|||
Lihatlah wajah menggemaskan yang masih terlelap. Kami telah sampai didepan kediaman Lisa dan Ruby. Ruby benar-benar ingin pulang, aku dan mommy bahkan Gray sudah membujuk agar dia menginap namun Ruby menolak, dia merindukan mama nya. Sebaliknya, Ruby yang meminta kami menginap dirumahnya agar semua bisa mengantarnya besok ke bandara.
Aku tak henti mengusap surai rambutnya, menarik kembali selimut menutupi tubuh mungil nan berisinya namun usapan jemariku diwajah Ruby mengusiknya hingga dia menggeliat terbangun dan mengerjapkan mata kucingnya beberapa kali, lihatlah wajah murni ini menatapku dengan senyum cerahnya, senyummu seperti mama mu Ruby, bersinar memberi kehidupan.
Detik itupun pagar otomatis rumah Lisa terbuka namun apa yang kulihat membuat tubuh serta hatiku seketika mati rasa bahkan aku melemaskan kedua bahuku begitu kecewa, mataku hanya terpaku pada pemandangan menyakitkan dihadapanku bahkan senyum cerah Ruby tak mampu menghapusnya.
Balasan yang setimpal bahkan lebih menyakitkan kembali datang. Dulu kau menatap kepergianku dengan seorang pria, kau melihat siluetku dan seorang pria didalam mobil, kini aku yang melihat siluetmu namun lebih dari yang kuduga.
Lisa, apa kau salah satu diantara dua orang yang sedang bercumbu mesra didalam mobil. Tidak mungkin siluet itu hanya saling berbisik.
Dalam usahaku membebaskanmu, pada kenyataannya selalu penuh luka, pemandangan dihadapanku benar-benar menusuk mata hingga aku mendapati pipiku telah basah, kau benar-benar telah pergi jauh meninggalkanku Lisa.
"Aunty Jane menangis lagi ? Aunty !"
Aku bergegas meraih tisu, menyeka seluruh air mataku dan dengan cepat membawa Ruby keatas pangkuanku sebelum dia melihat kedepan sana. Melihat ibunya bercumbu mesra bersama wanitanya.
Ternyata ini alasan kau terlambat menjemput anakmu Lisa, hanya karena ini.
Rasa kantuk berat membuat Ruby seketika bersandar didadaku begitu pasrah. Aku tak henti mengusap punggung Ruby sebagai penenang, lalu siapa yang mengusap punggungku untuk mendamaikan hatiku. Aku tak dapat memungkiri jika pemandangan ini sungguh menyakitkan. Aku menjadi benteng untuk Ruby, aku memeluknya hanya agar dia tidak melihat situasi yang belum pantas ia lihat, biar mommy yang memasang badan untukmu.
"Aunty mengapa menangis lagi, kita sudah sampai dirumahku, ayo turun aunty, aku ingin tidur lagi dikamarku"
"Tunggu sebentar sayang, sebentar saja. Besok kau akan terbang dan mungkin besok adalah hari terkahir aunty bisa melihatmu saat aunty mengantarmu ke bandara, aunty akan sangat merindukan Ruby. Tidurlah disini kesayangan aunty, terlelap dipelukan aunty, nanti aunty akan memindahkanmu ke kamarmu"
"Tapi aunty jangan menangis lagi, Ruby bisa kembali saat weekend atau aunty yang terbang ke LA, cup cup cup aunty Jane, don't cry"
Tidak semudah itu Ruby, mama Lisa tak akan membiarkan semua itu terjadi bahkan aunty tidak tahu, kita bisa bertemu kembali atau tidak.
Meski dia mengantuk namun tangan mungilnya tak henti mengusap pipiku berusaha menenangkan aku yang sungguh tak bisa menahan air mata. Lisa dan Ruby, keduanya ada dihadapanku. Ruby dengan jiwa yang menenangkan dan Lisa yang semakin menyakitkan, tangisku bahkan pecah seketika tepat dihadapan Ruby, aku tidak dapat menahannya ketika aku menutup wajah dengan kedua tanganku.
"Maafkan aunty Ruby, aunty sangat sedih"
"Aunty Jane lihat Ruby"
Aku meraih kedua tangan Ruby mencium punggung tangannya tanpa henti. Maafkan mommy karena menjadikanmu benteng dari pemandangan menyakitan dihadapan sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Commitment
Storie d'amoreKisah cinta sepasang kekasih dengan perbedaan prinsip akan sebuah pernikahan. Salah satu tak akan pernah siap dengan sebuah komitment karena tak pernah melihat kebaikan dalam sebuah pernikahan, ia kehilangan kepercayaan pada sebuah pernikahan. Prins...
