Dani segera berlari keluar kelas saat Dosennya mengakhiri perkuliahan hari ini. Tadi sekitar sejam lalu dirinya mendapat pesan dari Galih bahwa dirinya melihat Caca memasuki gedung kampusnya. Selama 1 jam terakhir kelasnya berlangsung, Dani sudah kehilangan fokusnya. Ucapan dosen didepannya sama sekali tidak ada yang bisa masuk kedalam otaknya, pikirannya hanya berisi tentang Caca.
Sudah seminggu lebih Caca tak ada kabar, sudah entah berapa pesan dan panggilan yang Dani lontarkan kepada perempuan itu, tapi selalu tidak ada respon. Selama ini dirinya hanya mendapatkan kabar Caca dari Galih, lelaki itu setia memberikan status yang Caca unggah di media sosial. Dari apa yang Caca unggah, perempuan itu semakin dekat dengan teman-temannya, terutama Jovan. Lelaki itu mampir di status media sosial Caca, bahkan mungkin setiap saat akan ada Jovan yang berada di sisinya.
Dari kejauhan, Dani bisa melihat Caca yang sedang berjalan keluar dari gedung kampusnya. Perempuan itu tersenyum dan menatap jenaka kepada Jovan yang tengah duduk di atas kap mobilnya. Dani sedikit kesal melihat satu lelaki itu, kenapa dia harus ada di sana?
"Ca!" Dani berteriak saat melihat Caca akan memasuki mobil Jovan.
Kedua orang tersebut berhenti di samping pintu mobil Jovan, Caca paham betul suara siapa yang memanggilnya, sang pacar Dani!
"Sayang!" Panggil Dani kembali.
Caca membalikkan badan untuk melihat Dani, sedangkan Jovan hanya mendengus kesal dan pergi memasuki mobil. Membiarkan Caca menyelesaikan masalahnya, jika memang perempuan itu mau berbicara dengan Dani. Jovan akan menunggunya, tanpa harus ikut campur dalam urusan keduanya.
Caca melangkah kearah Dani, memberi jarak aman sekitar satu meter dari lelaki itu. Menatap Dani tepat di matanya dan menanyakan ada perlu apa, tanpa harus bersuara.
"Ada banyak hal yang mau aku omongin." Ucap Dani singkat, Caca sepertinya tidak mau berlama-lama bersamanya.
"Tentang apa?"
"Kita, hubungan kita." Dani sedikit melangkah maju saat Caca merespon obrolannya.
Caca menghela nafas lelah, sinar matahari sangat terik sehingga dia sedikit memicingkan matanya, "langsung aja, kayanya..., Kita dah lama ngga cocok kak. Dari pada aku membebani kak Dani, dan kak Dani terbebani denganku. Kita udahan aja, makasih."
Dani menggeleng keras, dia tak mau hubungannya kandas mengenaskan seperti ini. Dengan cepat meraih pergelangan Caca dan berkata "Ngga, kita ngga bisa putus Ca. Kalo kamu butuh waktu, okey. Aku tunggu, banyak yang harus aku jelasin ke kamu."
Caca diam, sudah pasti akan ada drama menyebalkan seperti ini. "Kamu yang butuh waktu Kak, bukan aku. Kita..., Dah ngga cocok buat bersama."
"Dengerin aku dulu ya."
"Dengerin kamu? Trus balik lagi kaya dulu? Aku cape kak." Caca sedikit risih dengan tatapan beberapa mahasiswa yang lain, pasti namanya akan lebih rusak dari sebelumnya.
"Ikut aku, aku jelasin. Bentar." Dani menggandeng tangan Caca dan jalan kearah pintu mobil Jovan.
Mengetuk pelan kaca pintu mobil Jovan, dan menyuruhnya menurunkan kaca mobil disebelahnya "Caca gue yang anter, lo balik sendiri aja."
"Ca?" Tanya Jovan, dia tak keberatan jika harus pulang sendiri. Tapi jika itu yang Caca inginkan.
"Balik aja Jo, nanti gue Wa lagi." Ucap Caca kepada Jovan, dia sudah malas dengan situasi seperti ini.
Jovan hanya mengangguk paham dan menutup kaca mobilnya. Melihat Caca yang berjalan bersama Dani dan hilang dari pandangannya.
Caca memasuki mobil Dani, memasak sabuk pengaman dan membaca pesan dari Jovan yang baru saja masuk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dia Pacarku! (21+)
ChickLit⚠️ 21+ ==== "Aku tu, masih ngga habis pikir" ucap Linda memandang lelaki jangkung yang berdiri jauh dari tempat duduknya. "Ngga habis pikir kenapa?" tanya Rara mengikuti arah pandang Linda. "Orang kaya kak Dani kok mau sih sama Caca?" jawabnya sambi...
