Pertemuan Tak Sengaja

335 100 10
                                        

"Jadi bagaiman tanggapan Mbak Jessika dengan penawaran yang kita ajukan?" Tanya Regan

Jessika adalah artis muda dengan prestasi yang membanggakan yaitu menjadi salah satu pemenang ajang kecantikan internasional, tepatnya di Polandia itu sebabnya Regan sendiri menyetujui ketika karyawan mengajukan proposal soal brand ambasador mereka yang baru. Jessika menjadi pemenang utama dan rasanya cocok jika perempuan delapan belas tahun itu menjadi bintangnya apalagi untuk produk bedak milik mereka.

"Saya sudah cek untuk kontraknya, semua yang tertulis sangat menguntungkan saya jadi tentu saya menerimanya apalagi brand kalian juga memiliki citra brand yang baik. Apakah saya hanya fokus untuk poduk cushion dan lips saja ya?" Tanya Jessika

"Betul, kami ingin memfokuskan dua produk tersebut. Ada yang mungkin memberatkan Mbak Jessika?" Tanya Regan

"Tidak ada Pak Regan, saya sudah merasa bahwa kontrak yang tertulis sudah menguntungkan dua belah pihak. Dan dua minggu lagi saya akan kembali ke Polandia karena ada beberapa kegiatan sosial dan wawancara acara lokal." jelas Jessika

Regan mengangguk-angguk, Ia merasa senang ketika Jessika menerima penawaran mereka dengan benefit yang menyesuaikan Jessika seorang pemenang kontes kecantikan dan berprestasi, "Terima kasih Mbak Jessika sudah mau bekerjasama dengan kami."

"Dengan senang hati. Oh iya, Pak nanti saya akan bawa cushion dan lips produk kalian ke Polandia, karena menurut saya waktunya sangat tepat. Sebelum saya menjalankan pekerjaan saya sebagai miss kecantikan, saya selalu merekam daily life." Jelasnya

Regan benar-benar beruntung menemukan Jessika, perempuan itu bahkan mempromosikan produknya sangat maksimal. "Mbak Jessika terima kasih banyak, saya benar-benar beruntung bertemu Mbak Jessika." Regan mengulurkan tangannya, dan Jessika membalasnya.

Obrolan mereka harus berakhir karena Jessika kembali ke rumahnya, karena katanya harus mempersiapkan kebutuhan untuk ke Polandia. Regan mempersilakan Jessika untuk keluar dari ruangannya. Dan Regan menemui karyawannya lagi. Menurut mereka Jessika benar-bena profesional.

"Bagaimana Pak?" tanya Eko

Regan tersenyum hangat. "Kalian kerja bagus, saya pikir sangat sulit meminta kerjasama dengan Jessika tapi ternyata Jessika memang menunggu kerjasama brand kita. Momennya sangat pas dan sepertinya kerjasama kita akan sukses." Jelas Regan

Eko tersenyum lega. Pekerjaan dirinya selalu memuaskan bosnya dan ia bisa bernapas lega sebelum pemotretan dijalankan. "Syukurlah Pak, saya berharap demikian. Ngomong-ngomong Pak... Soal Nayara, apa Bapak mempertimbangkan lagi Kar—"

"Jangan bicara soal Nayara lagi, saya tidak suka dengan karyawan yang sudah membohongi perusahaan saya." Regan menyela ucapan Eko. Hari ini Regan tidak ingin mendengar nama Nayara lagi. Ia kecewa.

Tepat setelah perusahaan jam kerjanya berakhir Regan harus kembali ke rumahnya, ia juga sudah keluar dari kantornya. Ia membawa mobilnya dengan kecepatan lambat karena ia ingin menikmati sore hari yang cukup cerah, Regan berdecak tatkala ia harus ditemukan dengan kemacetan. Sore yang malang karena harus menunggu.

"Mas pulang jam berapa? Mama masak sup iga nih, bisa pulang cepat nggak?"

"Bisa Mam. Tapi macet nanti nggak apa—apa deh kalau misal supnya kurang hangat. Sisain ya, Mam tolong..." Jawab Regan melalui sambungan telepon.

Mama tiba-tiba meneleponnya menanyakan soal menu makan malam, karena macetnya cukup lama ia mungkin pulang sedikit terlambat. Pandangan mata menelusuri sekitaran daerah ia berada, mobilnya perlahan bergerak. Ia tahu kenapa macet, karena ada kampanye politik.

"Lama sekali..." gumamnya

Ia sesekali memeriksa ponselnya, membuka halaman Instagram dan mendengar radio dari mobilnya. Halaman Instagram hanya dipenuhi sosial media milik perusahaan dan juga rekan bisnisnya, namun pandangan matanya teralihkan oleh sebuah foto di halaman sosial medianya.

BloomingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang