Berkunjung

386 103 6
                                        

Pada kesempatan yang tak pernah datang kedua kalinya, atau bisa saja datang tapi sebagai orang yang tidak mau membuang kesempatan dengan berat hati ia membalas pelukan Regan. Dengan segala kegundahan dalam hatinya, rasa sesak yang mereda serta hati yang penuh kekhawatiran kini berterima kasih pada orang yang menyelamatkan hidupmu dari rasa gelisah seperti tidak ada jalan keluarnya. Mengakhiri pelukan mereka lalu Nayara mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.

"Ayo, telepon..." suruh Regan

Nayara terdiam sejenak lalu akhirnya mengangguk karena memang ia sudah yakin kalau keputusannya benar, terakhir kali mereka bertemu sekitar empat tahun yang lalu ibu mendiang suaminya kembali mencari keduanya secara perlahan.

"Halo, Ma..." akhirnya perempuan paruh baya itu mengangkat teleponnya.

"Nayara... Kamu apa kabar Nak?" Tanyanya

Nak— panggilan itu yang selalu ia rindukan dari sosok yang menyebut dirinya sebagai ibu, meski perempuan itu tidak begitu baik dengan dirinya namun panggilan barusan seperti menghangatkan relungnya. "Baik Ma... Mama sudah makan malam?" Tanya Nayara sedikit gugup.

"Sudah Nak. Nayara mau dimasakin apa kalau jadi ke sini?"

"Nggak usah Ma, makasih. Ma, aku mau ngomong soal Mentari." Ucap Nayara

"Iya, bagaimana Ra? Mama janji akan mengembalikan Mentari sebelum jam delapan malam. Mama cuman mau mengenalkan Mentari pada keluarga besar Mama tidak ada niat lain. Mama janji..." jelasnya. Mama Adam meyakinkan Nayara .

Nayara terdiam sebentar, ia merasakan Regan mengusap bahunya sembari tatapan matanya meyakinkan kembali Nayara bahwa semua akan baik-baik saja.

"Ra, ayo, kamu pasti bisa..." bisik Regan

Nayara menarik napas panjang. Lalu mengangguk. Ia harus berani. "Tapi Ma boleh aku kasih pendapat?" Tanya Nayara

"Boleh dong... Mama akan mendengar pendapat kamu."

"Mama boleh ajak Mentari tapi sama Mbak Ayi dan nanti diantar sama pacarku. Mama setuju?"

Di sana perempuan paruh baya bernama Rena sedikit terkejut tapi seulas senyum dari bibirnya tak bisa ditahan lagi, ia senang mendengarnya. "Selamat ya, Nayara.,, Adam pasti senang kamu mau membuka hati lagi. Mama setuju Mentari bersama Mbak Ayi. Mama tidak keberatan. Mama juga ingin bertemu dengan calonmu."  Jawabnya

Nayara bernapas lega. Persoalan ini hanyalah karena isi kepalanya yang rumit dan ia hanya merasa takut. "Makasih Ma..." ucap Nayara tulus.

"Ra, sejujurnya Mama tidak keberatan apa pun syaratmu untuk Mentari bisa Mama bawa. Mama paham keluarga kami dulu tidak pernah memperlakukanmu dengan baik tapi Mama sadar kalau semua ini salah, izinkan Mama memperbaiki semuanya." Jelas mama

"Iya, Ma... Nanti aku kabarin lagi ya."

"Iya, Mama jadi ingin bertemu calon papa Mentari." Ucapnya sebelum panggilan telepon itu berakhir.

"Nanti aku kenalkan ya, Ma..." jawab Nayara. Dan sambungan telepon berakhir.

Nayara menghela napas panjang dan tidak serumit seperti pikirannya dan ia kembali menyimpan ponselnya, lalu menatap Regan. Berterima kasih pada laki-laki yang sudah membantunnya. "Makasih ya, Mas..." ucap Mayara tulus.

Regan mengangguk. "Saya akan membantumu sampai kapan pun, bagaimana perasaanmu sekarang?" Tanya Regan

"Sangat baik. Sekali lagi makasih Mas Regan..." Nayara memilih memeluk Regan lebih dulu sebelum menjawab, "Jauh lebih lega dari sebelumnya." Balasnya

Regan kembali membalas pelukan Nayara. Ia akan terus menjaga perempuannya.

***

"Sudah siap?" Tanya Regan

BloomingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang