00/03

333 50 29
                                        

Sore itu, matahari mulai condong ke barat, memancarkan sinar jingga yang menyapu halaman rumah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sore itu, matahari mulai condong ke barat, memancarkan sinar jingga yang menyapu halaman rumah. Javier melangkah perlahan menuju pintu rumah. Saat pintu kayu itu terbuka, ruang utama yang cukup luas nan sepi langsung menyambutnya.

Sepatu yang dikenakannya diletakkan rapi di rak. Di dalam, rumah terasa hening. Javier duduk di ruang tamu, menikmati keheningan.

Namun, tiba-tiba telinganya menangkap sesuatu, sayup-sayup suara samar layaknya suara tangis yang terdengar lirih. Ia mengernyit, memastikan kalau telinganya tidak salah dengar.

Javier mendesis, "Ya kali masih sore gini ada jurig."

Suara itu kembali terdengar, dan Javier akhirnya memutuskan untuk bangkit dari kursi. Menatap ke arah balkon yang terletak di bagian dalam rumah. Di keheningan yang mencekam, suara itu kembali terdengar namun kali ini lebih jelas.

"Dedemit sialan gue gak takut ya sama lo!" ucap Javier dengan geram, padahal kenyataannya bulu kuduk Javier sudah mulai meremang karena takut.

Perlahan tapi pasti Javier mulai mengambil langkah menyusuri anak tangga, kebetulan menjadi penghubung antara ruang utama dan kamarnya dan juga sang adik.

Suara itu mendadak hilang setelah Javier sampai di lantai dua.

"Hmm? Ngerjain gue."

Javier kemudian berbalik hendak kembali ke lantai utama. Namun langkahnya kembali terhenti, suara itu muncul lagi. Arahnya berasal dari kamar Nadine.

Javier mendekat, yang dia ingat Nadine tengah keluar.

Napasnya tertahan ketika ia memusatkan perhatian, menunggu apakah suara itu akan terdengar lagi.

"Nadine?" panggil Javier, barangkali adiknya itu sudah kembali.

Hening.

"Nadine?" panggil Javier sekali lagi, kali ini sambil mengetuk pintu.

Masih tak ada jawaban, Javier akhirnya memberanikan diri membuka pintu bercat putih itu perlahan. Begitu pintu terbuka sepenuhnya, matanya langsung membelalak.

Tiga langkah dari tempatnya berdiri, seseorang sedang berjongkok, tubuhnya membungkuk dengan kepala tertunduk.

"Anying! Nadine! Gue kira apaan, bangk- eh, lo kenapa?" Javier menghampiri Nadine yang tengah berjongkok itu, ya, adiknya tengah menangis.

Di raihnya pundak Nadine, Nadine mendongak perlahan menampilkan mata serta hidungnya yang memerah. Javier lantas tertawa, "Haha... kusut banget muka lo."

Dikatai seperti itu membuat Nadine mengerang kesal, dan isak tangisnya bertambah kencang.

"Heh! Kenapa sih?"

"Sakit perutnya..." jawab Nadine sambil sesenggukan.

"Red day?" tanya Javier lagi, Nadine menjawabnya dengan anggukan.

Javier menghela nafas pelan, "Udah, cup cup... jangan nangis." ucapnya sambil puk puk kepala sang adik.

"Nanti gue beliin obat sakit perut, udah dulu nangisnya. Liat noh, muka lo udah kayak kertas wajik di remek-remek tau gak?"

"Tai!" tangis Nadine sudah sedikit mereda, dia mengelapi sisa air mata dan ingusnya sambil merengut.

Javier membantu Nadine berdiri, membawa adiknya ke ranjang untuk beristirahat, "Tunggu disini, gue ke apotik dulu."

"Beliin pembalutnya juga," cicit Nadine.

"Iya... ice cream mau juga?"

Nadine mengangguk, lalu puncak kepalanya diusak oleh Javier karena gemas. Kemudian kakak laki-lakinya langsung pergi detik itu juga.

Usia Nadine dan Javier hanya terpaut dua tahun, tapi rasa-rasanya dimata Javier, Nadine hanyalah gadis kecil yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak.

"Demi apa sih gue rela-relain baru pulang ngampus, bulak balik keluar rumah cuma buat ke apotik, beli obat, beli pembalut, beli eskim."

"Ya demi adek gue lah, Nadine."

Javier berjalan ke arah stand ice cream, "Yang mana ya? Mint choco? Rasa odol."

"Stoberi? Pasti ada asem-asemnya, gak enak."

"Durian? eww."

Sejak awal perjalanannya dari rumah, Javier sudah bermonolog sendiri sebagaimana kebiasaannya, untung tidak ada orang yang menegur atau sekedar menyebutnya gila.

Tak lama kemudian, ponsel Javier berdering. Nadine menelponnya.

"Duh, gak sabaran amat sih. Halo? Kenapa dek?"

"Kak, cepet pulang."

Dari balik telepon itu, suara Nadine terdengar gemetar. Dan Javier langsung menangkap sinyal itu. "Kenapa? Ada apa?"

"Mama sama Papa berantem lagi, gue takut..."

Mendengar hal itu, Javier lantas cepat-cepat menyelesaikan urusannya. Dengan segera bergegas kembali ke rumahnya sebelum terjadi hal-hal yang tak di inginkan.

Siblings Runner - [BaeSure] On Going (Revisi)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang