"Buat Mentari, dia pasti suka." Kata Regan memberikan sesuatu berwarna merah muda.
Nayara mengernyitkan dahinya, sudah jam setengah sembilan malam dan laki-laki itu masih di depan toko entah apa tujuannya. "Mas kok di sini?" Tanya Nayara
"Iya, saya sudah pulang terus sengaja ke sini lagi. Saya mau nganter mainan ini buat Mentari. Boleh kan?" Izinnya
Tentu saja karena kalau ditolak bukannya mainan tetap ada di depannya, selagi bukan membahayakan Nayara tidak akan menolaknya. "Boleh tapi dalam rangka apa ya, Mas?" Tanya Nayara memastikan.
"Tidak ada dalam rangka apa pun, saya mau baik saja dengan Mentari. Kebaikan anakmu itu membuat saya tersentuh." Jujurnya
Nayara mengangguk paham. Regan memberikan mainan berupa anak tangga dan mengantar mainan malam hari di mana dirinya baru selesai bekerja. Sejak bekerja di toko roti jam kerjanya lebih panjang tpi masuk lebih dari jam delapan pagi dan masih sempat mengantar Mentar.
"Terima kasih ya Mas sudah repot-repot ngasih Tari mainan. Sudah mau jam sembilan saya pulang dulu ya, Mas. Soalnya Mentari sudah bawel." Kekeh Nayara dan sekitar sepuluh menit yang lalu Mentari meneleponnya dan bertanya soal kepulangan Nayara. Di pekerjaan baru ini Nayara juga memberi pengertian pada Tari kalau ia akan pulang lebih larut.
"Saya antar." Ucap Regan
.
"Nggak usah Mas, saya bawa motor."
"Nggak apa-apa nanti taruh saja motornya di dalam dan saya sudah izin sama mama. Besok pagi saya antar lagi." Jawab Regan
"Aduh... Mas jangan deh, ngerepotin." Nayara menolak dengan sopan.
"Saya nggak pernah merasa direpotkan olehmu ya, Nayara jadi ayo. Pulang dan sudah larut."
"Baik Mas..." Nayara menuruti karena menolak pun rasanya percuma pria itu tidak akan pernah pergi dari hadapannya. terpaksa menaruh motornya di toko dan meletakan di bagian belakang dan ia akan pulang bersama Regan.
Mereka berjalan saling beriringan dan tidak ada pembicaraan sampai masuk ke dalam mobilnya, menurut Regan mengantar Nayara adalah kewajibannya saat ini mungkin ya, karena ia merasa jam kerja Nayara yang berakhir lebih malam dan kondisi jalanan cukup gelap wajar jika khawatir kan? Regan hanya ingin berbaik hati dengan wanita di sampingnya. Hanya suara musik yang mereka dengar agak sedikit canggung namun Regan masih bisa memecahkan dengan bersenandung.
"Suara Mas bagus." Celetuk Nayara memecahkan keheningan dia antara mereka.
"Kaya Jungkook BTS nggak?" Kekehnya
"Miriplah dikit tapi masih bagusan Jungkook. Oh iya, makasih ya, pak sudah antar saya." Ucap Nayara tulus. Sejujurnya hari ini sedikit kelelahan karena orderan hari ini cukup banyak bahkan tadi sore toko ramai karena sesuatu yang tidak terduga.
Regan terkekeh. "Toko rame ya? Saya dengar gara-gara kena review konten kreator Tiktok?" Tanyanya
"Iya alhamdulillah Pak... Ibu dan semua karyawan kaget tiba-tiba rame karena ada yang posting video soal ibu memperkerjakan disabilitas." Jelas Nayara
Regan mengangguk-angguk. Jika ia boleh menjabarkan siapa orang yang ia kagumi maka ia kan menjawab ibunya, karena banyak sekali hal-hal baik yang selalu disebarkan termasuk hal yang dijelaskan barusan. "Saya sayang banget sama mama saya, beliau seperti panutan untuk setiap pekerjaan saya." Jelas Regan
Nayara menoleh ia bisa membaca dari raut wajah Regan soal mamanya, ia juga bisa menebaknya bahwa Regan lahir dari keluarga yang baik. "Kelihatan kok. Bapak beruntung."
"Bapak? Soal keluarga?" Tebaknya
Nayara mengangguk. "Mas maksud saya, maaf belum terbiasa. Keluarga utuh itu impian semua orang, saya merasakan hal itu sekitar dua puluh tahun yang lalu sebelum mereka bercerai lalu meninggal." Nayara menunduk sembari memainkan jemarinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Blooming
RomanceBlooming artinya berbunga. Bunga yang telah lama layu itu mencoba mencari keberuntungan baru setelah kenyataan menyadarkan dirinya kalau ia seorang pengangguran. Juni, 2024
