Keempat remaja itu berlari sekencang yang mereka bisa, beberapa dari mereka sesekali menoleh ke belakang untuk melihat sosok Delfi yang semakin dekat karena dia mengejar. Pergelangan tangan Safira yang dipegang Kevin mulai terasa sakit, gadis itu menarik napas dalam-dalam sambil terus berlari. Dia mulai merasakan jantungnya kembali berulah dan dia tidak bisa lanjut berlari. Sementara itu, Leana tertinggal cukup jauh di belakang. Dia bukan atlet lari atau pernah berlari dari kejaran psycopat sebelumnya, jadi, ini agak menyiksanya. Dia masih mencoba sebisanya meski rasanya Delfi sudah nyaris dekat.
"LEANA! Stop!" Teriak Delfi. Dia berada tepat di belakang gadis itu, Leana dapat merasakan langkah kaki Delfi mulai melambat.
Leana memejamkan mata. Nafasnya tak karuan, kecepatannya masih stabil.
"Hei." Delfi memutar tubuh gadis itu dalam sekali percobaan. Dia tertangkap. Kini Leana dalam rengkuhan Delfi yang juga hampir kehabisan napas. Delfi menatapnya tajam, dia tidak akan melepaskannya begitu saja meski Leana memohon padanya. "Lea,"
Leana berteriak kencang, poninya yang tebal itu menghalangi wajahnya karena dia berontak. "Lepasin gue!"
"Hei, tenang. Gue ngga akan nyakitin lo." Kata Delfi.
Leana melirik sekilas ke arah kapak yang masih Delfi pegang. Dadanya naik turun, dia kembali memberontak namun Delfi masih bisa menahannya agar tidak lepas. Kapak itu jatuh ke lantai, Delfi menggunakan seluruh tubuhnya untuk memeluk Leana, tangannya dia letakkan di leher gadis itu sehingga Leana tidak bisa macam-macam kalau tidak dia bisa di cekik hingga mati.
"Be a good girl, Lea. Jangan banyak gerak." Bisiknya, "Gue ngga akan nyakitin lo."
"Lepas! Lo jahat! Lo bunuh semua temen-temen kita! Earrgh!"
Delfi mendekatkan bibirnya ke telinga gadis itu. "Kalau lo ngga ngelawan kayak mereka, lo bakalan selamat. Okay?" ucapnya.
Sekali lagi Leana memberontak namun hentakan Delfi membuat tubuhnya lemas seketika.
Masih di tempat yang sama, ketiga remaja yang masih mencari-cari jalan keluar memperjuangkan keselamatan diri masing-masing mulai kelelahan. Safira terlihat semakin pucat, dia menyentuh dadanya dengan dramatis.
"Ra! Hei!" Kevin menahan tubuh gadis itu yang nyaris tumbang. Kevin menyentuh kepala Safira dengan hati-hati, matanya menyusuri wajah gadis itu yang semakin mengkhawatirkan. Jovan berhenti berlari, menoleh ke belakang untuk melihat teman-temannya.
"Ra! Bertahan gue mohon. Gue akan bawa lo keluar dari sini," Kevin terlihat sangat panik, tanpa pikir panjang dia bangkit sambil menggendong badan Safira. Jovan yang melihat itu lekas ikut membantu.
"Mau kemana sih kalian?"
Ketiganya terhenti. Mereka kompak menoleh ke belakang. Mereka bisa melihat Leana berada dalam rengkuhan kuat Delfi. Tangan besar milik Delfi mengunci lehernya, membuat kepala gadis itu terangkat ke atas, matanya menatap dengan pasrah, seolah tak ada jalan keluar. Di tangan kirinya, sebuah kapak berkilat dingin, menjadi simbol ancaman nyata yang tak bisa diabaikan.
Delfi berdiri tegak, aura dominasi dan ketegangan menyelimuti ruang. Leana, yang kini dijadikan sandera, tampak rapuh dalam genggamannya, kontras dengan kekuatan dan kontrol penuh yang ditunjukkan Delfi.
Jovan berdecak sebal. Dia menatap nyalang pada Delfi.
Di sana, Delfi tersenyum sumringah, senyuman yang menunjukkan kejahatan dan kekejaman. "Hm? Mau kemana, buru-buru amat. Kalian nyaris lupa sama Leana." Katanya. "Teman macam apa itu?"
"Lepasin dia, bangsat."
"Kasih tahu gue gimana caranya lepasin." Senyuman jahat itu hilang diganti dengan sorot mata tajam dan rahang yang menegas sempurna di wajah Delfi, "Jawab dong. Ayo kasih tahu gue caranya gimana!" Teriak Delfi.
