Bertemu Lagi

346 112 8
                                        

"Jadi gimana Mas pertemuan kamu sama Nayara, kamu sudah minta maaf?" Mama mendekati Regan yang tengah sibuk dengan kopinya, Regan suka membuat kopi sendiri karena katanya lebih enak apalagi aroma kopinya lebih wangi dan teksturnya lebih kental dan pekat.

Yang tengah sibuk menyalakan mesin kopinya segera menoleh. "Sudah. Makasih Ma untuk semuanya, kenapa kemarin aku nggak belajar dari Mama ya?"

"Soal?"

"Soal apapun, soal bagaimana menghadapi karyawan padahal di toko roti Mama selalu memperkerjakan teman-teman yang memang terkendala karena syarat." Jelas Regan

"Itulah pentingnya jangan jadi sumbu pendek, kira-kira kenapa kamu nggak menerima teman-teman yang memiliki kekurangan? Pasti kamu jawab karena pekerjaan pabrik cukup berat kan?" Mama menjelaskan lagi bagaimana pentingnya standar dalam memilih pekerja, "Tapi kamu juga bisa menerima mereka lalu menempatkan mereka di bagian packing, tidak terlalu berat kan? Begitu pun Nayara, dia masih tetap bekerja tanpa harus mengingatkan status dia lagi. Toh, sudah terbukti kerjanya bagus." Ucap mama lagi

Regan mengangguk, setelah memisahkan kopinya menjadi dua tempat, kini ia kembali duduk di ruang makan. Biasanya ia akan membawa kopi sendiri tapi ia juga tidak menolak jika kantor menyediakan kopi untuknya. "Iya Mam, kemarin setelah mendengar penjelasan Nayara aku ngerti kenapa bohong. Aku sudah coba menawarkan pekerjaan lagi tapi ditolak..."

Mamanya terlihat terkejut. "Kok ditolak ya?"

"Sudah dapat pekerjaan di toko roti." Balas Regan. Ia menikmati kopinya ditambah lagi ini agak sedikit gerimis dan cuaca lebih dingin dari biasanya.

"Toko roti mana tuh?" Tanya mama lagi. Dalam hatinya ia sudah cekikikan mendengar penjelasa Regan, jujur saja ia hanya ingin membantu Nayara setelah kehilangan pekerjaan. Ia juga mencari tahu lewat Nadia bahwa benar Nayara adalah seorang ibu tunggal. Tenang saja setelah kasus Nayara kemarin Regan tidak memecat Nadia, perempuan itu masih bekerja di gudang Bandung.

"Nggak tanya. Takut nggak sopan, aku ke atas dulu Mam..." pamitnya. Regan harus siap-siap pergi bekerja.

"Semoga dia betah dikerjaan barunya deh, Nayara berhak bahagia setelah apa yang dia alami. Punya bos asal pecat." Balas Mama

Regan menoleh. "Nggak usah nyindir Mam, Regan sudah introspeksi kok." Regan membela diri.

"Baiklah, baiklah..."

Regan kembali masuk ke dalam kamarnya untuk memakai jas dan menyiapkan keperluan kerjanya hari ini, di sela-sela itu ia mengambil ponselnya untuk mengecek apakah ada pesan penting namun ia melihat nama Nayara di sana, tumben sekali mengirim pesan sepagi ini. Sebuah Voice note dan ia mulai mendengarkan, suara anak kecil yang mudah sekali ia tebak setelah mengatakan dirinya siapa. Mentari, gadis itu mengucapkan terima kasih padanya. Sebuah senyuman terukir yang memiliki sejuta makna setelah mendengarkan, ada bagian yang membuat hatinya menghangat. Ia mendengar Mentari dan Nayara saling menjawab soal kesukaannya, ia jadi merasa bersalah karena telat membuka pesan setelah diingatkan ia jangan terlalu sering meminum kopi.

"Lucu sekali Mentari...." Gumamnya sembari memandangi ponselnya.

Ia segera memakai jasnya dengan rapi lalu duduk di pinggir ranjang, ia membalas pesan Nayara. Kenapa ia jadi salah tingkah sendiri ya, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia harus segera membalas.

Halo, Nay.... Semangat kerjanya, salam untuk Mentari.

Selamat pagi...
Semangat bekerja

Nayara apa Mentari sudah berangkat sekolah?

Semua kata-kata di atas tidak jadi ia kirim merasa bahwa kata-katanya aneh, jadi ia menghapus terus-menerus. Ia menarik napas panjang kali ini ia mengirim pesan.

BloomingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang