"Gak kerasa udah siang bolong aja, kayaknya gue udah harus pulang nih." ucap Javier setelah melirik arloji di tangan kirinya.
"Ah, iya. Gue juga mau balik." ujar Julio.
Diyaz yang semula memainkan ponsel itu tiba-tiba sadar akan satu hal, dirinya kemudian melirik Julio, "Jul, lo kesini naik apa? Tadi di luar gue gak liat ada Chilly."
Javier yang sejujurnya ingin menanyakan hal yang sama, ikut melirik Julio.
Yang di tanya terdiam sebentar lalu menghela nafas. Wajah resahnya jelas mengundang tanya dari ketiga temannya.
"Ditaaa..."
Suara Regina, Kanaya, dan Nadine mengalihkan perhatian. Ternyata beberapa menit sebelumnya, Nadine menanyakan hal sama seperti yang di tanyakan Diyaz pada Julio. Mau tak mau, dengan berat hati Audita menceritakan semuanya.
Menceritakan bagaimana variabel kehidupannya berbalik 180 derajat dalam kurun waktu kurang dari setengah hari.
Sedangkan Julio sendiri, dia hanya bisa mematung berdiam diri sambil melirik ke arah Sang Adik yang sudah berada dalam rangkulan teman-temannya.
Julio tidak ingin melibatkan siapa pun atau membuat mereka mengetahui masalah keluarganya secara mendalam.
Namun, situasi saat ini sudah berada di luar kendalinya. Audita, dengan air mata yang terus mengalir, telah menceritakan semuanya, dan kini ketiga gadis itu ikut larut dalam tangisan.
Julio tidak menyalakan Dita, itu hal yang wajar. Jika bukan kepada teman-temannya maka kepada siapa lagi Dita mengadukan masalahnya.
Masalah sebesar ini tidak mungkin Audita memendamnya sendirian. Bahkan eksistensi Julio sebagai kakak pun tidak cukup, dan Julio mengerti hal itu.
Tak terlepas dari hal itu, Julio benar-benar merasa kecewa, pada kedua orangtuanya, dia bahkan tidak peduli pada apa yang akan kedua orangtuanya alami di luar sana. Biarlah orang-orang yang berada di bawah kuasa orang tuanya yang menyelesaikan masalah ini. Julio sudah terlampau sakit hati.
Setelah semua ini terjadi, Julio dan Dita pasti akan di cap sebagai anak koruptor. Mereka akan menerima hinaan dan cacian karena menjadi gelandangan. Setidaknya itulah yang di pikirkan Julio sekarang.
Julio sedikit berjengit kala dirinya merasakan tepukan halus di pundak. Pelakunya adalah Javier, sedang Ragas dan Diyaz menatapnya penuh tanya, menuntut agar dirinya mau bercerita.
Tak ada pilihan lain. Julio menghela nafas berat, bahunya merosot ketika mulai menceritakan apa yang terjadi. Raut wajah iba tak bisa di sembunyikan ketiga temannya yang menjadi pendengar setia.
Bagaimana pun semuanya sangat tiba-tiba, meski sudah dewasa sekalipun, Julio tidak bisa menghadapi ini sendirian.
Julio bahkan menuntaskan curhatannya dengan mata berembun.
"Lain kali kalo ada apa-apa langsung cerita, jangan nunggu di paksa." ucap Diyaz sambil mengusap pelan bahu Julio.
"Kita temenan dari orok, Jul. Ngerasa gak berguna banget gue kalo sekedar jadi tempat cerita aja gak bisa, kita emang gak selalu bisa kasih solusi. Tapi seenggaknya dengan cerita, beban di pundak lo bakal berkurang."
Ucapan Diyaz dan kalimat panjang Ragas membuat jantung Javier mendesir, pasalnya, dia juga tengah menghadapi konflik. Tapi Javier sendiri bingung bagaimana memulainya.
Javier menarik napas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya perlahan.
"Gas, Jul..." suaranya terdengar sedikit serak. Dia melirik Diyaz yang memberinya tatapan penuh perhatian, seolah menunggu kalimat apa yang mau dia ucapkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Siblings Runner - [BaeSure] On Going (Revisi)
Teen FictionTreasure hyung line ft. Pharita Rora Ruka Asa Just for fun 乁| ・ 〰 ・ |ㄏ
![Siblings Runner - [BaeSure] On Going (Revisi)](https://img.wattpad.com/cover/369957523-64-k594118.jpg)