Nayara cukup sibuk hari ini karena dari pagi buka sampai menjelang sore, bahkan makan siang sedikit terlambat dan tepat jam setengah lima ia baru memegang ponselnya lagi setelah jam tiga siang mengabari Regan. Ia mengembuskan napas sejenak kalau toko sedang ramai rasanya tubuhnya seperti nyaris patah. Ia meraih gelas di sampingnya laku meneguknya, membasahi tenggorokan yang sangat kering. Setetes air yang meredakan dahaga.
"Mbak... Mbak..." panggil Adel
"Iya Adel?"
"Tadi Pak Regan telepon toko nyari Mbak Naya, kalau nggak sibuk telepon balik ya, Mbak." Ucapnya
"Ah, iya Adel. Makasih ya..."
Untung sore ini agak lengah dan Nayara buru-buru mengambil ponselnya yang ia simpan di dekat meja dapur, lalu segera menelepon Regan. Laki-laki itu sudah menghubungi, mengirim pesan lebih dari sepuluh kali. Sepertinya ada yang darurat karena meneleponnya terus.
"Halo, Mas... Maaf baru telepon balik, toko baru lengah." Nayara menjelaskan.
"Sayang.... Akhirnya kamu telepon. Saya ngerti cuman ini agak sedikit mendesak banget karena Mentari nggak bisa saya ajak pulang." Ucap Regan
Nayara mengernyitkan dahinya. "Lho, kok nggak bisa. Kenapa memangnya Mas?"
"Aturan sekolah dan katanya kamu belum ada omongan sama mereka kalau Mentari mau dijemput saya."
"Astaga...." Nayara menepuk jidatnya, ia benar-benar lupa memberitahu hal ini. Ini kebiasaannya karena Mentari selalu dijemput mbak Ayi. " Maaf Mas... Ya ampun aku lupa. Terus gimana? Coba teleponnya kasih ke gurunya." Balas Nayara sedikit panik. Ia benar-benar kasihan dengan Regan.
"Iya, santai aja. Kamu jangan panik ya..." balas Regan. Regan memahami kondisi yang baru ini.
Nayara mengiakan. Ia tak menyangka dengan respon Regan yang sama sekali tidak kesal. Nayara berbicara dengan guru Mentari dan mengatakan kalau ia mengizinkan Mentari dijemput oleh Regan. Untungnya guru Mentari langsung menyetujui dan akan memfoto keduanya sebagai bahan laporan untuk dirinya. Sambungan telepon dengan guru Mentari berakhir dan Regan sudah bersama Mentari di dalam mobil.
"Aman kan Mas? Aku jadi nggak enak, maaf ya, aku teledor." Ucap Nayara
Regan terkekeh. "Mam, kita aman kok. Saya bisa memahami kondisi ini. Jangan khawatir ya, lanjut kerja dan kerjanya hati-hati. Kita bakalan have fun sore ini." Jelas Regan
Nayara menghela napas panjang. Begini saja sudah membuatnya terharu doanya masih sama semoga Regan yang terbaik untuk anaknya, ia jadi tidak sabar mendengar Mentari bercerita tentang perjalanannya hari ini.
***
Regan. Pria tiga puluh tahunan ini baru pertama kalinya meluangkan waktunya hanya untuk berdua dan berjalan dengan seorang anak kecil yang bukan atau belum bagian dari keluarganya. Ia yang hanya tahu bekerja adala kewajiban dan kebutuhan, kini pemikirannya berbeda karena setelah ia membaca buku parenting semakin membuat ia yakin untuk menjalankan perannya. Meski tidak mudah tapi akan terus belajar.
"Nonton ini aja Om..." Mentari menunjukkan sebuah poster film di tengah-tengah langkah mereka. Regan membawa Mentari ke salah satu mal besar Grand Indonesia namanya sesuai permintaan Mentari.
"Iya, kita ke sana ya...' Regan menggandeng tangan Mentari menuju tempat pembelian tiket.
Regan langsung mengeluarkan selembar uang seratus ribu untuk membeli tiket. Mereka akan menonton film Zanna karena kata Mentari filmnya seru."Mentari yakin mau nonton film ini? Tinkerbell ya ini?" Tanya Regan
"Bukan Om... Ini namanya Zanna, sedikit mirip karena sama-sama punya sayap. Tapi peri kan identik dengan sayap." Jelas Regan
Regan mengangguk-angguk. Diam-diam Regan tersenyum merasa kagum dengan Mentari yang belum dua belas tahun tapi dalam menjelaskan sesuatu sangat luar biasa dan tertata rapi. Ia jadi penasaran bagaimana Nayara memberikan paretning-nya untuk Mentari.
"Tari... Sebentar ya, Om angkat telepon dulu."
Mentari mengangguk. Sebelum masuk Regan memutuskan menelepon di area luar ruangan bioskop agar tidak mengganggu yang lain sementara Mentari duduk dengan tenang. Mengayunkan kakinya sembari menatap Regan dengan penuh perhatian.
"Jadi bagaimana?" Tanya Regan melalui sambungan telepon.
"Aman Pak untungnya, cuman kita nggak nyangka kalau bazar yang kita selenggarakan sesepi ini." Jelasnya
Regan baru saja menerima telepon dari karyawannya. Ia menghela napas panjang karena mereka mengeluarkan ratusan juta untuk pameran ini tapi ternyata yang datang tidak terlalu banyak. "Apa hanya berlaku brand kita saja?" Tanya Regan
"Nggak Pak, brand lokal semua sepi. Saya juga dapat informasi kalau yang panitia yang menyelenggarakan ini menjual tiket dengan harga tinggi, itu sebabnya sepi Pak."
"Astagaaa..." Regan berdecak kesal. Ia benar-benar tidak menyangka dengan yang terjadi ini, tapi ia tidak diambil pusing karena memang setiap usaha pasti akan bertemu kegagalan, "Ya, sudah kita bicarakan besok."
"Baik, Pak..."
Sambungan telepon berakhir. Regan kembali mendekati Mentari karena jam tayang film segera dimulai. "Maaf ya, tadi Om angkat teleponnya lama."
"Nggak apa-apa kok Om..." balas Mentari dengan senyum manisnya.
Regan tersenyum hangat lalu kembali menggandeng tangan Mentari untuk masuk ke dalam studio bioskop. Dan setelah mereka duduk film yang ditunggu-tunggu dimulai. Film mulai diputar dan keduanya dengan penuh keseriusan mencoba menikmati adegan demi adegan yang terpampang dilayar berukuran nyaris 120 inci.
Regan menatap Mentari dengan seksama karena terkadang gadis kecil itu tertawa terbahak-bahak dan meski filmnya mungkin bukan yang bisa ia tonton. "Ini ceritanya soal apa ya, Tari?" Tanya Regan
"Zanna itu terpisah sama keluarganya Om, masuk ke dunia magis secara nggak sengaja terus mulai melakukan petualangan gitu." Jelas Mentari. Mentari juga menikmati pop corn, "Terus ketemu peri bernama Dinda dan Novi yang membantu Zanna untuk bertahan hidup dan menjalani tantangan barunya," lanjutnya
Regan mengangguk-angguk. Sepertinya film ini yang sedang Mentari cari terbukti mentari dengan hikmat untuk menonton setiap tayangan yang ditampilkan. Ruangan yang dingin, film yang membosankan menurutnya karena ia jarang menonton film akhirnya tanpa sadar Regan memejamkan matanya sembari filmnya selesai.
Mentari yang sadar karena Om Regan tidak ada suaranya akhirnya ia menoleh, ia menutup mulutnya lalu tertawa dengan suara rendahnya karena tidak mau mengganggu yang lain. "Hihi... Om boboknya lucu sekali." Ucapnya sembari terkekeh, meski ia akan melewati beberapa scane tapi ia harus mengabadikan ini untuk dikirim ke mamanya. Mentari memotret Regan yang sedang tertidur lalu kirim ke Nayara.
Filmnya berakhir dan Regan masih nyenyak sedalam tidurnya membuat Mentari tidak enak hati ingin membangunkannya tapi semua orang sudah mulai meninggalkan studio. Tangannya dengan lembut bergerak memukul ringan tangan Regan. "Om Regan..." panggilnya
Regan yang tadi sangat mengantuk mendadak bangun, dan ia terkejut sekaligus malu bisa-bisanya ia tertidur. "Mentari.... Om minta maaf, harusnya Om tidak tidur." Ucapnya tidak enak
Mentari tertawa. "Nggak apa-apa kok Om, pasti capek ya? Lagian ini kan film anak-anak. Ayo, Om pulang..." suruhnya
Regan mengangguk. Ia mengusap wajahnya sebentar lalu keduanya mulai dengan perasaan Regan yang sangat merasa bersalah. Tidak mudah menjadi seorang ayah, praktik dan saat ia membaca buku soal parenting ternyata praktiknya sangat sulit. Baru awal menemani Mentari menonton saja ia sudah ketiduran.
"Aku maafkan Om Regan dan aku mengerti." Jawabnya
"Sebagai permintaan maaf Om mau mengabulkan apa saja permintaan Mentari."
Matanya berbinar. "Apa saja Om?" Tanyanya memastikan.
Regan tersenyum hangat. "Iya, apa saja."
Senyumnya melebar, raut wajah bahagianya tak bisa disembunyikan. "Aku mau beli buku, beli es krim boleh Om?" Tanyanya
"Tentu saja... Ayo," Regan mengulurkan tangannya untuk digenggam Mentari.
Mentari langsung menerimanya dengan langkah yang sedikit tergesa-gesa, ia menarik tangan Regan karena tidak sabar memasuki toko buku.
-TBC-
Vote dan komentarnya yuk =)
Ig: Marronad.wp
Marronad
KAMU SEDANG MEMBACA
Blooming
RomanceBlooming artinya berbunga. Bunga yang telah lama layu itu mencoba mencari keberuntungan baru setelah kenyataan menyadarkan dirinya kalau ia seorang pengangguran. Juni, 2024
