SR/09 [Double up ⬇️]

227 32 28
                                        

Javier dan Nadine melaju pulang ke rumah, tidak ada niat lain selain mengambil gitar dan boneka kukang kesayangan Nadine yang tertinggal.

Meski hanya berdua, suasana di dalam mobil cukup ceria berisi obrolan ringan yang muncul secara alami.

Hingga tak terasa mereka sudah sampai, sampai di tempat  yang membuat mereka muak untuk tinggal. Javier bahkan tak membawa mobilnya masuk, hanya memarkirkannya tak jauh dari gerbang.

"Ayo masuk, keburu Mama sama Papa pulang." ucap Javier sambil membuka pintu mobil.

Javier dan Nadine melangkah beriringan, sebelum akhirnya mereka berhenti karena menyadari sesuatu.

Dua mobil terparkir dengan asal, tak berselang lama suara gaduh terdengar dari dalam, diselingi teriakan yang tidak asing lagi bagi mereka.

"Kak," gumam Nadine, wajahnya tiba-tiba tegang.

"Kita balik lagi aja," jawab Javier, mengambil keputusan dengan cepat, Javier enggan dirinya dan sang adik terlibat dalam drama orang tuanya lagi.

Tapi saat teriakan Dara kembali terdengar beriringan dengan suara hantaman benda yang keras, mereka berdua seketika menatap satu sama lain, tidak bisa mengabaikan insting untuk memeriksa.

Kekacauan menyambut mereka, mulai dari sofa yang terbalik hingga barang-barang berserakan. Menuju ke arah dapur tempat suara-suara gaduh berasal, mereka menemukan pemandangan yang membuat jantung mereka berdetak hebat.

Dara duduk di lantai dengan penampilan yang sangat berantakan. Dara tersedu-sedu, matanya merah sembab, rambutnya acak-acakan, baju yang seharusnya rapi kini kusut, dan banyak bekas luka menghiasi kulitnya.

"Mama!" pekik Nadine berlari menghampiri, tanpa ragu dia berlutut di samping mamanya yang tampak tak berdaya, manik Nadine mulai berkaca-kaca. "Kenapa lagi, Ma? Kenapa bisa begini?"

Di samping Dara, ada kursi kayu yang patah, mereka tahu dengan pasti itu adalah ulah Dion yang tidak mampu mengendalikan amarahnya. Kaki Dara memar, menambah rasa sakit di hati putra dan putrinya.

"Kenapa selalu kayak gini?" Nadine mulai menangis, memegang tangan Dara yang dingin.

Di sisi lain, Javier langsung beralih pada Dion. Dion dalam keadaan tak kalah berantakan, wajahnya kemerahan dan bau alkohol menyengat mencengkeram ruangan. Gelagat Dion menunjukkan bahwa dia dalam keadaan mabuk.

"DASAR JALANG!" teriak Dion seketika membuat hati Javier dan Nadine mencelos sakit.

"Pah! Udah Cukup! Papa keterlaluan!" teriak Javier gemetar. Ini pertama kali Javier mendengar Mamanya disebut sebagai jalang, bahkan kata itu muncul dari mulut Papanya sendiri. Hati anak mana yang tak sakit?

"JANGAN IKUT CAMPUR JAVIER!" bentak Dion, dia mendorong Javier hingga terhuyung mundur. "INI BUKAN URUSAN KAMU!"

"PAPA!" Nadine berteriak terkejut, dia tak terima. Dia berdiri di samping Dara, mendekati Dion mendorongnya, membalas perlakuan Dion pada Javier.

Mata Dion memerah, "SAYA BILANG JANGAN IKUT CAMPUR!" Dion menghempas Nadine dengan tangannya hingga membuat Nadine benar-benar terjatuh ke lantai.

Javier kalut, dia melayangkan bogeman mentah hingga membuat Dion terhuyung-huyung.

"KEPARAATT!" teriak Dion tak terima.

BUGH! BUGH!

Dion membalas dengan dua pukulan yang tak kalah kuatnya. Javier berhasil mundur beberapa langkah untuk menghindari tinjuan Dion yang ketiga kali, tubuhnya berhenti karena terantuk tembok.

Hal itu di jadikan kesempatan bagi Dion untuk semakin menyudutkan Javier, lengannya dia gunakan untuk menghimpit leher hingga Javier kesulitan bernafas.

Siblings Runner - [BaeSure] On Going (Revisi)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang