|||
"Mungkin mereka pergi lisa. Haish kau cengeng sekali, berhenti menangis !"
"Siapa yang menangis, aku tidak"
"Lihat kedua bola matamu itu berkaca-kaca, jangan sampai riasanmu luntur, kita akan pergi ke pernikahan mantan suamiku sekarang"
"Aku belum menangis hanya sedih, aku mendapatkan beberapa pesan dari Jennie namun dia sepertinya kecewa padaku, dia marah padaku. Terakhir dia mengirim pesan tepat dihari keempat belas, pesan terakhirnya tertulis 'Lisa aku kecewa padamu' namun sekarang ponselnya tidak aktif Rosie dan ibunya pun tak menerima panggilanku. Sepupuku pun sama menyebalkannya, dia tidak menerima panggilanku mungkin saja mereka sedang bersama ataupun sepupuku mengetahui dimana kekasihku"
"Setidaknya dia sudah membaca seluruh penjelasanmu dalam pesan. Lebih baik fokus dan matikan ponselmu sepertiku, hilangkan perasaan negatifmu itu, berfikir positif Lisa, just calm down ok. Kau membawa cincinnya ? Jangan sampai kau meninggalkannya di Jepang lisa"
"Tentu saja sudah, aku membawanya dalam saku blazerku, disini"
Lisa berusaha menuruti ucapan Rosie untuk menghilangkan seluruh perasaan buruk, ia menutup mata mengatur nafas, Lisa yakin dengan tujuannya kini bahkan sirat senyum terlihat dikedua sudut bibirnya. Lisa mengepalkan tangan yang ia masukkan kedalam saku blazer. Keduanya telah mendarat di Korea beberapa jam lalu dan Rosie menepati janji untuk mengantar Lisa menuju rumah mantan kekasihnya namun nihil karena Jennie tak berada disana. Lisa kecewa tanpa sebuah pertemuan, lisa tak sabar ingin meminta Jennie untuk sisa hidupnya.
"Semoga berhasil dan aku menunggu undangan pernikahan kalian. So, sekarang kita langsung menuju venue resepsi pernikahan mantan suamiku"
"Kau bisa saja menolak menghadirinya Rosie atau jangan katakan kau cemburu, kau masih mencintai mantan suamimu dan tak rela jika dia memiliki istri baru ?"
"Ck, bukan karena cinta ! Aku percaya pada diriku jika rasa cintaku padanya sudah memudar perlahan namun karena kami berpisah dalam kondisi baik-baik saja maka tidak ada salahnya menghadiri, aku tidak hanya mengenal mantan suamiku namun keluarganya juga. Aneh sekali, hubungan baik kami kembali terjalin ketika kami justru mulai mengurus perceraian, kami seperti teman baik setelah berpisah Lisa. Lihat saja, aku akan meninju lengannya tepat dihadapan istrinya itu"
"Miris sekali mantan suamimu berkomitmen untuk childfree, setidaknya aku lebih baik. Kasihan istri barunya tapi mungkin istrinyapun memiliki prinsip yang sama"
"Semoga saja dia berkata jujur dan istrinya sudah mengetahui keinginan mantan suamiku, jika tidak maka kurang ajar sekali dia sudah berbohong hanya demi mendapatkan wanita itu"
Lisa kini memiliki filtrasi diri lebih baik, ia tak akan menelan bulat seluruh pengalaman serta ucapan buruk mengenai pernikahan. Lisa sadar jika ia berpikir seperti itu maka ia tidak mempercayai Jennie dengan seluruh keindahan pernikahan yang akan Jennie berikan padanya. Lisa tak ingin memasukkan pikiran buruk itu kedalam kepala, fokusnya kini hanya pada Jennie dan memiliki kehidupan bersama Jennie untuk selamanya
Mereka telah sampai disebuah venue, bukan kemewahan yang dihadirkan karena kedua mempelai memang menginginkan sebuah keintiman acara bahkan tidak banyak tamu yang hadir hanya beberapa relasi serta kerabat penting, keluarga sanak saudara dan para sahabat.
Rosie berjalan lebih dulu sementara Lisa melangkah dalam hiasan senyum bahagia. Isi didalam kepalanya kini tentang mereka, Jennie dan Lisa dalam sebuah acara pernikahan. Bagaimana bisa Lisa baru menyadari jika ikatan pernikahan begitu indah, Lisa menatap sekitar disana terlihat kegembiraan, Lisa melihat setiap orang dengan wajah serta senyum bahagia. Lisa menginginkan waktunya bersama jennie, berdiri diatas altar mengucap janji suci.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Commitment
RomanceKisah cinta sepasang kekasih dengan perbedaan prinsip akan sebuah pernikahan. Salah satu tak akan pernah siap dengan sebuah komitment karena tak pernah melihat kebaikan dalam sebuah pernikahan, ia kehilangan kepercayaan pada sebuah pernikahan. Prins...
