SR/01

436 58 33
                                        

Audita menelisik ruangan tempat berdirinya sekarang, dari penampilan dan segi ukurannya sangat jauh berbeda dengan tempat tinggalnya yang sebelumnya.

Setelah semua ini terjadi, Dita merasa orang-orang bahkan kerabat dekatnya mendadak menghilang. Seolah menghindari kejadian malang yang menimpa keluarganya. Mereka takut di mintai pertolongan atau bagaimana?

Beruntung dengan ajaibnya, Julio bisa dengan mudah menemukan kontrakan untuk persinggahan sementara. Ya, semoga hanya sementara.

Kamar dengan ukuran 3x3 meter dan hanya berisi ranjang, lemari dan meja belajar itu menjadi tempat istirahatnya sekarang, setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam.

"Gue beneran tidur disini?" bisik Dita pada dirinya sendiri.

Tak lama kemudian Julio masuk setelah mengetuk pintu dan mendapat izin dari Dita.

"Jangan di pake tidur dulu, masih banyak debu." Julio datang dengan membawa sapu dan kemoceng beserta lap kering yang tersampir di pundaknya.

"Lo mandi aja dulu, biar gue yang bersihin."

Atas interupsi barusan, Dita patuh mengiyakan, tak ingin menunggu lebih lama lagi. Dita celingukan mencari letak kamar mandi. See, bahkan di dalam kamar ini juga tidak ada kamar mandi.

"Kamar mandinya di belakang," ujar Julio menangkap wajah bingung sang adik. "Kamar disini gak ada kamar mandinya."

Dita menghela nafas, berapa kali dia harus di ingatkan bahwa kehidupannya kini sudah memasuki variabel yang berbeda.

"Baju kotornya masukin keranjang deket pintu kamar mandi," ujar Julio lagi sambil tangannya fokus dengan bersih-bersih, membiarkan Dita melakukan kegiatannya sendiri. Itung-itung beradaptasi dengan tempat baru mereka.

"KAK! KAKAK!"

Suara Audita dari arah kamar mandi itu sontak membuat Julio segara beranjak menghampiri.

"Kenapa?" tanya Julio dengan raut wajah khawatir.

"Gimana mandinya? Gak ada shower." ucap Dita sambil celingukan.

Hal itu lantas membuat Julio menghela nafas lelah, "Disini gak ada shower, Dita..." Dia kemudian mengambil gayung yang ada di sana.

"Pake ini, krannya idupin supaya kolamnya ke isi air. Oke?" setelah dirasa Dita mengerti, Julio pun kembali pada pekerjaannya yang sempat tertunda.

Sepeninggal Julio, Dita masih saja menunjukkan wajah cengo. Jadi, ini kolam? Dita kira bathub. Pantas aneh, kok ada bathub setinggi ini.

Kurang lebih setengah jam berlalu, Julio dan Dita sudah rampung dengan urusan mereka. Sekarang Julio sedang menikmati kopi hitam yang di buatnya selagi menunggu sang adik berbenah pakaian.

Satu notifikasi pesan masuk mengalihkan atensi Julio, sebelum dirinya membuka pesan tersebut, suara Dita sudah terdengar lebih dulu.

"Kak, Kak Ragas kecelakaan."

"Iya, barusan maminya kasih tahu gue." jeda helaan nafas, "Ada-ada aja lagi, padahal terakhir kali dia ngasih tau lagi di basecamp."

"Ayo Kak, jenguk, Gina juga pasti lagi sedih sekarang."

Tanpa menunggu lama lagi, kakak beradik itu langsung bergegas, namun mereka lupa bahwa kini tidak ada kendaraan yang bisa mereka gunakan.

"Ojol, ojol."

"Oke."

🍂

"Udah jangan nangis, gue gak apa-apa kok. Cuma kelingking doang yang keseleo dikit."

Siblings Runner - [BaeSure] On Going (Revisi)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang