"Kamu mau cerita?" Tanya Nayara. Suasana pagi ini terasa sekali sepinya karena sejak tadi laki-laki yang kemarin menemani dirinya bertemu mantan mertuanya diam saja. Seperti yang dijanjikan mama bahwa perempuan paruh baya itu mengembalikan Mentari tepat waktu, Nayara menyadari bahwa semua adalah ketakutan dirinya yang berlebihan.
Mentari pulang dengan selamat, membawa banyak cerita salah satunya bahwa keluarga dari papanya sangat menerima Mentari bahkan beberapa keluarga besar mereka memberi baju, dan hadiah. Yang terakhir mama memberikan cincin untuk Mentari yang sekarang disimpan Nayara karena Mentari belum mau memakainya.
"Hah?" Regan sedikit terkejut sejak tadi ia melamun. Dia sedang memikirkan ucapan mamanya tadi pagi, "Saya nggak tahu mau cerita apa ya, maaf tadi saya ngelamun."
"Banyak kerjaan?"
Regan mengangguk. Tangannya mengusap rambut Nayara dengan lembut. "Nggak juga sebenarnya, saya cuman lagi kepikiran aja."
"Sama?"
Regan menatap Nayara. "Saya sempat kesal sama mama mertua kamu, tapi saya sadar kalau Mentari adalah cucu mereka. Wajar seorang nenek khawatir dengan cucunya, bagaimana kalau ternyata saya tidak bisa memperlakukan Mentari dengan baik." Jelas Regan
"Mama ngomong apa sama kamu ya, nggak usah didengar ya. Mama bilang begitu kaya terlambat banget soalnya dia juga baru sadar sama cucunya sekarang-sekarang ini aja ko—"
Regan menempelkan jemarinya di bibir Nayara. "Jangan ngomong begitu. Saya nggak apa-apa lagian Mentari berhak mendapatkan kasih sayang dari neneknya, Mentari berhak diperhatikan karena mama mertua kamu masih ada." Jelas Regan. Hanya saja saat itu ia merasa bahwa pertanyaan terlalu sensitif.
Setelah ia pulang lalu bercerita dengan mamanya hal itu membuat Regan menyadari bahwa perkataan sang mama benar adanya bahwa semua itu bentuk dari rasa khawatir seorang nenek pada cucunya.
Malam itu mama mengusap bahu Regan lalu mengatakan kalau dia harus berjuang lebih keras, buktikan. "Kamu baru masuk ke dunia kalau kekasihmu punya anak, ada seorang nenek yang ingin memastikan bahwa cucunya berada di tangan yang tepat. Tidak perlu tersinggung Nak, hadapi saja." Kata mama malam itu.
Membuat Regan sadar sebelum hubungan mereka lebih lanjut ada baiknya ia memperdalam bonding dirinya dengan Mentari, kini dirinya semakin percaya diri untuk meyakinkan nenek Mentari.
"Makasih ya, Mas... Maaf kalau kamu harus melewati banyak hal." Ucap Nayara tidak enak.
"Ngomong apa sih? Saya nggak pernah keberatan ya, jadi kamu tidak perlu khawatir. Oh iya nanti sore saya boleh menjemput Mentari kan?"
Nayara tersenyum hangat. Ini pertanyaan ketiga kalinya setelah laki-laki itu meminta izin untuk menjemput anak perempuan, kebetulan hari ini mbak Ayi sedang izin karena harus menemani mamanya yang akan operasi katarak. "Iyaaa... Sudah tiga kali lho." Nayara terkekeh
Regan tertawa. "Saya sebenarnya nervous Mam..."
"Mama?" Nayara menyipitkan pandangannya, "Bukan ibumu ya, aku." Kata Nayara
"Ibu dari anak-anakku."kata Regan sembari mengedipkan matanya.
Nayara reflek memukul bahu Regan di tengah-tengah mereka menunggu lampu merah membuat Regan mengerang kesakitan.
"Kenapa ya, cewek kalau reflek pasti mukul?" Tanya Regan sembari mengusap bahunya, "Sakit lho, Sayang...." Regan sedikit mengeluh.
Nayara menatap Regan lalu ia mendekatkan dirinya lalu meniup bahu Regan. "Bentar lagi sembuh kok, Pap." Balasnya santai.
Membuat Regan mengernyitkan dahinya. "Kok saling balas sih, ini kita lagi membiaskan jadi orang tua ya?"
"Kamu duluan sih, aku kan ngeikut apa kata suami."
"Yang..." Regan mendesah pelan. Sejujurnya ia jadi salah tingkah sendiri, kata-kata yang keluar dari bibir Nayara terlalu manis.
