Chapter 5 ; Terlalu anomali

790 126 1
                                        

HAPPY READING

"Cuma itu?" Halilintar turun dari ayunan, mendekati Beliung yang berdiri di depannya.

Beliung mengangguk pelan, senyuman tak luntur dari wajahnya sejak tadi, "yups, jauhi Taufan, dengan itu aku gak akan bilang apapun soal kamu ke dia.".

Halilintar menarik kerah seragam Beliung tanpa aba—aba, membuat Beliung sedikit terangkat lantaran perbedaan tinggi badan mereka. Matanya menatap tajam, namun tak sedikitpun Beliung merasakan takut.

"Aku gak akan diam aja kalau kamu sampai bilang kalau—".

"Sayangnya, Taufan harus tau kalau kamu gak sebaik yang dia kira." Beliung melepaskan tangan Halilintar, bibirnya menyunggingkan senyum lebar, namun bukannya terlihat manis tetapi justru terlihat mengesalkan dimata Halilintar.

Beliung mengalihkan pandangannya kearah lain begitu sudut matanya tak sengaja melihat Rimba yang bermain kejar—kejaran dengan salah satu anggota dari eskul voli.

"Kamu yakin adik kesayanganmu itu akan tetap waras setelah tau semuanya?" tatapan Halilintar melunak namun bukan berarti amarah telah menghilang dari pikiran dan hatinya.

Beliung memiringkan kepalanya dan tersenyum semakin lebar, "aku gak bisa biarin Taufan terus berada bersama orang seperti kamu. Kamu emang keliatan baik, tapi gak ada seorangpun tau apa yang sedang kamu pikirkan saat ini.".

Tangannya menyentuh dagu Halilintar, matanya menatap lekat netra ruby milik sang lawan bicara, "bisa aja kamu sedang merencanakan sesuatu bersama orang itu untuk lebih menghancurkan keluargaku," Beliung melanjutkan ucapannya.

Halilintar menepis tangan Beliung dengan kasar, rahangnya mengeras. Ia benci dengan orang seperti Beliung, yang tersenyum ketika Halilintar sedang marah.

"Pergi." titah Halilintar dengan intonasi datar tanpa nada.

Beliung mengangkat bahunya lalu dia berbalik untuk pergi dari sana, lagipula berlama—lama bersama Halilintar bukanlah hal yang menyenangkan.

Beliung heran, apa yang membuat Taufan bisa berteman baik dengan Halilintar, padahal Halilintar saja tidak menyenangkan ketika diajak mengobrol. Sebenarnya kenyamanan seperti apa yang Halilintar berikan pada Taufan sehingga adiknya lebih dekat dengan Halilintar dibanding dengannya, saudara kandung Taufan sendiri.

Beliung berdecak pelan, rasanya tak rela melihat adiknya lebih nyaman bersama orang lain dan bukan dengannya.

"Aku menyukai orang sepertimu," ucap Ice, sedari tadi ia diam mendengarkan setiap kalimat yang dilontarkan oleh Beliung dan Halilintar. Namun Ice tidak berniat mengganggu pertengkaran kecil itu, lantaran baginya kolam ikan didepannya lebih menarik.

"Hm?" Halilintar mengernyitkan dahinya, ia tak paham apa maksud Ice.

Ice berdiri menjauhi kolam yang berisi puluhan ikan koi tersebut, "tentu saja bukan rasa suka seperti kepada lawan jenis, aku hanya menyukai ketika kamu tak membiarkan amarah menguasai dirimu." ucapnya, namun wajahnya datar tanpa ekspresi seakan tak memiliki sedikitpun emosi dalam dirinya.

"Sepertinya Blaze sudah menunggu, aku pergi dulu Halilintar, sampai jumpa." Ice melangkah pergi siap meninggalkan Halilintar dalam kesendirian, tidak benar—benar sendirian lantaran masih terdapat segelintir orang berlalu lalang di taman sekolah.

"Sejak kapan kamu banyak bicara kayak gini?" pertanyaan Halilintar menghentikan langkah Ice. Sedikit tidak dipahami oleh Halilintar, Ice yang bahkan hampir tidak pernah bicara tiba—tiba mengucapkan kalimat sepanjang itu tentu saja mendatangkan banyak spekulasi di kepala Halilintar.

[✔] RANTAI LUKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang