Leana duduk di lantai dengan dibantu oleh teman-temannya. Melihatnya yang tampak kebingungan, Safira ikut duduk di sampingnya. Merangkul dan memeluknya, membiarkan kepala Leana bersandar di pundaknya lalu keduanya sama-sama menangis. Tak ada yang mau bicara duluan termasuk para cowok. Suara tangisan perempuan membuat Jovan dan Kevin merasa tersudut. Keempatnya termenung sejenak memikirkan berbagai macam hal yang terasa tak masuk bagi mereka.
Punggung Jovan merosot di tembok, dia menggunakan telapak tangannya untuk mengusap dahinya yang basah. Menarik nafas gelisah sambil memejam mata. Semua terasa menguras energinya.
"Lea. Gue seneng lo masih hidup." Imbuh Safira. Tangisannya berhenti namun isaknya masih ada.
Leana tersenyum getir. Telapak tangannya Digunakannya untuk balas mengelus punggung Safira.
"Gue lebih seneng lagi kalian bertiga masih bersama. Makasih udah nemuin gue, Ra. Van, Kev." Leana berkata lirih, suara serak parau itu membuatnya terdengar semakin menderita. Dia menatap kedua temannya yang lain.
Safira tidak lagi memeluk gadis itu dia memegang bahunya dan mengguncangnya pelan dua kali, seolah memberi semangat sebelum gadis itu mulai bercerita kepada mereka. "Kasih tau kita kenapa lo bisa ada di sini?" Tanya Safira.
Dia menarik nafas dalam-dalam, dua cowok yang bersandar di dinding mulai mendengarkan.
"Gue dan Delfi kabur dari penjahat itu dan kita sembunyi di sini, Ra. Terus... Delfi pergi dan ngunciin gue di dalam sini sendirian. Setelah itu, dia ngga balik-balik lagi." Ungkap Leana lalu menatap mereka bertiga bergantian.
"Delfi kabur sendirian?" Dahi Jovan mengkerut, terlihat emosi. "Anak setan." Lanjutnya dengan volume suara yang rendah. Semuanya tahu dia marah.
"Lea. Asal lo tahu, kita semua ditargetkan sejak awal kita datang ke sini. Dua orang jahat itu sengaja menjebak kita di dalam gedung dan mau bunuh kita satu persatu. Tujuh dari kita udah mati, tinggal satu lagi." Kata Safira panjang lebar. Oh. Ini bukan kabar yang mau didengar semua orang tapi memang begitulah adanya.
Leana terbatuk-batuk lemah, pandangan matanya tertuju pada Jovan dan Kevin. Apa dia mengharap mendengar sesuatu yang berbeda dari dua cowok itu? Sayangnya mereka diam saja.
"Tujuh dari kita m-mati? Astaga!" Tanggap Leana. Dia menutup mulutnya sendiri.
"T-tapi bukannya kita lebih dari angka yang ditargetkan? Siapa target yang terakhir?" Leana berpikir keras. Air matanya yang mengering di pipipun dia hapus,
Mereka berempat pun membuka pikiran masing-masing.
"Naura hilang duluan dan ngga ada yang tahu dia masih hidup atau udah meninggal. Terus, Hanna dibunuh oleh sosok ber-hoodie disusul Alex dan Messy yang dibunuh oleh sosok bertopeng...itu yang dilihat sama Jovan," Safira mengingat-ingat ulang kejadiannya dari awal.
Jovan mengangguk saat Safira menatapnya memastikan perkataannya sudah benar.
"Jihan dan Kak Seno juga dibunuh oleh sosok bertopeng itu. Kita lihat sendiri, Lea. Gimana sosok itu bunuh semua teman kita. Dan, tragisnya...Ningsih pilih gantung diri di depan toilet ini!" Safira menceritakan dengan sangat singkat. Leana lantas berdiri dan buru-buru keluar untuk melihat sendiri apa yang baru saja dia dengar dari Safira. Leana membeliak, ternganga lebar melihat jasad Ningsih yang masih menggantung di tengah-tengah plafon.
Leana menutup mulutnya dengan tangan. Di belakangnya berdiri Jovan, Kevin. Dan, Safira.
Ikut melihat jasad kaku milik Ningsih.
"As...taga." Lagi-lagi dia menangis, mencari seseorang untuk dipeluk, dan Kevin ada di sana.
"Total yang mati ada tujuh." Imbuh Safira mantap. Dia sudah tidak ngeri lagi melihat Ningsih. Sedikit.
