Shaka telah berhasil menggendong Safira turun. Sepertinya lantai yang mereka pijak merupakan ruang tengah pertama. Shaka terus melihat ke belakang agar dia tahu adiknya masih mampu bertahan atau tidak. Sepertinya adiknya tidak mampu lagi bertahan lebih lama, maka Shaka harus bergerak lebih cepat agar Safira mendapat pertolongan pertama.
"Ra, bertahan.."
Di tempat lain, Kael dan anak anak hampir sampai di lokasi. Mereka masih saja panik hingga Kael berhasil memarkirkan mobilnya di depan bangunan yang mereka rasa adalah lokasi sebenarnya.
Ketika semuanya sudah keluar dari mobil, mereka menatap bangunan itu dari luar. "Sial, jadi mereka nahan Safira dan Shaka disini?" Cicit Briella.
Briella melangkah terburu-buru dan Kael menjegal langkahnya agar dia berhenti.
"Jangan buru-buru, tetap waspada. Kita ngga tahu siapa yang kita hadapi nanti di dalam." Ujar Kael. Dia benar.
"El, terus apa yang harus kita lakukan?" Kevay bertanya.
Belum sempat Kael menjawab Shannon sudah maju selangkah di depan kevay. "Apalagi kalau bukan masuk dan keluarin Safira dan juga Shaka." Katanya mantap. Yang lain setuju namun Kael tidak ingin mereka terburu-buru.
"Guys, orang orang yang udah culik Safira dan abangnya bukan orang biasa. Gue pernah dengar dari Safira kalau dulu dia pernah punya sahabat yang ternyata adalah dalang di balik meninggalnya orangtua mereka."
Kevay juga Shannon sama sama kaget mendengarnya. "Te-terus?"
"Kemarin lusa, gue ngga sengaja tabrakan sama cewek di bandara. Barang-barang nya jatuh termasuk dompet lipat punya dia." Kenang Kael.
"Udah ceritanya?" Briella dongkol. "Ngga ada waktu, El." Tambahnya. "Gue masuk sendiri kalau kalian ngga mau."
Lagi lagi Briella di tahan ketika akan memaksa masuk sendirian. Kael bahkan memelototinya agar gadis itu tidak gegabah. "Gue ngga sengaja lihat satu foto yang ikut keluar dari dompetnya. Itu foto Safira yang di beri garis silang dengan tinta merah."
Kevay menutup mulutnya sendiri. "S-serius??"
"Apa jangan-jangan..." Shannon menduga-duga dalam pikirannya.
"Bisa jadi dia yang udah culik Safira! Iya kan???" Timpal Kevay.
"Hiss! Kita bisa pikirin itu nanti, sekarang kita harus masuk buat nyelamatin teman teman kita. Paham?" Kata Briella benar benar sudah habis kesabaran. Tangannya tak lagi di pegang Kael, dia masuk duluan.
"Tenang aja, ambulan dalam perjalanan kesini."
Yang tersisa pun mengikuti Briella masuk ke dalam rumah besar tingkat 5 itu.
***
Kevin masih berusaha keluar dari gudang. Dia menggunakan benda tumpul apapun yang ada di sekitar untuk merusak gagang pintu sehingga dia bisa keluar. Namun, usahanya belum membuahkan hasil meskipun begitu dia tidak kehabisan cara, Kevin menemukan tongkat bisbol. Senyumnya terbit, sembari mengayunkan tongkat itu tinggi-tinggi di atas kepala tiba tiba sebuah suara mengehentikan pergerakannya.
"Kev,"
Itu suara Leana di seberang pintu.
"Kh....LEANA!!"
