What if...✨

215 25 27
                                        


"Bagaimana jika hari itu tidak pernah berubah menjadi duka?"

🍃

"Kakak pesan snack banyak banget, tumben."

Nadine mengangkat bahu tak acuh, "Mama gak usah heran, dia kan emang suka kadang-kadang."

Sandara terkekeh pelan, agak setuju dengan pernyataan barusan, "Orangnya kemana?"

"Lagi di toilet."

Tak lama setelahnya, Javier muncul dari balik pintu toilet. Sandara dengan segera menghampiri, dia menggandeng putranya dengan hati-hati. "Kok jalan sendiri sih? Kalau jatuh gimana?"

"Gak bakal," jawab Javier sambil terkekeh. "Mama beliin jajan Shinchan gak?"

"Iya, udah tuh." tunjuk Sandara dengan dagu.

Manik Javier mengikuti arah, lalu dia melotot begitu melihat Nadine tengah membuka salah satu snack itu. "Eh, gak boleh! Itu jajan gue..."

Gerakan Nadine terhenti, dia mendengus sebelum meletakkan kembali bungkusan yang sudah dia gigit di bagian ujung. "Pelit!"

"Beli lah sendiri!" Javier sudah ada di hadapan Nadine. "Ini tuh buat Diyaz juga."

"Kok kepikiran mau ngasih Diyaz?" tanya Sandara.

"Iya Ma, aku kasian, dia makannya cuma sama kuah garam. Kalau dikasih jajan ini, pasti dia suka."

"Gue juga suka kan... minta... satu aja, hehe."

Javier tersenyum jahil sebelum menjawab, "Minta yang bener, yang bikin hati gue seneng."

Nadine mendengus, "Kakak aku yang paling ganteng, paling baik hati, rajin menabung dan tidak sombong, aku minta jajan Shinchannya satuu aja yaa... boleh? Nanti aku beliin Photocard Haruto Trijur deh."

Javier tertawa puas, padahal tanpa harus membujuk pun dia akan dengan senang hati memberi Nadine lebih dari satu.

"Terserah lo mau ambil berapa, asal sisain gue sama Diyaz. Gue mau tidur dulu, abis makan siang nanti gue mau ke ruangan Diyaz lagi." imbuh Javier dan langsung ambil posisi.

Kelopak matanya sudah berat sejak tadi. Hospital bed itu seolah memanggilnya untuk beristirahat.

🍃

"Kakak makannya beneran masih mau sama kuah garam aja?" tanya Amara memastikan.

Diyaz masih mengunyah, dia membaca sesuatu di balik sorot mata Amara. "Bunda sedih, ya?"

"Bukannya sedih—"

"Maaf ya, bikin Bunda sedih lagi," cicit Diyaz. "Kalau udah pulang dari sini, kakak pasti makan seperti biasa kok. Kakak juga kangen sama masakan Bunda..."

Amara membelai wajah putranya dengan lembut, "Iya, nanti Bunda masakin. Makanya kakak cepet sehat, oke?"

Diyaz mengangguk, senyum tipisnya muncul lagi. Amara juga mengusak puncak kepala Kanaya yang sudah siap dengan sendok di tangan, "Nay temenin kakak dulu, ya? Bunda mau keluar sebentar."

"Oke!" jawab Kanaya riang seperti biasa.

Lalu tak lama setelah presensi Amara menghilang, Javier dan Nadine muncul dari balik pintu.

Siblings Runner - [BaeSure] On Going (Revisi)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang