Nayara masih sibuk memotong wortel untuk bahan tambah pada sop iga buatannya setelah debat panjang yang mengatakan bahwa kaki-laki itu ingin mengajak mereka makan malam di luar kini mengalah dan membiarkan Nayara mengeksplor dirinya di dapur, Nayara menolak karena ia merasa bahwa restoran di luar sangat mahal. Ia tidak ingin merepotkan Regan lebih banyak.
"Saya nggak mau kamu capek..." ucap Regan jam lima sore tadi.
"Saya nggak capek, bisa kan dengerin saya kali ini?"
Helaan napas Regan terdengar akhirnya pria itu mengangguk, "Janji kalau capek bilang?"
Nayara terkekeh. "Iya.... Lagian saya hobi masak kok Mas." Balas Nayara
"Hobi masak tapi kalau kata kekasihmu nggak usah masak, harusnya nurut nggak sih?"
"Nggak ah, belum jadi suami. Belum bisa diturutin," kekeh Nayara
"Bisa begitu ya, oke deh... Saya bantu mau?" Regan menawarkan diri.
"Nggak usah. Katanya mau belajar bonding sama Mentari, coba tawarin mau dibantu nyusun puzzle nggak." Ucap Nayara
Regan mengangguk. "Baik, saya ke sana ya?"
Nayara mengangguk, lalu tersenyum hangat. Setelah punggung laki-laki itu tidak terlihat di area dapur ia kembali terdiam sejenak, sudah lama ia hidup tanpa kehadiran seorang pria di rumahnya. "Happiness is a choice, dan aku memilih kebahagian itu, maafkan aku, Dam..." gumam Nayara. Dam adalah Adam— mendiang suami Nayara. Nayara sudah setia hampir tujuh tahun setelah kepergian mendiang suaminya, ia belajar untuk menghidupi anaknya sendiri dan bukankah ini waktunya ia juga mendapatkan kebahagiaan itu.
"Mama kok melamun?"
Nayar terperanjat. Ia baru saja melamun sampai tidak sadar Mentari sudah di depannya. "Kenapa Nak?" Tanya Nayara
"Aku mau merakit lego sama Om Regan tapi aku lupa logonya taruh di mana ya?"
"Ada di kamar Mama dekat meja rias, ambil gih," suruh Nayara
Mentari mengangguk. "Makasih Mama..." ucap Mentari lalu segera meninggalkan mamanya.
Nayara segera membereskan menu makan malam mereka, seperti janji Regan keduanya akan berbicara di rumah merek. Nayara sedikit gelisah tentang permintaan mama mertuanya. Ia takut. Bagaimana kalau Mentari diambil paksa oleh mereka. Ia segera menggelengkan kepalanya dan mengambil ponselnya karena mbak Ayi mengirim pesan untuknya.
Bu, sayurnya sudah saya cantolin di gerbang. Mau masuk nggak enak deh, selamat bersenang-senang kalian bertiga 🫣
Nayar terkekeh. Mbak Ayi memang selalu mengerti tentang hidupnya tanpa ia membuka suara. Padahal ia tidak keberatan jika mbak Ayi di rumah bersama mereka.
Katanya mau sup iga buatanku, nanti malam mampir ya?
Santai lah Bu, sisain aja besok bisa dipanasin.
Kalau besok nanti nggak enak Mbak,
Nggak apa-apa Bu. Santai saja, nitip buah nggak buat besok?
Boleh. Anggur ya, Mbak, uangnya saya transfer malam ya.
Dibilang santai saja, kaya sama siapa aja ih. Mbak Ayi mau ke sarlem dulu.
Sarlem?
Pasar malam hihi...
Nayara tertawa. Ada-ada saja Mbak Ayi ini.
Sedang sibuk apa keduanya, sedang sibuk merakit lego teddy bear milik Mentari, ini pertama kali Regan merakit lego lalu berdua dengan anak kecil. Dulu ia hanya sibuk dengan pekerjaannya sebagai pemimpin perusahaan dan hidupnya selalu disibukkan dengan ratusan tumpukkan kertas dan juga ratusan email entah dari kerjasama atau laporan soal penjualan, sejujurnya jeda sejenak dari pekerjaan membuat Regan mengerti bahwa waktu adalah hal penting setelah uang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Blooming
RomansaBlooming artinya berbunga. Bunga yang telah lama layu itu mencoba mencari keberuntungan baru setelah kenyataan menyadarkan dirinya kalau ia seorang pengangguran. Juni, 2024
