Flashback off:
Mendengar cerita Delfi semuanya jadi terkejut. Terlebih lagi Safira. Jadi selama ini dia sudah menjadi target utama pembunuhan berantai yang dilakukan Delfi.
Kedua mata Safira menghangat hingga bulir bening hangat memenuhi pelupuk matanya. Dia tidak menyangka kalau orang orang disekitarnya yang sangat dia percayai merupakan musuh dalam selimut.
Leana menatap Safira tajam sambil geleng geleng kepala berharap Safira tidak semudah itu percaya pada cerita karangan Delfi.
Kevin justru menundukkan kepalanya, dia tidak bisa berbohong lagi. Dia memang telah berkhianat dan melakukan kesalahan besar pada teman teman nya terutama Safira, Leana, dan Jovan.
Leana bingung. Merasa di bohongi juga oleh semuanya. Jadi selama ini, papah, mamah, mereka adalah otak dibalik meninggalnya kedua orang tua Safira dan Delfi serta mengintimidasi ayahnya Kevin.
Mereka merenggut kebahagiaan Delfi sejak kecil lalu memperalat anak dibawah umur untuk dijadikan pembunuh bayaran yang selamanya akan mengabdi pada Brian dan Jessi.
Lalu, merenggut nyawa kedua orangtua Safira dan menciptakan trauma dalam diri gadis itu. Lebih parahnya lagi, Brian dan Jessi juga ingin menyerahkan puteri mereka pada seorang pembunuh seperti Delfi. Dan lebih-lebih parahnya lagi, Kevin yang merupakan sahabat baiknya sejak SMP ikut ikutan menjadi pembunuh lalu membunuh teman-teman nya sendiri.
Dimana letak keadilan pada mereka semua.
"Ra... Gue—"
"DIAM!" Safira berteriak. Air matanya jatuh berlinang. Safira menjauh dengan cara menyeret tubuhnya sendiri. Traumanya kembali lagi. Ketakutan dan gemetaran.
"Hiks... Gue minta maaf, Ra. Plis, jangan dengerin orang itu. Dia pasti bohong!" Kata Leana. Dirinya menangis ditempat.
"Ra, gue juga minta maaf." Lirih Kevin mulai bersuara.
"KALIAN SEMUA DIAM!!" Teriak Safira lagi.
"Oke, Ra. Lo pasti kaget dan kecewa! Tapi lo ngga bisa salahin siapa siapa disini! Lo mau salahin gue?? Ngga papa. Mungkin gue biang keroknya disini. Gue pemicu nya! Gue!" Leana berdiri didepan mereka semua dan mulai berteriak.
Safira masih tak mau menatap Leana atau siapapun.
"Ngga usah merasa paling tersakiti deh lo!" Air mata leana kembali jatuh. Dadanya bergemuruh. Kevin bangkit kemudian mendekati Leana untuk menenangkannya.
"Leana, tenangkan diri lo!"
"Ngga! Lihat aja dia!" Leana menunjuk-nunjuk pada Safira. "Lo lihat dia, kev! Merasa dirinya paling tersakiti! Lo ngga lihat gue? Bukan cuma lo yang tersakiti, anjing! Gue dibohongin sama orang tua gue sendiri! Gue mau di jual sama mereka ke pembunuh bayaran, bahkan sahabat gue sejak SMP juga mau nyakitin gue! Gue ngga tau harus apa. Gue juga sakit dan kecewa!"
Jovan berdiri menjauh dari Safira dan mendekati Leana untuk menenangkannya.
Delfi tersenyum penuh kemenangan. Dia suka pertengkaran. Bagus, bagus.
"Lo sadar ngga ngomong kayak begitu!" Safira mencoba berdiri dan balas menatap Leana yang kesetanan.
"Munafik!" Maki Safira.
"Pantes aja Naura udah ingetin gue diawal supaya ngga berteman sama lo! Lo itu munafik!" Timpal Safira.
Jovan beralih ke Safira untuk menenangkannya. Disini tidak boleh ada pertengkaran, mereka harus kompak untuk melawan Delfi. Bukannya malah bertengkar begini.
"Orang tua gue di bunuh sama bokap Lo! Dan sekarang kalian juga incar nyawa gue dan Abang gue! Lo nanya siapa yang paling sakit?" Safira berontak dari pelukan Jovan dan ingin sekali meninju wajah Leana.
