Jangan bertanya bagaimana Nayara menikmati tidurnya kemarin. Ia akan menjawab dengan lantang bahwa ia tidak tidur sama sekali, untuk memejamkan matanya rasanya enggan. Tak hanya sampai situ saja ia bahkan menelepon Nadia sambil menangis, ia berpikir bagaimana ia bisa melewati besok. Nayara memang salah tak seharusnya ia menyembunyikan identitas Mentari pada siapa pun, tapi saat itu ia bingung harus ke mana lagi mencari pekerjaan karena semua persyaratan mengharuskan calon pekerja belum menikah.
"Maaf ya, Nay. Aku juga bertanggung jawab soal ini." Ucap Nadia melalu sambungan telepon. Pagi-pagi buta perempuan itu menelepon Nayara.
"Bukan salah kamu. Aku malah berterima kasih karena kamu mau membantuku." Ucap Nayara
Benar tapi tetap saja Nadia merasa bersalah karena ia juga memberi ide untuk kantornya, ia tidak masalah jika bosnya akan memberi Nadia hukuman. Ia juga siap dengan risiko tersebut. "Terus kamu gimana? Apa aku pulang aja ya?" Tanyanya
"Nggak usah... Aku bisa hadapi soal ini kok." Nayara memamerkan amplop berwarna putih, "Aku sudah memikirkan ini semalaman dan rasanya sebagai sikap yang baik, aku akan keluar. Besok aku bawa suratnya." Jelasnya
Nadia terdiam ia memahami keadaan saat ini yang sama sulitnya untuk Nayara, namun ia berjanji akan terus menemani Nayara dan mencari pekerjaan baru yang bisa menerima seorang perempuan memiliki anak.
"Hati-hati ya, minggu depan aku balik ke Jakarta."
"Nggak usah ih, kasihan bolak-balik."
"Santai, aku mau lihat Mentari." Nadia beralasan. Biasanya kalau sudah menggunakan nama mentari Nayara tidak akan menolaknya lagi.
Nayara menghela napas panjang padahal ia benar-benar tidak apa-apa, mungkin semalam ia denial dan marah dengan keadaan yang belum dicerna dengan baik.
"Mama... susunya mana?" Tanya Mentari
Astaga Nayara hampir melupakan satu hal yang penting pagi ini, ia segera kembali ke dapur untuk membuat susu. Setelah itu ia kembali. Sementara mbak Ayi yang melihat tingkah Nayara sedikit aneh langsung bertanya.
"Bu kenapa?" Tanyanya
Nayara menggeleng. "Mbak kalau misal saya nganggur lagi gimana ya, Mbak masih mau jaga Mentari atau pulang kampung aja? Kalau tetap jaga Mentari pasti gaji Mbak bakalan lambat lagi, saya harus cari kerjaan lagi." Tanya Nayara
"Santai aja. Kaya sama siapa sih, Bu. Ada masalah kantor?" Mbak Ayi bertanya balik
Nayara mengangguk. Mbak Ayi adalah rumah baginya, ia tak pernah canggung menceritakan sesuatu yang mengganggu kehidupannya. "Salahku sih, Mbak. Harusnya nggak. Boleh bohong soal Mentari. Aku nyesel..."
"Sudah nggak apa-apa, toh, selama ini syarat bekerja di negara kita ini selalu mempersulit beberapa pihak. Kan Ibu sudah berusaha waktu itu sampai nekat menyembunyikan status Mentari." Jelas mbak Ayi. Perempuan berusia nyaris empat puluh lima tahun ini memberi Nayara satu gelas teh hangat yang dicampur sedikit perasan lemon.
"Iya Mbak, cuma tetap aja itu perbuatan yang salah. Saya pasrah saja sekarang. Maaf ya, Mbak... Saya cuman buat susah Mbak Ayi." Ucap Nayara tidak enak.
"Ibu ngomong apa toh, saya nggak pernah keberatan. Ibu sama keluarga mendiang ibu Amerta itu pahlawan buat saya. Jangan dipikirin ya, Mbak Ayi akan selalu ada buat kalian." Jelas Mbak Ayi
Nayara hampir menetaskan air matanya, betapa beruntungnya dirinya ketika ia susah payah mencari perlindungan tapi mbak Ayi memberikannya. Ia meneguk teh lemon buatan mbak Ayi sebelum memulai harinya.
***
Ada beberapa hal yang mungkin sulit rasanya untuk bicara, menggambarkan perasaannya saat ini selain ia menarik napas dalam. "Oh, shit..." ia menginjak rem sekuat tenaga agar mobilnya berhenti. Hampir saja, ia melakukan perbuatan konyol karena sejak tadi melamun dengan isi kepala yang berkeliaran tanpa arah. Ia hampir saja menabrak orang. Setelahnya ia melanjutkan perjalanannya sampai kantor dengan selamat. Dan di sinilah Regan berada dan menunggu seseorang masuk ke dalam ruangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Blooming
RomanceBlooming artinya berbunga. Bunga yang telah lama layu itu mencoba mencari keberuntungan baru setelah kenyataan menyadarkan dirinya kalau ia seorang pengangguran. Juni, 2024