Nayara tak bisa menahan tawanya. Sayang obrolan mereka harus berakhir karena Nayara sudah sampai di toko roti. Terhitung sudah seminggu ini Regan mengantar jemput dirinya, meski awalnya ia sedikit keberatan tapi pria itu tetap terus memintanya.
***
"Sunscreen Acne calming kembali naik Pak, menurut saya Bapak harus kembali memikirkan apakah produk ini harus ditarik. Dalam dua minggu ini penjualan naik drastis dari cuman puluhan kini tembus lima ratus ribu dalam dua minggu setelah di-review oleh beauty creator." Jelas Adele
"Siapa konten kreator itu?" Tanya Regan
"Anatasya Pak. Biasanya Mbak Tasya mau me-review ketika suatu brand itu memintanya. Tapi Mbak Tasya kali ini dengan senang hati me-review brand tanpa diminta. Kali ini brand kita yang hampir kita hentikan." Jelasnya
"Apakah pasar masih mengharapkan produk kita yang ini?" Tanya Regan lagi.
"Iya Pak. Saya sudah melakukan survei di Instagram dan ada 100% menginginkan produk tersebut kembali diedarkan."
Regan mengangguk-angguk, akhir-akhir ini industri kosmetik lokal memang di ujung takdir karena banyaknya persaingan ketat dari produk luar negeri. Tak hanya itu menurutnya kehadiran seorang dokter waktu itu dan beauty creator seperti lampu yang menerangi ruang yang gelap.
"Saya setuju untuk melanjutkan produksi. Ada lagi? Saya minta meeting kita sedikit dipercepat ya, saya harus menjemput anak saya." Ucap Regan
Semua orang di dalam ruangan merasa terkejut. Anak saya sejak kapan bos mereka memiliki anak, apa memang sudah menikah dan tanpa memberitahu karyawannya. Tapi rasanya aneh.
"Maaf Pak,.. Anak?" Adele sedikit terkejut.
Regan tersenyum hangat. "Iya, nanti saya kenalkan." Balasnya
Adele menuruti. Ia kembali menjelaskan soal penjualan dalam dua minggu terakhir.
Sore harinya laki-laki itu bergegas untuk ke sekolah Mentari karena ia merasa tidak boleh terlambat, Regan tidak mau membuat Mentari kecewa.
"Iya Sayang..." balas Regan melalui sambungan telepon.
"Kamu sudah berangkat?"
"Iya. Saya bawa mobil dulu ya."
"Baik, hati-hati ya, Mas..." jawab Nayara
"Iya. Semangat kerjanya." Balas Regan
Setelah sambungan berakhir Regan juga sampai di sekolah Mentari, ia bergegas turun untuk menemui guru Mentari.
"Om Regan..." panggil Mentari sedikit berteriak. Terlihat raut wajah Mentari yang senang dengan kedatangannya.
Regan mendekati keduanya dan ia mulai berbicara dengan gurunya. "Maaf Bu, saya mau menjemput Mentari."
"Baik, Pak tapi apa sudah izin dengan bu Nayara?"
"Sudah Bu."
"Tapi bu Naya belum memberitahu kami. Jadi mohon maaf kami tidak bisa melepaskan Mentari Pak."
Regan terkejut. Bukankah semua orang berhak menjemput saudara atau yang masih ada ikatan. "Saya telepon Bu Naya dulu ya," pinta Regan. Biarkan Nayara yang menjelaskan. Kalau seperti ini kenapa Nayara tidak memberitahu guru Mentari.
Regan segera mengambil ponselnya lalu menelepon Nayara tapi sayang Nayara belum mengangkatnya, Regan benar-benar tidak tahu peraturan di sekolah Mentari seketat itu.
"Maaf Bu sepertinya bu Naya masih sibuk."
"Tunggu saja Pak, tidak apa-apa. Karena sudah peraturan sekolah kami. Kami melakukan ini karena marak sekali kasus penculikan," jelas guru Mentari
Dan Regan memahami hal tersebut, ia menghela napas panjang ia kan mencoba Nayara lagi.
"Om belum juga ya?" Tanya Mentari
"Sabar ya, Nak... Mama belum angkat telepon. Mentari nggak apa-apa kan menunggu?" Regan memastikan.
Mentari mengangguk semangat. "Iya Om... Nggak apa-apa kok." Jawabnya
-TBC-
Kira-kira Regan berhasil bawa Mentari nggak?
Terima kasih...
Ig: Marronad.wp
Marronad
KAMU SEDANG MEMBACA
Blooming
RomanceBlooming artinya berbunga. Bunga yang telah lama layu itu mencoba mencari keberuntungan baru setelah kenyataan menyadarkan dirinya kalau ia seorang pengangguran. Juni, 2024
