengki sampe memfitnah lu kayak gini, ya!?"

Ragas mengangguk patuh.

"Itu mungkin karena lo keliatan lebih banyak senangnya ketimbang susahnya, makanya orang naruh dendam. Plus, lo juga rada songong, jadinya orang langsung gemes pengen nyelakain lo juga."

Ragas tertawa cangkul, dia menggaruk tulang pipinya. "Bisa jadi sih Bang Sat,—"

"Eh! Bangsat bangsat mulu lo! Kalau nyebut nama gue jangan sepotong-sepotong! Gue hajar juga nih!"

"Hehe... sorry Bang Sat, ria."

"Yeu! Jangan kasih koma juga! Sebut yang bener, dan yang lengkap! Bang Satria Mulia!"

"Oh!? Nama lengkap lo Satria Mulia, Bang?" manik Ragas membulat.

"Ho'oh!"

"Mulia? Orang mulia kok di penjara?"

"Eh!? Bener-bener lo ya! Sini lo!" Satria langsung menghampiri Ragas, memberi serangan dengan memiting leher Ragas.

Dua laki-laki itu berguling-guling di lantai.

"Licin betul mulut lo ini, ya!?"

"Ampun Bang Sat, ampun..."

"Bilang apa? Hah?"

"Ampun Bang..."

"Ngomong yang bener!"

"Ampun Bang Satria Mulai!"

"MULIA!!"

"IYAA... AMPUN BANG SATRIA MULIAA!!"

Saipul yang berperan sebagai  penonton hanya terkekeh melihat aksi guling-guling di lantai itu.

🍂

Sudah dua pekan berlalu setelah melewati masa-masa kritis, juga melewati tes weaning, paru-paru Diyaz akhirnya menunjukkan respons yang tak lagi membuat semua orang diliputi kecemasan setiap saat.

Grafik di monitor yang dulu naik turun tak menentu kini lebih stabil. Infus berkurang satu per satu dan dosis obat penenang diturunkan bertahap. Oksigen kini hanya lewat nasal kanul.

Sudah sejak semalam Diyaz dipindahkan dari ruang ICU ke ruang perawatan.

"Fungsinya membaik, Diyaz sudah bisa bernapas mandiri," kata dokter dengan senyum tipis, menatap Amara. "Tapi kami akan terus memantau. Meski ini kabar baik, Diyaz masih membutuhkan waktu untuk benar-benar pulih."

Siblings Runner - [BaeSure] On Going (Revisi)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang