SR/13

187 32 3
                                        

Javier mengerjap pelan, mencoba menyesuaikan nafasnya yang terasa berat. Dokter dan perawat sudah keluar setelah memeriksa kondisinya.

"Ma, Nadine dimana?"

Sandara tersenyum, membuat kerutan samar di ujung kelopak matanya terlihat, dia duduk di sisi ranjang mengusap punggung tangan Javier. "Nadine masih di jalan, dia baru pulang sekolah. Biasanya Diyaz yang anter jemput. Sebentar lagi juga dateng."

Ah, Diyaz.

Dia tahu, pasti selalu Diyaz yang berperan menjadi kakak pengganti selama dirinya tak sadarkan diri. Terlepas soal itu, ada sesuatu yang mengusik pikirannya, seperti memori yang samar-samar muncul.

"Diyaz," gumam Javier.

"Iya, Diyaz." jawab Sandara, sedikit heran melihat ekspresi putranya. "Kenapa, Jav?"

Javier mengerutkan alis, mencoba mengingat sesuatu yang terasa jauh di ujung ingatannya.

"Aku gak yakin ada apa. Tapi selama aku tidur, aku ngerasa kayak ketemu Diyaz," jawabnya dengan suara pelan dan ragu.

"Ketemu?"

Javier mengangguk, matanya menerawang. "Kita ketemu di tempat gelap, tapi dia nyuruh aku balik. Dia bilang aku harus bangun."

"Rasanya nyata banget," bisik Javier. "Dia keliatan capek, tapi juga senyum sama aku."

Sandara mengusap kepala Javier lembut, mencoba menenangkan perasaannya yang mulai tampak kacau. "Diyaz pasti sayang sama kamu, nak. Mungkin itu cara dia ngasih semangat buat kamu."

"Sekarang, kamu fokus aja buat sembuh, ya? Biar Nadine gak sedih lagi lihat kamu sakit begini."

Kepala Javier terangguk pelan, dia menghela nafas sejenak. Soal Diyaz yang datang lewat mimpi untuk memberinya semangat, mungkin benar seperti yang dikatakan mamanya.

Setelah hening sejenak, Javier kemudian teringat sesuatu. "Ma, Papa... gimana?" tanyanya ragu.

Pertanyaan itu membuat Sandara terdiam, senyum tenangnya perlahan memudar. "Nak, mungkin kamu tau apa yang terjadi setelah kejadian waktu itu, Papa harus bertanggung jawab atas apa yang sudah dia lakukan."

Javier menutup mata, mengingat kembali peristiwa malam itu. Ia ingat suara teriakan, ingat rasa sakit yang menusuk di tubuhnya. Tapi yang paling melekat adalah rasa kecewa yang mendalam.

Javier diam dengan teriakan yang dia tahan. Menatap langit-langit ruangan, mencoba menahan air mata yang siap tumpah.

"Nak, ini cukup berat buat Mama, buat kamu dan juga Nadine. Dan Mama tau itu, sekarang kita coba lewati ini pelan-pelan ya,"

Javier menoleh, air di sudut matanya mendadak tumpah. Dia memusatkan atensinya penuh pada Sandara.

"Mama sayang kalian. Mama tau kalian pasti jauh lebih menyayangi Mama, iya 'kan?" ucap Sandara pelan seraya mengusap lembut surai putranya.

Javier tak mampu menahannya lagi, isakan kecil akhirnya lolos. Tangisannya tak bisa lagi disembunyikan, dadanya bergemuruh dengan emosi yang sulit ia bendung.

Selama ini, Javier selalu tahu Sandara mencintainya meski Sandara sendiri sadar bahwa Javier bukanlah darah dagingnya.

Tapi, kenapa Sandara bisa memberinya cinta sebanyak itu?

"Mama..." suara Javier terdengar parau, menggantung di udara sebelum ia melanjutkan, "Kenapa Mama selalu baik sama aku? Padahal aku bukan anak kandung Mama."

Sandara menatapnya dengan lembut, tanpa ragu ia menghapus air mata di pipi Javier.

"Jav, dengar Mama. Buat Mama itu gak berarti apa-apa. Kamu sama Nadine adalah anak Mama, dari pertamakali kalian ada di hidup Mama, kalian adalah alasan Mama kuat sampai sekarang."

Siblings Runner - [BaeSure] On Going (Revisi)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang