Kenapa rasanya ia merasa malu ya, bahkan ia deh-degan karena harus bertemu bosnya lagi. Panasnya hari ini bahkan saat matahari ingin tenggelam, Nayara sudah turun dari MRT dan keluar dari stasiun. Mereka akan bertemu di salah satu dekat stasiun MRT, namanya Giyanti Coffee Roastery di tempat ini lebih mendominasi minuman kafein. Nayara hanya memakai pakaian yang sederhana, celana kain dan kemeja lengan pendek berwarna putih. Ia menggulung rambutnya lalu segera masuk ke dalam. Nayara tidak tahu apakah Regan sudah sampai atau belum. Nayara mengambil ponselnya hendak menghubungi laki-laki itu.
"Halo, Pak..." Nayara berbicara melalui sambungan telepon.
"Kamu sudah datang ya, masuk saja di meja nomor delapan. Saya lagi di supermarket depan. Sebentar ya..." balasnya
"Baik, Pak..." sambungan telepon berakhir.
Nayara menyimpan ponselnya, ia menarik napas sebentar dan rasnya sangat gugup bahkan ia sudah meremas tangannya karena rasa grupnya, ia menoleh kanan-kiri untuk memastikan laki-laki itu sudah masuk dan benar Regan berjalan ke arahnya. Ia buru-buru berdiri.
"Duduk saja Nay." Suruhnya. Masih dengan seragam lengkapnya, seragam bos pada umumnya karena Regan baru pulang kerja dan segera menemui Nayara.
"Pak Regan apa kabar?" Tanya Nayara setelah keduanya duduk saling berhadapan.
"Saya baik. Oh iya..." Regan memberikan papar bag berwarna putih pada Nayara, "Buat Mentari, kenapa hari ini tidak ikut?" Tanya Regan
Regan mencari Mentari rasanya menurut Nayara sangat aneh, tapi Nayara senang Mentari ditanya oleh Regan. Laki-laki menepati ucapannya bahwa tidak pernah menyalahkan Mentari, Nayara jadi terharu. "Dia hari ini ada les piano Pak jadi belum pulang." Jelas Nayara sembari menerima papar bag warna itu, ia tak lupa mengucapkan terima kasih.
"Piano?" Ada sedikit keheranan dalam dirinya.
"Iya. Mentari punya cita-cita mau jadi pemain piano dan penyanyi, sebagai orang tua saya harus mendukungnya. Mentari pasti senang sekali dapat hadiah dari Pak Regan." Jelas Nayara lagi.
"Kemarin dia memberi saya pulpen, jadi saya rasa stok pulpennya pasti habis." kata Regan
Nayara terkekeh. Andai Regan tahu kalau sebenarnya Mentari memang suka mengoleksi pulpen dan alat sekolah. "Bapak jangan khawatir, Mentari itu suka membeli pulpen lucu di marketplace dan harganya sekitar enam ribuan isinya 12pcs, sekalinya beli banyak dan dia bagi ke semua orang yang menurutnya baik." Ucap Nayara
"Berarti saya baik?" Ternak Regan
Nayara menaikkan kedua bahunya. "Mungkin. Anak itu tidak bisa ditebak. Kalau ketemu lagi Pak Regan bisa bertanya langsung." Jawab Nayara
"Saya boleh bertemu dengan Mentari lagi?"
"Kenapa tidak? Saya nggak akan melarang." Balas Nayara
"Terima kasih Nayara. Kamu hebat sudah membesarkan Mentari sendirian." Kata Regan
Nayara terdiam. Perasaan hangat yang dirasakan saat ini, laki-laki itu melontarkan kalimat yang jarang sekali ia dengar untuk dirinya. Bahkan ia bigung untuk menjawabnya. "Sudah seharusnya Pak, karena saya ibunya." Balas Nayara
Benar juga. Entah kenapa Regan malah merngucapkan kata barusan yang jelas memang Nayara ibunya dan wajib membesarkan anaknya. Aneh sekali ucapan Regan. "Ah, iya itu maksud saya. Saya boleh tahu kenapa kamu bohong soal status kamu?" Regan mengalihkan ucapannya. Menutup pembicaraan tentang Mentari.
Mengakhiri pembicaranya tentang Mentari karena ada banyak hal yang harus dituntaskan, dengan pertanyaan sama dan dalam kondisi yang berbeda karena ia lebih tenang dari kemarin. Reaksi waktu adalah respon alami karena keterkejutan di mana ia masih tidak bisa mengontrol emosinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Blooming
Roman d'amourBlooming artinya berbunga. Bunga yang telah lama layu itu mencoba mencari keberuntungan baru setelah kenyataan menyadarkan dirinya kalau ia seorang pengangguran. Juni, 2024
