Alex berlari dari belakang dengan sebelah kaki yang pincang.
Dia mengangkat meja tinggi tinggi dan melemparkannya ke arah pria bertopeng tersebut.
Meja itu patah tepat ketika mengenai tubuh sosok bertopeng itu. Sosok itu menoleh pada Alex dan menatapnya nyalang penuh dendam.
"Jihan, kita harus kabur!" Interupsi Safira.
Gadis di samping nya tidak menjawab dan terus menonton perkelahian dengan wajah cengo, Safira tidak ingin buang buang waktu sehingga dia langsung menarik tangan Jihan dan pergi dari sana selagi masih memungkinkan untuk menyelamatkan diri mereka.
Kak Seno yang mengetahui kalau kedua gadis itu kabur pun segera mengejar dari belakang. Beberapa kali dia sempat menoleh untuk melihat pertarungan tiga lawan satu di belakangnya sebelum dia benar benar berlari terlalu jauh. Messy, Alex dan Jovan masih terlihat sedang berusaha mengeroyok sosok tersebut.
Jovan, Alex. Dan, Messy tersentak kaget saat salah satu dari mereka mengeluarkan darah yang begitu banyak dari perutnya. Kapak tajam sudah tertancap di perutnya yang mengakibatkan begitu banyak darah kental yang masih segar keluar dari perut dan mulutnya.
"Alex!!" Teriak Messy.
Cowok itu sudah sekarat dan kedua teman nya hanya bisa menyaksikan nya dengan mulut ternganga. Sosok bertopeng itu tersenyum menyeringai kemudian menatap dua yang lain. Jovan yang sedang lengah akibat kejadian mengenaskan yang dialami Alex di tendang di kakinya hingga terjatuh sementara Messy mendapatkan tusukan yang bertubi-tubi di leher dan tulang selangkanya. Messy pun sama, darah yang berasal dari tubuhnya membasahi seragam putih miliknya. Messy di dorong ke lantai dan dibiarkan megap-megap bagai hewan kurban yang telah di sembelih lehernya.
Setelah itu, sosok bertopeng itu mencabut paksa Kapak yang masih menancap di perut Alex hingga darah nya menyembur keluar. Sosok itu menarik sebelah kaki Alex dan sebelah lagi kaki Messy lalu menyeretnya seolah sedang menyeret dua helai bulu bebek.
Jovan terbaring di lantai dengan nafas tak karuan. Dia hanya bisa melihat kedua temannya meninggalkan jejak darah yang diseret di lantai.
"Safira!!" Teriak kak Seno.
Ketiganya berhenti berlari saat melihat sosok ber-hoodie misterius itu muncul lagi di atas tangga. Kali ini sosok ber-hoodie itu tidak sendirian, dia membawa Hanna di samping nya yang sudah terkulai lemah tak berdaya.
Kening Hanna mengeluarkan darah seperti telah di hajar sebelum nya. Sosok itu tersenyum menyeringai pada kak Seno, Safira, dan Jihan. Mereka bertiga melihat dengan mata kepala mereka kondisi Hanna sangat mengerikan. Matanya lemah dan sembab, terdapat luka memar di seluruh wajahnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.