He's the Demon

127 5 0
                                        

Jovan dan Leana memandang dua orang yang sedang pegangan tangan di situasi seperti ini. 

"Lo naksir Fira, Kev?" Alis mata Jovan terangkat sebelah. "Gue lihat-lihat tuh tangan ngga lepas-lepas." ceplosnya.

Safira buru-buru menarik tangannya sendiri, ini bukan saat yang tepat untuk salah tingkah atau semacamnya. Tapi memang, tidak bisa Safira pungkiri dia sedikit tersipu. Sedikit. Yeah.

Leana tiba-tiba berdiri di tengah-tengah Safira dan Kevin, memecah fokus mereka yang sempat teralihkan. Gadis itu menatap Kevin terlebih dahulu. "Kev, ayo."

Hal yang mereka lakukan pertama adalah,

Mendatangi sumber suara teriakan tersebut dengan hati-hati. Masih dengan posisi berjalan seperti antrean panjang, Leana di belakang Kevin dan Safira di belakang Jovan, mencengkram kaos cowok itu.

Mereka sampai di ujung koridor, kepala mereka kompak melongok ke satu arah. Ada ruangan lain yang gelap, penuh darah, dan bau. Bentuknya seperti toilet. Bagian depannya darah berceceran, mereka tidak tahu sebanyak apa genangan darah yang masih keluar dari bagian bawah pintu tersebut.

Tidak tahu berapa kali mereka menenggak ludah setelah sayup-sayup terdengar erangan dan tangisan. Leana mulai ragu, cengkraman tangannya di baju Kevin semakin kuat, dia bahkan menariknya juga.

"Kalian ngga usah ikut, okay? Ini lebih berbahaya dari yang kita duga."

"Van, bilangin." Kevin melotot pada Jovan. Temannya itu hanya menarik nafas panjang lalu memandang dua gadis tersebut dan dengan pelan dia bilang, "Ra, Lea,"

"Van, gue tetep mau ikut." Safira menatap Jovan dalam-dalam. Dia benar-benar tidak mau ketinggalan. "Lo sakit, Ra. Heh, jantung lo itu lagi kritis, lo mau kalau tiba-tiba tuh penjahat muncul lagi dan lo mati di sini gara-gara serangan jantung?"

Safira berjengit.

"Udahlah, jangan ambil risiko! Biar gue sama Kevin yang urus ini." Tegas Jovan.

"Ra, Jovan bener," Kevin menatap Safira lembut, sejurus kemudian dia menatap Leana juga. "Kalian tunggu di sini, jauh-jauh dari toilet itu." Ucap Kevin lagi.

Safira mengangguk tipis, ragu. Memangnya apa yang mau dia lihat di dalam? Jovan benar, dia bisa mati hanya dalam satu detik jika penjahat itu muncul lagi.

Jovan melirik kevin lalu mengangguk yakin.

"SIALAN! KAMPRET! BAJINGAN! ANJING!!!!"

Kevin juga Jovan kembali berhenti, suara yang mereka dengar tadi datang dari dalam toilet.

"MANUSIA BANGSAT."                     "TOLONGGG!"

"                     "TOLONGGG!"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Keduanya tidak bicara. Diam saja sambil memasang telinga baik-baik, kembali mereka dengar suara teriakan yang sama. Sekarang semakin jelas, itu memang suara Kak Seno.

KriminalCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang