TERJEBAK

155 10 0
                                        


"Kita menghindar dulu!" Interupsi Ningsih.

Masih di dalam gedung yang sama, Delfi dan sosok ber-hoodie itu masih berkelahi. Keduanya sama sama menerima pukulan yang kuat sehingga beberapakali terlihat sosok tersebut jatuh tersungkur dan menerima pukulan lalu tendangan bertubi-tubi sementara Delfi beberapakali mendapatkan luka yang sama. Leana bersembunyi di belakang Delfi dengan penuh was was, takut jika sosok itu mengincar dirinya ataupun terkena imbas dari perkelahian dua orang tersebut.

"Haaarghh!"

Delfi memukul tepat di perut sosok tersebut, saat dia meringkih dan tengah kesakitan Delfi menyikuti punggungnya kuat kuat. Leana terkesiap melihat luka yang Delfi dapat, luka sobekan di keningnya mengeluarkan darah kental yang mengalir hingga mengenai alis matanya. Sosok itu terjatuh di lantai sambil meraba perut nya sementara Delfi mengangkat sebuah meja kayu setinggi mungkin lalu membantingnya tepat di atas punggung pria itu hingga meja itu hancur terpisah pisah, beberapa paku karat menancap dari luar baju sosok itu. Leana tertohok, dia menutup mulutnya dengan tangan ketika melihat kejadian tersebut.

Delfi menoleh pada Leana yang masih berdiri di belakangnya, dada Delfi naik turun, gebu nafasnya membuatnya sesak. Darah di setiap sudut tertentu wajahnya membuat Leana berjengit ngilu.

"Lea," Delfi menyentuh kedua sisi wajah Leana membuat perempuan itu cukup kaget, tangan kotornya menyentuh kulit dan rasanya sangat aneh. Leana gemetaran, dia takut, bahunya bergetar ingin menangis, raut wajahnya menggambarkan ketakutan dan Delfi tidak ingin gadis itu berada dalam situasi ini.

"Lea lihat aku, hei." Delfi memelankan suaranya, dia memaksa agar Leana menatapnya saat gadis itu melihat sosok yang tadinya sudah kalah itu mulai bergerak lagi.

"Lea, kita harus pergi dari sini, kita sembunyi aja dulu."

"Del.... Delfi...dia bangun.."

Delfi menarik lengan Leana dan segera berlari kabur dari sana. Sosok ber-hoodie itu bangkit kembali meski keadaanya hampir mampus, dia berdiri, melihat ke arah mana targetnya kabur. Masker hitam yang menutupi sebagian wajahnya itu membuat sorot matanya terlihat sangat tajam.

Dia mengejar mereka.

Delfi dan Leana sudah  lari cukup jauh, menyusuri tiap lorong panjang dan beberapa tangga yang ada. Melirik sana sini untuk mencari tempat sembunyi lalu keduanya menemukan sebuah toilet perempuan. Mereka  masuk kesana lalu mengunci pintunya dari dalam. Untuk saat ini toilet kumuh dan kotor ini harusnya menjadi tempat persembunyian yang aman.

Leana bersandar di tembok yang penuh kerak, membandel, dan betah di sana bertahun tahun. Perempuan itu menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan nya kembali. Kepalanya mendongak lalu merunduk lagi, terlihat sangat frustrasi dan lelah. Delfi ambruk di lantai, dia pun sama mengontrol pernapasan sebaik mungkin. Leana  membenamkan wajahnya dalam kedua lututnya, menangis di sana sambil memeluk lututnya. Tubuhnya basah oleh keringat, seragam putihnya penuh dengan noda hitam, coklat, penuh debu, akibat jatuh di lantai yang kotor dan di penuhi kotoran burung.

"Kita.... Udah aman, kan? Del?" ujar Leana dengan dada yang sesak.

Delfi menatapnya "Untuk sekarang kayaknya udah aman, Le. Kamu jangan pernah keluar dari toilet, ya! Aku mau periksa keadaan di luar," kata Delfi kemudian bangkit dan berdiri.

Dia tidak capek apa? Leana saja capek melihatnya bertarung melawan sosok itu.

Leana menahan tangannya "lo mau ninggalin gue sendirian disini?? Gue ga mau," Yang benar saja, Leana tidak ingin sendirian.

"Dengar, Le. Aku ngga akan lama, aku bakal balik lagi buat kamu. Janji!"

Leana menggeleng sambil menahan sebelah tangan Delfi dengan kedua tangannya, persis seperti balita yang tidak mau ditinggal ibunya di taman.

KriminalTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang