27

11.2K 234 27
                                        

Terima kasih komentar baiknya...
Suport baiknya...
Taburan-taburan bintangnya...

Jujur aku sedikit ngga pede dengan cerita caca. Karna mungkin sudah bukan dieranya. Aku bukanlah mahasiswa yang kalo kecintaan rada oon. 😭 jadi agak susah relate sama Caca.

Maklum penulis amatiran.

Tapi...
Aku tererima kasih banget sama kalian yang masih bahagia saat baca cerita ini.

Luv luv luv
🍒🍒🍒

===

Caca mengusap kaki dan juga tangannya, mencari keberadaan seseorang yang seharusnya berada di tempat tersebut. Tapi nyatanya tidak ada, kemana Dani? Dengan susah payah melawan kantuk Caca mencoba membuka mata dan melihat kesekeliling tempat mencari beradaan Dani. Laki-laki itu tengah duduk di depan tv sambil menonton acara berita pagi tanpa suara.

Dengan malas Caca melangkahkan kakinya menuju Dani yang dengan sigap membuka lengan menerima Caca untuk duduk di pangkuannya "selamat pagi sayang, sudah bangun?"

Caca enggan menjawab dia hanya merebahkan kepalanya di pundak Dani dan menikmati waktu-waktu krusial. Mengumpulkan nyawa.

"Karna kamu sudah bangun, aku beri volume tv sedikit ya?" Dani membesarkan volume tv yang sedang dia tonton. Dia sudah bangun sejak dua jam lalu, entah mengapa rasa kantuk hilang dan membuatnya terjaga. Sedangkan dia enggan mengangu Caca, pacarnya itu nampak kelelahan sejak kemaren.

Caca bergumam tepat ditelinga Dani, menanyakan pukul berapa saat ini. "Baru jam setengah 6 sayang. Tidur lagi, nanti aku bangunkan jam 7. Aku mendengar dari Jovan kita harus berkumpul jam 8 untuk sarapan." Dani mengusap punggung Caca memberikan rasa nyaman agar pacarnya itu kembali tidur.

Selang beberapa saat fokus Dani teralihkan oleh getaran Handphone di sampingnya. Ada pesan dari Galih tentang rapat mingguan yang akan diadakan hari rabu depan. Jelas dirinya harus datang, sebab ini menyangkut eval rutin setelah acara BEM beberapa saat kebelakang.

Jika di pikir kembali, Dani menyesal karna telah memperlakukan Caca seperti itu. Benar ucapan Jovan, Caca pantas mendapatkan laki-laki yang lebih daripada dirinya. Akan tetapi dia tidak mau, enak saja mau berpacaran dengan Caca. Dia saja mendapatkan Caca sangat sulit, salah satunya harus mau berbaur dengan Jovan. Dani masih tetap ingin menonjok muka tengil Jovan, dibanding Rico mereka berdua nampak serasi bersama. sama-sama menyebalkan.

Dering ponsel Caca menyita fokus Dani dan juga Caca. Caca sungguh ingin meneriaki siapapun yang menelfonnya saat ini. Dia enggan mengangkat telfon tersebut, hanya saja dering itu tidak ada hentinya. Membuat dia mau tidak mau harus beranjak dari pelukan Dani dan mengangkat telfon itu.

Kening Caca mengerut saat mendapati nama Rico di ponselnya. Ngapain pagi-pagi buta di hari Minggu seperti itu lelaki itu menelfonnya.

'Hallo.' Sapa Caca dengan tidak pasti. Takut-takut Rico salah pencet.

'Ca, lo bisa ngehubungin Linda? Gw hubungin dr kemaren lusa kagak nyaut tuh.'

Kening Caca mengerut 'kenapa emang?'

'Ditanya malah balik tanya. Lo tau Linda kenapa susah di hubungin kagak?'

Caca mengangguk, menjawab pertanyaan Rico. Walaupun Rico tidak melihatnya 'kenapa dulu nyariin?'

'Caca ngga suka ya kalo abang cuma kepo doang.' Caca mengancam, enak saja. Lelaki playboy macam Rico mau macam-macam dengan Linda beastinya itu.

Suara decakan kesal Rico terdengar jelas di telinga Caca. Dirinya kesal karna Caca cerewet sekali. 'Ca, gw butuh informasi yang jelas ya. Linda kemana? Dari jawaban lo, lo tau kan dia kemana?'

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 15, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Dia Pacarku! (21+)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang